Sebuah pernikahan bukanlah sekedar menyatukan dua manusia yang berbeda, tapi membangun rumah tempat manusia itu berpulang. Susah senang dirasa bersama, sakit bahagia ditanggung bersama. Setidaknya itulah konsep yang orang-orang banyak katakan.
Namun ayah berbeda.
Memang betul ia ingin membangun rumah tempatnya berpulang, tapi ia bersumpah di hadapan langit yang agak mendung kala ijab kabul itu berlangsung, bahwa ia tak akan membiarkan ibu dan aku dan kakakku merasakan kehidupan yang selama ini ia tanggung.
Lantunan Ijab kabul itu meluncur tegas tanpa keraguan dari ayah, membawa semua harapan dan cita-cita yang selama ini sudah terlukis dalam pikirannya, membawa sebuah rumah yang sudah terbangun dalam jiwanya.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana. Tidak ada panggung,tidak ada musik, hanya tikar yang digelar di halaman, dan beberapa orang yang datang bukan untuk merayakan, tapi untuk menyaksikan.
Saat ijab kabul selesai, suara “sah” terdengar pelan. Tidak ada sorak, tidak ada tepuk tangan. Hanya gemerisik dedaunan yang terlewati angin yang menyisip.
Kata ibu, hari itu adalah hari terindah yang pernah ia ingat. Ayah menikahi ibu dengan pakaian terbaiknya, batik yang ukurannya kebesaran, yang dibeli bekas dari orang kota yang datang tempo lalu untuk penyuluhan Laku Lampah, penyampaian teknologi pertanian ala pemerintah yang hanya dinikmati petani kaya dan elit desa.
Ayah dan mayoritas petani yang mengais dari sawah orang tentu hanya pemanis foto di media dan laporan ke istana.
Meskipun batik lengan panjang itu seperti menyarungi tubuh kurus ayah, tapi sorot mata ayah berbinar lebih terang dari ribuan bintang malam itu. Ibu benar-benar melihat mimpi yang ia idamkan seajak lama di dalamnya. Tentang harapan hidup lebih baik, tentang keluarga, tentang cinta, bahkan tentang baju baru dengan motif bunga cantik yang selama ini ia idamkan di toko dekat kota sana. Sungguh sorot mata yang sarat dengan masa depan nan indah.
Di antara mereka, tidak ada janji besar yang diucapkan. Kakek Rahman memandang Supar lebih lama dari yang lain. Bukan menilai, bukan pula meragukan. Seolah mencoba memahami seberapa jauh laki-laki ini akan pergi demi sesuatu yang ia sebut masa depan.
Langit malam itu mendung.
Setelah semua orang kembali dari sawah, rumah kecil ini terasa lebih ramai. Ada ibu, ayah, aku dan kakak.
Ibu duduk di lantai, bersandar pada dinding kayu yang tipis.
“Kalau nanti kita benar-benar pergi…” katanya pelan, “kamu yakin?”
Supar menatap ke depan, ke pintu yang sedikit terbuka. “Aku tidak yakin,” jawabnya jujur.
Ibu menatapnya.
“Tapi kalau kita tetap di sini… aku lebih tidak yakin lagi,” ayah melanjutkan.