Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #40

Bab 40: Perjalanan Menuju Audisi Iklan

Sinar mentari menerobos jendela saat seorang wanita duduk manis di depan meja rias, memantulkan wanita cantik di permukaan kaca rias. Rambut pirangnya beraroma mawar, berkilau terkena sinar putih. Kulitnya putih cerah seperti bangsawan eropa.

Pakaian blus satin putih kontras dengan rok hitam panjangnya menjuntai menyentuh sepatu haknya, menciptakan kesan wanita elegan. Siapa wanita cantik itu? Itu aku.

Tak terasa hampir dua minggu sudah berlalu semenjak aku berlatih akting. Kini tiba waktunya aku memamerkan hasil kerja kerasku di depan para juri.

Setelah mengirim berkas pendaftaran dan tes tertulis, akhirnya aku terpilih menjadi salah satu dari 4 kandidat pameran wanita.

Aku mengoreskan liptik ke bibirku yang semerah delima. Tuan Liem bilang audisi iklan ini akan mengambil peran menjadi seorang ibu.

Aku harus berterima kasih kepada Marry dan Caelan yang telah memberikanku inspirasi untuk tampil menjadi pemeran ibu muda yang baik hati.

Aku meletakkan liptik di atas meja sambil menghela nafas. Hmm… terakhir aku mungkin harus berterima kasih kepada Mas Bram. Dia menyebalkan, aku telah berulang terkena prank selama diajari akting olehnya. Tapi aku harus akui, Kakak memang totalitas dalam mengajariku.

Dadaku mengempis. Itu masih terlalu dini untuk berterima kasih. Aku harus memenangkan audisi dulu. Apalagi kalau bukan karena Kakak berhutang ke wanita SKSD itu, aku tidak mau sudi mengikuti audisi ini.

Kakak harusnya berterima kasih kepadaku, karena adik manis ini rela menanggung bebannya. Dimana lagi kau akan menemukan adik perempuan sebaik diriku? Kakak… kamu harus bersyukur.

Sambil mengeser kursi ke belakang, aku berdiri dan mengambil tas selempang yang berbaring di ranjang. Tas selempang disampirkan ke bahuku, aku meninggalkan ruanganku.

Aku menutup kembali pintu kamarku dan menoleh ke tengah ruangan tamu. Aneh, sofa kosong.

“Kakak?” suaraku lirih sambil menoleh ke sekeliling ruangan.

Aku berjalan dan berhenti di depan meja. Sepotong kertas bertinta hitam ditindih botol putih berbaringdi atas meja. Aku mengambil secarik kertas itu. “Maaf, Kakak ada acara besar hari ini, Sophia. Jaga kesehatanmu baik-baik. Jangan lupa minum air putih sebelum audisi. – Mas Bram.”

Sambil memegang botol, senyuman tipis terukir dibibirku. “Kakak bodoh,” gumamku.

Aku segera berjalan menuju garansi rumah. Motor dinyalakan, helm dipasang erat. Waktunya berangkat.

Mentari bersinar hangat menerpa helmku. Udara pagi menyejukkan hidungku. Aku memacu motorku di jalan beraspal. Jalanan sepi, hanya beberapa motor bebek dan mobil yang lalu Lalang. Sambil memegang stangku, aku bersenandung, menikmati udara pagi.

Tiba-tiba motorku bergetar, aku segera memperlambat lajunya dan menepi di pinggir jalan. Mataku terbelalak saat menatap ban depan. “Sial!” aku tak kuasa menahan umpatan, melihat ban motorku bocor.

Aku membuka ponselku dan mengirim pesan kepada Kakak lewat WA. Satu menit… dua menit… dahiku mengernyit. Kakak belum membaca pesanku.

“Kakak idiot… apa yang kau lakukan?” Aku menghela nafas.

Sambil menuntun motorku, aku berjalan di pinggir jalan. Tambal ban… aku harap tidak jauh.

Lima belas menit berlalu... keringat membasahi dahiku, nafasku berat. Tapi tambal ban belum menampakkan tanda hilal. Kenapa ban motorku bocor di hari audisiku? Aku menengok ke arah kaca spion. “Cantik,” gumamku.

Meskipun aku berkeringat, tapi aku terlahir cantik. Aku tidak khawatir terlihat buruk karena aku tidak mengandalkan kosmetik. Tapi aku masih khawatir bau keringat akan merusak penampilanku.

Kepalaku mengeleng sambil mendesah, “lupakan.”

Aku akan menyemprot parfum lagi sebelum audisi dimulai. Syukur, audisi dilangsungkan agak siang, aku bisa lebih santai.

Motor bocor?! Aku sudah mempersiapkannya. Halangan mungkin muncul mendadak, datang lebih awal meminimalisir kemungkinan buruk.

Bibirku melengkung tipis. Sophia… kamu memang gadis pintar.

Mataku menatap ke depan jalan. Mobil-mobil berbaris di kanan jalan, bergerak perlahan. Sementara motor-motor menyelinap di antara celah barisan mobil.

“Macet,” keluhku.

Mataku menyipit menatap ke depan. Kerumunan warga memadati halaman depan kantor polisi. Apa yang mereka lakukan di sana?

“Warga Konohu sekalian….” Tiba-tiba suara pria penuh semangat bergema dari depan kantor polisi.

Nafasku tertahan saat mendengarnya. “Suara ini? Mungkinkah,” aku mengigit bibir bawahku.

Menyusuri trotoar, aku segera mempercepat langkahku sambil menuntun motorku. Di depan gerbang kantor polisi, aku berhenti. Pupil mataku melebar, aku berdiri membeku.

Di depan kerumunan para wibu, seorang pria berkaos hijau ketat berdiri di halaman kantor polisi. Dia memegang mikrofon. Di belakangnya, para remaja chuni berjubah hitam awan, berdiri seolah-olah pengikut setianya.

“Hari ini… aku,” suaranya lantang. “…menuntut keadilan.”

“Adik kecilku telah menanggung trauma selama bertahun-tahun. Para penculik masih berkeliharaan. Aparat masih bungkam.”

Lihat selengkapnya