Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #36

Bab 36: Makan Siang Bersama Sahabatku

Aku duduk di depan meja bundar bernomer 19. Lenganku bersandar di meja bundar, aku menatap jendela. Burung-burung walet menari-nari di langit biru berawan putih.

Nafasku berhembus. Hariku yang indah sekali lagi dirusak kelakuan konyol Kakak.

Monster hijau itu terus hadir di mana saja bahkan tanpa menampakkan batang hidungnya: membawa wanita SKSD ke rumah, menyuruh gadis origami menyebarkan brosur di lampu merah… dan sekarang pria berwajah mirip hiu memulung di kantorku.

Dahiku mengernyit. Kakak idiot… berhentilah mempermalukanku! Tidak tahukah kamu? Adik cantik ini sedang bekerja keras untuk kesejahteraan keluarga kita.

Suara gelas berdenting. “Sophia… jangan melamun,” suara manis memanggilku.

Aku menoleh. Cintia duduk di depanku sambil meletakkan dua gelas jus jeruk di meja bundar.

“Ada apa? Kenapa kamu terlihat kesal?” dia menyerahkan segelas jus jeruk. “Minumlah!”

“Terima kasih,” aku menggigit bibir gelas.

Aroma jerus mengelitik penciumanku, sensasi manis sekaligus asam bercampur dingin merayap di lidah dan tenggorakanku.

“Cintia… bantu aku,” aku kembali meletakan gelas di meja. “Kakakku berulah lagi.”

Cintia duduk sambil memegang gelasnya. “Apa yang dilakukan Mas Bram kali ini?” suaranya lembut.

“Kakakku… dia terus mempermalukanku,” tanganku meremas gelasku. “Siang ini, aku memergoki murid wibunya memulung di kantor kita.”

“Murid Mas Bram membersihkan kantor kita?!” pipinya sedikit merona. “Keren… maksudku Kakakmu benar-benar memperhatikanmu”

“Terkadang aku juga tidak tahu… kenapa Kakak selalu muncul di sekitarku,” bibirku melengkung turun. “Entah muridnya maupun dirinya bahkan di sosmed, aku terus direpotkan.”

“Aku iri…. maksudku Kakakmu terlalu protektif,” bibirnya tersenyum tipis. “Apa yang bisa aku bantu?”

Cintia mendekatkan gelas ke bibirnya, lalu meminum jus jeruknya.

“Nikahilah, Kakakku secepatnya. Aku harus membebaskannya dari perwibuan.”

Jus jeruk menyembur, Cintia batuk-batuk. Kemeja putihnya sedikit basah.

“Ini…” aku menyerahkan tisu. Cintia menyeka bibirnya dengan tisu putih.

“Jangan mengagetkanku,” pipinya mengembung.

Aku terkekeh sambil menutup mulutku dengan telapak tangan. Istri kecil… kamu terlalu imut.

“Maaf, tapi kamu sudah janji,” bibirku menyeringai. “Kamu harus menyukseskan proyek Pembebasan Wibu. Ini juga demi masa depanmu dan Kakakku.”

Cintia duduk membisu. Pipinya semerah lobster rebus bintang lima. “Aku akan berusaha terbaik,” suaranya lirih.

“Bagus,” aku kembali meminum jus jeruk.

Satu target sudah diamankan, aku tinggal menangkap monster hijau itu. Jika perlu, aku akan menyeret mereka berdua ke KUA. Kakak… tunggulah!

Suara bel berdering, “Pesanan nomer 19 sudah siap!“ Ibu Kantin memanggil.

Cintia berdiri sambil menggeser kursinya. “Aku mengambil pesanan dulu. Kamu yakin… tidak mau pesan?”

“Tidak,” aku menggeleng. “Kakak berjanji akan mengirim makan siangku. Semoga Kakak tidak mengacaukannya kali ini.”

“Aku pergi dulu…” Cintia melangkah menuju meja pesanan.

Aku menyandarkan punggungku di bantalan kursi sambil menatap langit ruangan. Dadaku mengempis. Tidak ada gunanya marah di sini.

Ranselku bersandar di bawah meja bundar. Aku mengambil ponsel di sakunya.

Ponselku menyala, aku membuka aplikasi WA. Jariku mengetik, “Mas Bram… kamu tidak lupa, ‘kan?” “...” Mas Bram sedang mengetik.

“Pesananmu sedang diantar, dek. Tunggu sebentar…” dikirim Mas Bram 12:25.

“Kenapa Kakak menyuruh muridmu memulung di kantorku?” dikirim 12:26.

“...” Mas Bram sedang mengetik.

Lihat selengkapnya