Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #39

Bab 39: Apa Susahnya Akting?!

Sinar mentari menerobos ke ruang tamu, menyinari wanita pirang berkaos merah muda yang duduk di sofa.

Kakak berdiri di ujung sofa, memijat bahuku. “Jangan marah, dek.”

Pipiku mengembung. “Aku tidak marah,” suaraku mendengung.

“Keterlaluan,” aku menggigit bibirku.

“Kakak tidak bermaksud buruk, dek,” suaranya melembut. “Kamu meminta diajari akting,’kan? Kakak udah berusaha lho.”

“Kakak jahat,” aku memalingkan wajahku. “Kenapa kamu pura-pura sekarat?”

Tanganku bersandar di tumitku, meremas kain celana kulot, “Papa dan Mama sudah pergi… jika Kakak juga pergi, aku… aku–” suaraku serak.

Sebuah telapak tangan menepuk punggung tanganku. Aku mendongak, seorang pria tampan berpakaian kaos putih berlutut di depanku.

Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis. “Jangan menangis, dek,” tangannya memegang erat tanganku. “Kakak selalu bersamamu.”

“Aku tidak menangis,” jariku menyeka sudut mataku. “Janji tidak meninggalkanku?!” aku mengulurkan jari kelingking.

“Janji,” Kakak menautkan jarinya ke jariku. “Kakak tidak akan mengingkari pesan Mama.”

“Kalau begitu… buktikan?!” aku mengangguk pelan.

“Kakak harus bagaimana?”

“Pertama, buatkan aku mie ayam jumbo dan es teh. Kedua, bawakan aku sebaskom air hangat dan lilin aromatik. Terakhir, Pijat kakiku..”

“Sekarang, dek?”

“BESOK!” Gigiku menggertak, “Sekarang?!”

Kakak berdiri membisu, bibirnya mengerut.

“Kenapa diam?”

Kakak mengusap leher belakangnya. “Ano, Kakak sebenarnya tidak terlalu pandai memijat. Aku panggil Mbak Ayu ya?”

“JANGAN!” teriakku.

Kakak idiot… jangan membawa wanita SKSD ke sini! Aku tidak ingin dia menjadi Kakak iparku. Hanya Cintia yang ku restui.

Kakak mengangkat kedua telapak tangannya. “Aku mengerti. Tunggu sebentar.”

Kakak berbalik dan melangkah cepat. Bibirku melengkung ke atas, membentuk seringai.

Kakak bodoh… jangan kira cuma kamu yang bisa bermain akting.

Tanganku mengempal. Aku juga bisa mempermainkanmu.

Aku mengambil remot di atas sofa dan menekan tombol merah.

Layar LCD menyala, menampilkan pemain berseragam jingga menggiring bola, melewati pemain berseragam biru di lapangan berumput hijau.

“Belanda melawan Japan?” nafasku berhembus pelan.

Aku menggeleng sambil menekan tombol merah lagi.

Sayang sekali, timnas Indo tidak lolos. No timnas, no party.

Aku mengambil ponsel di atas meja. Jariku menggulirkan layarnya, dan menekan ikon browser.

Inspirasi… aku butuh inspirasi untuk audisi iklan.

Aroma kaldu tercium dari ruangan sebelah. Suara mangkuk dan logam berdenting.

Bibirku melengkung ke atas. Kakak… tatakae! Berjuanglah untuk menyenangkan adik cantik ini.

Aku menyilangkan kakiku sambil menyandarkan punggungku di bantalan sofa. Nyaman sekali, bersantai di akhir pekan.

Mataku menatap layar ponsel, menjelajahi situs novel lokal. Aku menekan cover novel berilustrasi gadis berpakaian lusuh yang menangis di depan batu nisan.

“Terlalu tragis,” gumamku sambil menghembuskan nafas.

Kenapa author suka sekali menyiksa tokoh utama dengan tragedi melodrama? Aku datang mencari hiburan ringan.

Lihat selengkapnya