Kakakku Mendadak Berhenti Bekerja: Mas Bram Jangan Mempermalukan Sophia!

Eldoria
Chapter #43

Bab 43: Kakakku adalah. . .

Aroma logam dan keringat tercium, kelopak mataku terbuka perlahan. Sentuhan lembut, mengelus rambutku. “Sophia…” suara menyejukkan bergema di hatiku.

Ketika aku menoleh ke sumber suara, wajah tampan yang selama ini aku rindukan terpantul di mataku. “Mas Bram,” gumamku.

Kakak mengangguk, air mata membasahi sudut matanya. “Kau bangun.”

Aku duduk, bersandar di bantalan ranjang, lalu tersenyum manis. “Kakak… aku senang melihatmu lagi.”

Ini pasti mimpi, bukan? Kakak tidak pernah tersenyum lembut lagi semenjak berhenti bekerja. Setiap hari dia terus menampilkan senyuman bodoh bintang laut merah muda yang membuatku kesal.

Kakak duduk di kursi di sebelah ranjangku. “Sophia… Sophia…” Kakak memelukku erat. Kepalaku bersandar di bahunya.

“Maaf, aku hampir mencelakaimu,” suaranya serak.

Aku tersenyum sambil menepuk punggungnya seperti seorang ibu yang menenangkan putranya. Tunggu sebentar… ini tidak benar. Aku akan selalu menjadi adik perempuan Kakakku.

Aku membalas pelukan Kakak dengan mengeratkan lenganku. “Kakak… seharusnya aku yang meminta maaf. Selama ini, aku salah paham terhadapmu.”

“Aku selalu mengomelimu setiap hari dan menganggapmu beban, tapi justru Kakak-lah yang selama ini mengorbankan hidupnya untukku.”

“Kakak berhenti bekerja untuk melindungiku 24 jam, ‘kan?”

Bahu Kakak gemetar, Kakak melepaskan pelukannya dan menatapku. “Bagaimana kamu bisa tahu? Apakah aktingku seburuk itu?”

“Tidak, kak,” Aku menggeleng. “Justru Kakak berakting terlalu baik sampai aku tidak bisa membedakannya. Kakak benar-benar wibu, nolep, idiot, dan tak tahu malu. Tapi–“  

“Aku tidak membencinya. Sebaliknya setiap hari bersama Kakak membawa warna dalam hidupku.”

“Kakak adalah pahlawanku. Kakak adalah matahariku. Terima kasih, Mas Bram,” Mataku mendadak basah. “Aku menyayangimu.”

“Sophia…” mata Kakak kembali berkaca-kaca. Jarinya menyeka air matanya. “Gadis kecilku telah tumbuh menjadi wanita bijaksana. Aku bahagia.”

Bibirku tersenyum tipis. Ini… benar-benar mimpi yang indah. Aku harap tidak terbangun di neraka dan melihat bajingan itu lagi. Aku menundukkan kepalaku.

“Ada apa, Sophia?” Kakak memegang tanganku. “Apakah kamu baik-baik saja?”

“Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya aku berharap momen damai ini berlangsung selamanya. Aku ingin hidup damai bersama Kakak.”

Kakak tersenyum. “Bagus. Kakak juga berharap begitu. Tapi Sophia juga perlu bekerja,’kan? Kamu adalah sekretaris Liem Corp.”

Mendengar kata ‘sekretaris’ di Liem Corp, aku merasa mual. Aku menggeleng. “Tidak, aku tidak mau bekerja di sana lagi,” suaraku meninggi.

Kakak memiringkan kepalanya. “Eh… bukankah itu yang selama ini Sophia inginkan?”

Aku mengertakkan gigiku. “Siapa yang sudi bekerja untuk bajingan gila itu?”

“Bajingan gila?” Kakak memegang dagunya. “Siapa, dek?”

“Siapa lagi… Liem… bos psikopat mesum itu menjijikkan.” Aku meremas selimutku. “Kakak tidak tahu… bajingan itu biadab. Dia menjadikan gadis kecil sebagai kelinci percobaan… dan sudah lama mengincar tubuhku.”

Lihat selengkapnya