Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #35

Bab 35: Hah. . . Pengkhianatan Perusahaan?!

Seorang sekretaris cantik duduk manis di depan meja oval. Jariku terhenti sejenak saat asam lambungku mengetuk perutnya. Tahan Sophia! Sebentar lagi… rapat berakhir.

Tuan Liem duduk di sampingku mendiskusikan perencanaan periklanan dengan Ibu Herni yang berdiri di depan.

Jariku terus mengetik dan mengetik, mendokumentasikan proses rapat. Setelah perjuangan panjang yang menguras mental dan energi, akhirnya–

“Selesai,” tanganku menyeka dahiku.

Punggungku bersandar di bantalan kursi staff saat para karyawan melewatiku satu per satu. Mereka melangkah menuju pintu keluar.

Aku menatap ke depan. Tuan Liem berdiri sambil memegang dagunya di depan layar laptop merah. Di kanannya, Bu Herni berdiri sambil menjelaskan rencana produksi iklannya.

Aku menutup layar laptop merah muda sambil menatap mereka. “Tuan Liem…” suaraku lembut.

Tuan Liem berdiri tegak, menatapku. “Jangan menungguku, Nona.”

Aku berdiri sambil mengeser kursi ke belakang. “Tuan… Anda tidak makan siang?”

“Tidak,” Tuan Liem menggeleng. “Aku masih punya banyak hal yang perlu didiskusikan bersama Ibu Herni.”

Bu Herni mengangguk. “Nikmati waktu istirahatmu, Nona! Aku akan menanti audisimu.”

“Aku akan mempersiapkan diri, Bu,” aku mengangguk ringan. “Terima kasih, Tuan.”

Aku mengambil ransel di bawah meja dan memasukkan laptop ke dalam tas. Tanganku memegang tali ransel. Kakiku berjalan perlahan menuju pintu.

“Nona Sophia…” Tuan Liem memanggilku saat aku memegang ganggang pintu.

Aku menoleh ke belakang. “Ada apa, Tuan?”

Tuan Liem tersenyum ramah, rambut hitamnya berkilau di bawah cahaya lampu. “Aku sudah memanggil pengacara untuk mengurus kasusmu. Kamu tidak perlu khawatir. Pak Tua itu akan diadili.”

Aku berbalik sambil menyentuh dadaku. Kehangatan menyebar di hatiku. Tuan Liem… Anda terlalu baik.

“Terima kasih banyak, Tuan,“ aku menunduk sejenak. “Maaf merepotkan Anda.”

Tuan Liem merentangkan telapak tangannya. “Tidak perlu sungkan. Nona bisa mengandalkanku kapan saja.”

Ibu Herni berdiri sambil menyilangkan kedua lengannya. “Tuan Liem benar, Nona. Perusahaan punya kewajiban melindungi karyawannya. Kamu tidak perlu sungkan. Terlebih lagi–”

Matanya menyipit, jarinya membetulkan kaca matanya.“....di luar sana, banyak pria mata keranjang. Nona harus lebih menjaga diri.”

Aku menunduk sejenak sambil menyandarkan kedua telapak tanganku di bawah perutku. “Terima kasih atas nasihat Anda. Tuan Liem… Bu Herni… saya permisi.”

“Sama-sama, Nona,” Tuan Liem dan Bu Herni mengangguk bersamaan.

Pintu berderit, aku menutup pintu. Bibirku tersenyum tipis. Bu Herni cukup cerewet tapi dia peduli terhadapku. Sedangkan Tuan Liem… dia adalah malaikat penolongku.

Aku melangkah di koridor sambil menyapa para karyawan yang berpapasan denganku. Hari pertamaku di kantor setelah demam sungguh indah. Apa yang lebih baik daripada diperhatikan bosmu dan seniormu?

Lihat selengkapnya