Aku Darma, adik dari seorang kakak yang keteguhannya melampaui kukuhnya gunung. Jangankan hujan badai, petir pun ia tangkap agar tak menyambar keluarganya, demi sebuah janji tentang rumah yang ia sendiri tak ingat kapan ia berjanji. Entah bagaimana caranya, ketangguhan beserta harapan ayah menurun penuh kepadanya, tak terbuang barang setetes. Kakakku menjadi sosok yang ia sesali.
Kata ayah, kesempatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tangan, dari mereka yang menunggu, kepada mereka yang meraihnya, atau merebutnya dengan paksa. Hidup ayah dan ibu kala itu bukanlah tentang mencari jalan yang terbaik, tapi tentang mengais jalan yang tersisa. Aku dan kakakku belum lahir, namun aku tahu betul rasanya. Mengapa? karena sampai kisah ini dituliskan, aku masih merasakannya, mengais sisa jalan yang diabaikan, dipinggirkan orang lain.
Masa itu, akhir tahun 1970-an, negara ini katanya mengalami lonjakan ekonomi karena harga minyak. Ayah yang hidup di pinggiran Rembang tak sama sekali tidak merasakan lonjakan yang dikatakan penyiar radio yang ada di balai desa itu. Kami semua miskin. Pertumbuhan itu hanya menciptakan kemakmuran bagi orang yang itu-itu saja, yang dulu katanya berjuang untuk kemerdekaan, lalu sekarang berbalik merampoknya.
Kata ayah, tahun ini adalah cikal bakal budaya maling uang rakyat dimulai.
Masa itu, tidak semua orang punya kemewahan, bahkan untuk bermimpi. Sebagian besar dari kami hanya punya keharusan, kewajiban agar dapur tetap menyala, agar anak-anak tidak tidur dengan perut lapar. Kerja keras bukan lagi pilihan, ia menjadi satu-satunya cara untuk bertahan.
Persetan oil boom!
Ayah adalah orang yang percaya kehidupan sepenuhnya di tangan manusia-nya. Ia sangat yakin, jika ia bekerja keras maka ia akan menciptakan rumah yang baik untuk Ningsih, ibu yang kala itu masih diperjuangkan oleh ayah.
Tidak ada kesulitan sama sekali bagi ayah untuk meminang ibu karena mereka berdua miskin. Tidak sulit menyatukan dua orang miskin yang sedang jatuh cinta. Ayah tak berharap ibu bisa selalu mamasak semur daging tiap hari, ibu pun tak berharap ayah bisa memberikan pakaian indah seperti orang kota. Mereka hanya bermodal cinta, benar-benar sesuai ungkapannya, bermodal cinta.
Ibu pertama kali dilihat ayah di sumur umum desa. Ia berdiri dengan ember di tangannya, menimba air dengan gerakan tenang, tanpa tergesa. Seolah waktu tidak pernah benar-benar mendesaknya. Kala itu Supar tidak mengerti bagaimana seseorang bisa setenang itu di tempat seperti ini. Padahal mereka berdua sebelas dua belas miskinnya.
Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu. Di sumur, di jalan tanah, di pasar kecil yang tidak pernah benar-benar ramai. Tegur sapa pun mulai menyisip di antara mereka, tidak banyak, hanya sapaan kecil seperti, "mau ke mana?", "mari saya bantu", "mari saya antar", "mau menikah denganku?"
Semudah itu.
Karena, di desa ini, di masa itu, di mana cinta sering kali kalah oleh perut yang kosong, perasaan mereka tumbuh dengan cara yang lebih jujur. Bukan karena dunia memberi mereka ruang untuk jatuh cinta, tetapi karena mereka tidak punya kemewahan untuk menunggu sesuatu yang lebih baik datang.
Satu-satunya perjuangan ayah untuk meminang ibu adalah menghadapi kakek, seseorang yang sudah selesai dengan hidupnya sejak hari pertama ia menghirup napas di bumi ini. Kakek seperti orang yang sudah sufi sejak lahir.
Kakek mengenal ayah sejak kecil, karena ibu dan ayah adalah teman sejak kecil. Kakek tahu ayah adalah pekerja keras yang sarat akan mimpi di dalam kepalanya. Namun kakek juga tahu mimpi itu tak akan didapat. Bukan karena kakek seorang pesimis, tapi karena kakek adalah sebagian orang yang percaya bahwa hidup tidak sepenuhnya berada di tangan manusia.
Bahwa, ada hal-hal yang sudah ditentukan, jauh sebelum manusia berusaha mencapainya. Bahwa, rezeki tidak sepenuhnya dikejar, ia juga diberikan. Bagi kakek, hidup secukupnya dan beribadah sekuatnya adalah kebenaran hakiki ketimbang mengejar mimpi yang tiada berujung.