Seminggu berlalu semenjak… skandal besar Liem corp terungkap di publik. Selama rentang waktu itu, Kakakku ternyata dibawa dirawat di rumah sakit karena lengan kirinya patah setelah melawan antek Liem.
Hari ini, aku berjalan di koridor rumah sakit ditemati Cintia dan Mbak Ayu. Aku membiarkan rambut pirangku terurai di punggungku, menutupi kaos biru.
Aku menoleh ke kanan, Cintia terlihat gugup. Gadis terus menghubungiku semenjak kasus ini diungkap di publik. Tapi sekarang dia berpakaian aneh, jaket biru tertutup dan celana panjang ungu mengingatkanku pada karakter anime ibu kades sebelum menikah.
Di kiriku, Mbak Ayu seperti biasanya memakai kaos putih, berjalan santai sambil memakan permen rokok. Selama seminggu ini… dia terus menemaniku.
Dia juga menceritakan semua operasi intelijen yang dilakukan Kakakku semenjak dia kuliah untuk mengawasiku, melindungiku, mengungkap dan menghukum penjahatnya, bajingan Liem.
Aku tidak menyangka jepit rambut kupu-kupu selama ini merupakan alat pelacak GPS. Kakak benar-benar protektif.
Kalau dipikirkan lagi sebenarnya aku-lah yang terlalu naif. Aku hidup dalam gelembung perlindungan Kakakku. Tapi aku malah mengejek bahkan mengatur hidupnya.
Aku malu mengingat proyek pembebesan wibu itu untuk mengembalikan kehidupan Kakak kembali normal. Padahal selama ini dia selalu normal sejak awal.
Dia mengorbankan harga dirinya, masa depannya, cinta dan hidupnya demi melindungiku. Kakakku memang selalu keren dan lembut, entah dulu maupun sekarang.
Mulai sekarang, alih-alih mengatur urusan Kakakku, aku akan membantu dan mendukungnya.
“Sophia… apa kamu baik-baik saja?” tanya Cintia malu-malu.
Aku tersenyum. “Aku tidak apa-apa, Cintia. Hanya saja, aku senang bisa menemui Kakakku lagi.”
“Mm,” Cintia mengangguk. “Aku juga ingin menemui Mas Bram.” Dia menautkan dua tangannya. “Aku merindukannya,” suaranya lirih.
“Jangan khawatir, Kakakku kuat,” aku menepuk bahu Cintia.
“Bagaimana denganmu, Sophia?” Cintia menatapku.
“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” aku melirik Mbak Ayu. “Terima kasih telah merawatku, Mbak Ayu.”
“Adik kecil,” Mbak Ayu menggeleng. “Tidak, kamu memang sudah menjadi nona. Kamu tahu berterima kasih dan membalas budi. Bagaimana kalau mendukung hubunganku?”
Aku mengerutkan kening. “Aku tidak akan ikut campur lagi urusan Kakakku. Kamu dan Cintia bisa berkompetisi. Aku hanya mengawasi saja.”
“Oh… sekarang, Nona sudah benar-benar dewasa. Kakak bangga kepadamu,” balas Mbak Ayu.
“Sophia… apa kamu tidak lagi mendukungku?” tanya Cintia.
Aku menggeleng. “Bukan begitu, Cintia. Urusan hati Kakakku bukan hakku menentukan. Jika kau menyukainya, kejarlah! Aku tidak akan ikut campur lagi.”
“Baiklah, aku sudah memutuskan,” Cintia mengepalkan tangannya.
Tidak terasa, kami tiba di depan pintu putih. Di depan pintu, seorang polisi berdiri menjaga.
Aku mengangguk dan menyapanya, “Selamat siang, Pak.”
“Selamat siang, Nona,” pak polisi balas menyapa.