Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #41

Bab 41: Audisi

Setelah berkendara sekitar 30 menit, kami tiba di perumahan elit. Mobil tuan masuk ke dalam halaman mansion. Sebuah rumah mewah putih bertingkat empat berdiri kokoh di depan taman. Tuan Liem memarkirkan mobilnya di depan air mancur. Dia keluar dari mobil, lalu segera membantuku membuka pintu mobil.

“Terima kasih, Tuan,” kataku ramah sambil mengangguk, keluar dari mobil.

“Tidak usah sungkan, Nona,” Tuan Liem merentangkan lengan kanannya. "Selamat datang di rumahku. Anggap saja rumah sendiri. Aku akan menuntunmu ke ruang audisi.”

“Baik, Tuan,” aku mengangguk dan mengikuti Tuan Liem.

Aku berjalan di belakang Tuan, tapi Tuan Liem memperlambat langkahnya. Dia dan aku menjadi berjalan berdampingan memasuki mansion.

Sepanjang perjalanan, aku menoleh ke kanan ke kiri, menatap sekelilinng rumah. Tapi rumah ini sepi sekali. “Tuan… kemana penghuni rumah lainnya?”

Tuan Liem berhenti melangkah dan menatapku. “Nona… aku tinggal sendiri. Selain aku, hanya ada Pak Rex dan Pak Batista yang menjaga rumahku.”

“Lalu dimana keluargamu, Tuan?”

Tuan Liem mengerutkan bibirnya, “Mereka tinggal di luar kota, Nona.”

“Sayang sekali, rumah sebesar ini sepi.”

“Apa Nona tertarik tinggal di rumah ini?”

Aku mengeleng. “Maaf, Tuan. Aku hanya penasaran saja.”

“Oh, kenapa?” entah kenapa suara Tuan terdengar meninggi.

“Aku punya Kakak laki-laki yang perlu aku rawat, Tuan. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri.”

“Anda memang adik perempuan yang baik, Nona,” Tuan Liem kembali berjalan, membelakangiku. Dia berjalan elegan dengan kedua tangan mengempal.

Setelah itu, tidak ada percakapan di antara kami. Tuan Liem menuntunku naik tangga menuju lantai 3.

Aku berhenti. Tuan Liem berdiri di depan pintu putih. Dia menyisir rambut hitamnya ke belakang. “Nona Sophia… kita sudah tiba. Apa kamu sudah siap?”

Bahuku menegang, namun aku menguatkan tekadku. Setelah menarik nafas, aku menjawab, “aku siap, Tuan.”

Tuan tersenyum ramah. “Rileks, Nona. Audisi tidak sesulit yang Anda kira.”

Dia memegang ganggang pintu, pintu berderit saat terbuka, “Audisi akan dimulai pukul 11.00. Silahkan menikmati suguhan sederhana kami.”

Pintu terbuka, menampilkan ruangan dengan meja makan oval marmer. Aku melangkah dan berhenti di depan kursi. Mataku terbelalak. Tuan Liem menyajikan berbagai hidangan kelas atas: ayam panggang, steak, lalapan, apel dan jus jeruk dan anggur.

Tuan Liem duduk di depanku. “Nona Sophia… silahkan!”

“Terima kasih, Tuan,” aku duduk sambil merapatkan kakiku.

Aku menatap ke depan. Tuan Liem mengambil pisau dan garpu, memotong steak tipis sebelum memakannya perlahan. Gerakannya sungguh elegan, seperti yang diharapkan dari Tuan.

Aku mengerutkan bibirku sambil menyentuh perutku saat menatap ayam panggang di depanku.

“Ada apa, Nona? Apa hidangan ini tidak sesuai seleramu?” tanya Tuan Liem ramah.

Aku menggelengkan sambil tersenyum tipis. “Bukan begitu, Tuan. Hanya saja saya sudah kenyang setelah makan siomay.”

Tuan Liem terdiam sejenak sambil meletakan garpu dan pisaunya di atas piring. “Nona… tidak perlu sungkan. Santai saja. Anda bisa makan dan minum bebas, jangan pedulikan saya.”

Aku mengambil buah apel dan memotongnya. “Baik, tuan.”

Mulutnya mengunyah sepotong apel, lalu meminum jus jeruk. Tuan Liem kembali tersenyum.

“Nona Sophia… mengenai kasus bos Boo corp, aku mendapatkan info dari pengacara, berkas sudah masuk pengadilan. Orang jahat itu akan segera mendekam di jeruji besi.”

“Terima kasih, tuan. Saya sudah banyak merepotkan Anda.”

“Saya tidak keberatan, Nona. Anda bisa merepotkan saya kapan saja–“

Suara ketukan pintu tiba-tiba bergema, aku menoleh ke belakang. “Masuk!” suara Tuan Liem mendengung.

Pintu terbuka, Tuan Rex berdiri, memberikan salam hormat kepada Tuan Liem sebelum menyapaku. “Nona… motormu sudah diperbaiki. Saya memarkirkannya di dekat pancuran taman.”

Aku tersenyum ramah. “Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama, Nona.” Pak Rex menatap Tuan Liem. “Tuan… apa pesananmu?”

“Pak Rex… tolong beritahu Pak Batista untuk segera menyiapkan audisi. Nona Sophia sudah menunggu.”

“Sesuai pesananmu, Tuan.”

Pintu berderit saat ditutup kembali. Tuan Liem menatapku. “Nona Sophia… kamu ingin audisi tepat pukul 11 atau mulai lebih awal?”

Aku memegang daguku, “Lebih awal saja, Tuan.” Aku menghela nafas. “Aku masih memiliki urusan setelah ini… Kakakku berulah lagi. Anda mungkin sudah melihat keributan di depan kantor polisi pagi ini, Tuan.”

“Kakak… terus meminta polisi menyelidiki kasusku. Setelah bertahun-tahun dia masih terus menuntut polisi mengejar pelakunya.”

“Kasus apa, Nona?”

“Itu…” nafasku tiba-tiba berat. Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba pusing.

“Nona Sophia… apa kamu baik-baik saja?”

Aku menggeleng, menjernihkan pikiranku. “Aku tidak apa-apa, Tuan.”

“Maaf, Nona. Aku seharusnya tidak menanyakan pertanyaan ini.”

Aku mengusap dada sambil tersenyum tipis. “Terima kasih atas pengertiannya, Tuan.”

Tuan Liem melirik jam tangannya, lalu berdiri. “Sudah saatnya. Ikuti aku. Kita akan memulai audisi, Nona.”

Tuan Liem berjalan melewatiku dan membuka pintu. Aku berdiri dan mengikutinya.

Kami naik ke lantai 4. Di dalamnya, sebuah aula besar terbentang. Aku berjalan di belakang Tuan.

Aku berhenti di depan studio. Di depanku, Tuan Rex memegang kamera mengarah panggung. Lampu sorot menerangi karpet merah, Tuan Batista berjalan di atasnya sambil memegang tangan gadis kecil bergaun merah muda.

“Duduk di sini, adik kecil,” Tuan Batista menepuk sofa di atas panggung.

“Mm,” gadis kecil itu mengangguk dan duduk.

Mataku menyipit, menatap gadis kecil itu. Dia duduk sambil memegang roknya tapi jarinya tidak berhenti gemetar. Apakah gadis kecil itu takut sama Pak Batista?

Aku menatap Tuan Liem. “Tuan… gadis kecil itu terlihat ketakutan.”

Tuan Liem tetap terlihat tenang, memegang dagunya dan tersenyum tipis. “Jangan khawatir, Nona. Gadis kecil itu hanya demam panggung.”

Lihat selengkapnya