Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #37

Bab 37: Malam Sabtu!

Motor matic merah muda melaju di jalan beraspal, melewati tiang-tiang lampu lampu yang bergerak mendekat lalu menjauhi pandanganku. Sinar putih menerangi jalanan saat mobil sedan merah dan motor bebek biru melewatiku.

Bau apek menusuk penciumanku, keringat membasahi blus satin di punggungku. Aku memegang stang sambil menoleh speedometer. Motorku melaju secepat 60 km/jam.

Aku menghirup udara malam. Sensasi dingin sekaligus asap mengelitik hidungku.

“Capek,” gumamku.

Mataku menatap ke depan. Jalan lebih senggang, hanya sebuah mobil serbagunaputih yang melaju di depanku.

Sebuah kios bercat kuning berdiri di pinggir jalan, aku memperlambat kendaraanku sambil menepi ke kanan.

Sepatu hakku menginjak tanah berkerikil saat motorku berhenti di depan kios. Aku melepaskan helm merah muda sambil mengibaskan rambut pirangku, membiarkannya tergerai di punggungku.

Aku mendekati kios itu, aroma mentega dan gula tercium di penciumanku. Aku berdiri sambil menyandarkan lenganku di etalase kaca.

Seorang bapak berkaos loreng merah putih berdiri di dalam kios, membelakangiku.

“Satu martabak manis rasa cokelat, pak,” jariku menghentak permukaan kaca.

Dia berbalik, menatapku. “Tunggu sebentar, Nona.”

“Baik, pak,” aku mengangguk.

Dia memakai sarung tangan plastik sebelum menggulung adonan tepung di atas meja basah.

Mataku melirik etalase. Ratusan kotak kuning berjejer rapi.

Jariku menunjuk ke bawah kaca. “Pesanan siapa, pak?”

Dia menghentikan pekerjaan. “Pesanan dari kantor depan, Nona,” jarinya berlumuran tepung menunjuk ke depan.

Aku menoleh ke belakang sejenak. Sebuah gedung cokelat bertingkat berdiri di seberang jalan. Di atapnya, papan nama bertulis “Kepolisian” bersinar kekuningan.

“Oh,” aku kembali menyandarkan lenganku di etalase. “Laris ya, pak.”

“Alhamdulillah,” kumisnya bergetar saat dia meremas adonan. “Mereka mulai memborong daganganku setelah insiden percobaan penculikan.”

“Penculikan…” nafasku tertahan.

Aku duduk di kursi kayu sambil menyilangkan betisku. Tanganku memegang tumitku.

Aku ingat polisi sempat salah paham menangkap Pak Arjo karena dia menghajar penculik.

“Aku sempat lihat Anda viral di TV,” bibirku tersenyum tipis. “Bagaimana nasib penjahat itu, Pak?”

“Dia sudah ditahan, Nona. Kata polisi, dia terpaksa menculik untuk membiayai istrinya yang sakit,” dia terdiam sejenak sambil meremas adonannya. “Jancok tenan! Beraninya dia menculik di depan kiosku. Apapun alasannya, kejahatan tetap kejahatan.”

“Anda hebat, pak,” suaraku lirih.

Nafasku tersenggal, aku memegang kepalaku saat suara pria kasar kembali terbesit di ingatanku, “GADIS KECIL… MASUKLAH!”

“Nona… wajahmu pucat,” Pak Arjo memanggilku. “Aku panggil ambulan ya?!”

Aku menggeleng sambil mengusap dadaku. “Tidak apa-apa, pak.”

“Bilang saja Kalau Nona butuh bantuan,” dia menuangkan adonan ke loyang berminyak.

Suara goreng bergema diikuti aroma smoky sekaligus manis tercium di udara.

“Terima kasih atas perhatianmu, pak,” aku tersenyum ramah.

Aku duduk terdiam saat Pak Arjo menuangkan cokelat cair ke adonan martabak yang menguning di loyang yang berdesis.

“Nona… kamu beruntung memiliki Kakak perhatian sebaik Bram,” suaranya memecah lamunanku.

Lihat selengkapnya