Rambut pirang basah tergerai di depan meja rias perlahan mengering saat hair dryer berdesis. Aku menyisir rambutku sambil mengeringkannya.
Cermin rias menampilkan seorang wanita berpiyama putih duduk manis, menyilangkan kakinya. Aroma wangi mawar menyerbak.
Aku berdiri, membusungkan dadaku sambil menyilangkan kedua lengan. “Josh,” gumamku. "Adik cantik ini siap belajar akting."
Kakiku menginjak di lantai keramik. Pintu berderit saat aku memutar pegangan pintu. Aku berjalan menuju ruang tamu.
Pintu ditutup kembali, aku menoleh ke tengah ruangan. Pria berpakaian hijau ketat duduk di sofa. Pipinya pucat, matanya terpejam, mulutnya terbuka lebar.
Aku menutup bibir dengan telapak tanganku, menahan tawa. Kakak chuni… sepertinya kamu menikmati martabak manis ekstra garam. Hehe.
Aku berjalan perlahan, berhenti di antara sofa dan TV. Sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga, aku menatap Kakak.
“Mas Bram…” suaraku manis.
Kakak duduk diam. Aku memiringkan kepalaku. Aneh… Kakak tidak merespon. Kakak tidur?
“Bangun, mas!” suaraku meninggi.
Hening. Kakak tidak merespon.
Aku menepuk bahunya, “Kakak… ajari aku berakting.”
Bahunya lemas, lengannya terkulai. Kepala Kakak bergeser.
Mataku melebar. Kakak sakit?! Aku menggeleng. Tidak… tidak mungkin. Kakak pasti bercanda, ‘kan?
“Kakak… jangan main-main,” aku mengguncang bahunya. “Bangun! Bantu aku!”
Tubuhnya berguncang, tapi matanya terpejam. Mulutnya tetap membisu.
Aku berhenti mengguncangnya, kakiku mundur selangkah. Jariku gemeter saat Kakak tiba-tiba jatuh ke lantai.
Suara tumbukan terdengar, aku memeluknya. Dagunya bersandar di bahuku. Nafasnya pendek, berhembus di leherku.
Tubuhku membeku. Kakak pingsan?! Kenapa?
Lenganku memeluk punggungnya, aku menoleh ke belakang menatap meja tamu. Sebuah kotak kuning tergeletak di atas permukaan meja, tutupnya terbuka, menampakkan remah-remah kacang dan cokelat.
Aku menelan ludahku dan bergumam, “Keracunan…”
Bahuku gemetar saat nafas Kakak berhembus lemah di leherku, terasa semakin pelan seperti benang tipis.
“TIDAK!” teriakku, aku memeluk punggungnya erat. “KAKAK… BANGUN!”
Kakak berbaring lemah di pelukanku. Pandanganku kabur, mataku basah. “JANGAN TINGGALKAN AKU! HIC… HIC…”
Mataku terpejam, aku menggigit bibir bawahku. Sensasi basah mengalir di pipiku. Maaf… maafkan aku… ini salahku.
Nafasku tertahan ketika aku membaringkan tubunya di sofa. Aku menepuk pipiku. Jangan panik, Sophia! Ambulan… aku harus menyelamatkan Kakak.
Aku segera merogoh saku celana piyamaku. Jariku tidak berhenti gemetar ketika aku mengetuk nomer darurat.
Aku berdiri mematung sambil menatap layar ponsel. “Cepat angkat!” gigiku menggertak.
“Sophia…” suara lirih memanggilku.