Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #42

Bab 42: Demi Adik Perempuan Tercinta. . .

Serpihan kaca gemercing diikuti seorang pria berkaos hijau ketat melayang menghancurkan jendela sambil memegang tali. Dia mendarat di lantai berkarpet merah. Kedua tangannya bersilang, melindungi kepalanya.

“SIOPHIA… dimana kamu?” teriaknya panik sambil menoleh ke sekelilingnya.

Matanya melebar saat mendapati sosok gadis berpakaian blus satin putih kontras dengan rok hitam panjangnya berbaring di dinding tepat bawah kanan jendela yang hancur. Kepalanya bersandar di dinding, rambut pirangnya disanggul. Namun matanya terpejam lelap seakan enggan bangun.

Seorang gadis kecil bergaun merah muda memeluknya erat, membenamkan kepala mungilnya di dada wanita itu. Dia menangis histeris sambil memanggil, “Kakak bangun… huwawa…”

Pria itu segera menghampiri adik perempuannya dan memeluknya dari samping. “Sophia… bangun! Mas Bram di sini.”

Bram memeriksa nafas dan denyut nadinya. “Hanya tidur…” untuk sesaat beban di dadanya terangkat. Namun matanya menajam ketika mendengar suara umpatan dari pria arogan dari depan.

“Keparat! Ini lantai 4. Bagaimana dia bisa masuk? Idiot ini selalu menghalangi rencana baikku.” Liem mengumpat sambil mengertakkan giginya seperti anjing liar.

“Kau…” Bram berdiri sambil mengempalkan tangannya. “… beraninya kau menyentuh adikku. Aku akan membunuhmu.”

“Membunuhku?” mendengar ancaman Bram, Liem justru kembali tenang.

Dia membetulkan dasi dan jas hitamnya. Bibirnya menyeringai, “Kau bahkan tidak tahu posisimu saat ini.”

Liem menepuk kedua telapak tangannya. “Rex… Batista… bersiaplah mengiling daging segar! Jangan tinggalkan bukti.”

“Siap, bos!” jawab Rex dan Batista serempak.

Dua pria kekar berseragam satpam itu berdua berjalan di depan Liem. Rex merengangkan otot lehernya. Suara “krek” terdengar dari tangan dan lehernya. Sementara itu, Batista merobek pakaiannya, menampilkan tato naga di sekujur tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan bodoh?” bentak Rex.

“Kita akan mengiling daging,” jawab Batista sambil menunjuk Bram. “Tentu saja aku harus memamerkan ototku. Lagipula aku adalah mantan atlet MMAX.”

“Kau tidak perlu melakukannya, kita tidak bertanding di ring tinju. Kita hanya perlu menyingkirkan serangga yang selalu menghalangi rencana Tuan,” jelas Rex.

Mendengar pertikaian pengawal Liem, Bram hanya berdiri diam sambil mengerutkan kening. “Siapa yang idiot di sini?” pikirnya.

Bram kembali menenangkan dirinya, bibirnya tersenyum tipis. Dia melepaskan ikat kepala Konohu dari lengannya dan memasangnya di kepalanya. Dia membentuk kuda-kuda sambil menyiapkan kedua tinjunya, tapi kedua kakinya tidak berhenti gemetar.

Melihat tingkah idiotnya, Liem mendengus. “Dasar serangga! Apa kau pikir memakai atribut wibu akan meningkatkan kekuatanmu? Ini dunia nyata, bukan anime.”

“Lihat kakimu terus gemetar! Sebentar lagi kau mungkin kencing di celana… bersimbah darah. Haha.”

Sambil mengigit bibirnya, Bram menelan ludahnya, lalu mengeluarkan suara terbata-bata. “Kenapa… kau mengincar keluargaku? Kami tidak pernah menyinggungmu.”

“Tuan… ayo habisi pria menyedihkan itu. Anda juga perlu ‘bekerja keras’ dengan Nyonya Sophia di panggung setelah ini,” kata Rex.

“Jangan buru-buru, Rex. Mangsa sudah terpojok,” Liem menepuk bahu Rex sambil menjilat bibirnya.

Dia kembali menatap Bram dengan senyum sinis. “Kenapa?! Tentu saja karena adik perempuanmu terlalu cantik. Pria mana yang tidak terpikat oleh gadis pirang blasteran semanis ini?!”

Bram mengertakkan giginya. “BINATANG!”

“Haha. Sebut aku sesukamu. Kau akan mati di sini,” ejek Liem sambil menyipitkan matanya. “Kau dan orang tuamu selalu menghalangiku… jangan salahkan aku bersikap kejam.”

“Aku sudah bersikap baik. Sebelas tahun lalu… ayahmu memamerkan foto adikmu kepada keluargaku. Awalnya aku kesal… tapi setelah melihat foto imutnya… aku meminta ayahku untuk menjadikan gadis kecil menjadi tunanganku. Tapi–“

Liem terdiam sejenak sambil mengertakkan giginya, meluapkan kebenciannya. “Ayahmu menolaknya dengan angkuh. Dia bahkan bersengkokol dengan ibumu untuk menghancurkan perusahaan keluargaku. Kalian keluarga hina… tidak menghargai niat baikku.”

Mata Bram terbelalak. “Jadi… kematian ayahku… ibuku… kau–“

“Benar, aku membunuh mereka, merekayasa kecelakaan mereka.” Liem merentangkan kedua lengannya. “Aku juga merencanakan penculikan adikmu 8 tahun lalu. Aku gagal karena kau. Tapi tidak apa-apa. Aku mendekati adikmu lewat sosmed, memberikannya kata-kata penyemangat, memberinya rekomendasi pekerjaan, menjadikannya karyawanku… dan sekarang aku akan menjadikannya istriku. Milikku.”

Liem menjilat bibirnya sambil mengempalkan tangannya. “Dari dulu sampai sekarang… kalian menari-nari di telapak tanganku.”

“BAJINGAN GILA!” teriak Bram murka.

“Terserah. Pada akhirnya aku akan mati hari ini. Kau bebas mengumpat di depanku.” Liem menepuk kedua telapak tangannya, “Oh… jangan kira. Aparat akan bertindak. Uang dan kekuasaan bisa membeli semuanya.”

“Besok pagi… kau akan masuk berita koran, ‘seorang kakak wibu ditemukan bunuh diri karena adik perempuannya menikahi pria tampan dan kaya’. Itu akan menjadi berita nasional yang bagus. Haha.”

“Rex… Batista… patahkan leher serangga ini!” perintah Liem.

Seketika Rex dan Batista menatap tajam Bram. Mereka berdua melangkah perlahan, bersiap menyembelih pria menyedihkan itu.

Mendengar semua rencana busuk Liem, Bram hanya berdiri menunduk. Rambutnya menutupi wajahnya. Namun kakinya berhenti gemetar.

Rex dan Batista berhenti. Mereka merasa seperti udara lebih dingin.

Batista menatap Rex. “Ini tidak sesuai skenario. Bukankah serangga itu harusnya menangis dan memohon belas kasihan? Pak Rex… ada yang salah dengan orang itu.”

Lihat selengkapnya