Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #3

Janji di Tengah Lautan

Pagi itu tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Udara di desa terasa berbeda. Lebih berat, lebih penuh. Bukan karena cuaca, tapi karena sesuatu yang tak terlihat sedang terjadi di dalam dada setiap orang yang akan pergi.

Barang-barang ditumpuk seadanya. Karung berisi pakaian, beras secukupnya, beberapa peralatan dapur, dan benda-benda kecil yang tidak punya nilai selain kenangan. Rumah yang selama ini mereka tinggali mulai kehilangan bentuknya sebagai “rumah”.

Ibu berdiri di depan pintu, tangannya memegang kain yang sudah dilipat rapi sejak malam. Matanya menyapu setiap sudut, seolah mencoba menyimpan semuanya sekaligus. Aku dan kakak, hanya berdiri diam mematung di luar rumah, melihat bagaimana rumah tempat kami lahir perlahan kehilangan jiwanya.

Kakek Rahman duduk di kursi kayu, lebih banyak diam sejak subuh, sedangkan Ayah masih tidak berhenti bergerak. Ia memeriksa barang, mengikat, memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Jangan terlalu banyak dibawa,” kata Kakek Rahman akhirnya.

“Kalau kurang, kita tidak punya apa-apa di sana,” jawab ayah cepat, tanpa menoleh.

Kakek Rahman memperhatikan punggung menantunya itu.

“Kalau terlalu banyak, kamu akan lelah sebelum sampai.”

Ayah berhenti sejenak. Tangannya masih memegang tali, tapi kali ini ia tidak menjawab. Mimpinya untuk membangun rumah yang baru di tanah perantauan memang sebesar gunung, tapi kenangannya di desa ini tak kalah besar. Ia memang marah dengan desa ini, dengan kehidupan di sini, tapi rasa susah senang sejak ia lahir bukan perkara mudah untuk ditinggalkan begitu saja.

..........

Perjalanan ke pelabuhan dipenuhi suara-suara yang bercampur, mulai dari tangis anak-anak, panggilan nama, gemeretak kayu dan logam perkakas dapur yang saling berbenturan. Orang-orang datang dengan harapan yang hampir sama, hidup baru, tanah baru, masa depan yang berbeda. Namun tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa bentuknya.

Kakak berjalan di samping ayah, membawa karung yang hampir terlalu berat untuknya. Usianya belum cukup untuk mengerti semuanya, tapi cukup untuk merasakan bahwa ini bukan perjalanan biasa.

“Pak…” katanya pelan, “kita akan balik lagi ke sini?”

Ayah menatap ke depan.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Kakak tidak bertanya lagi. Ia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi, akan kemana ia akan pergi. Namun satu yang pasti, ia tahu tidak akan pernah bermain lagi bersama teman-teman yang ia sayangi.

Di pelabuhan, aku terpana luar biasa. Belum pernah kulihat air sebanyak itu, terbentang serupa permadani raksasa yang menyelimuti bumi ini. Kakak pun sama, ia terdiam dengan buntalan seprei berisi pakaian yang tak seberapa itu, terlilih di pundaknya. Kami berdua takjub, namun juga takut. Takjub karena ternyata kakek benar, Tuhan begitu hebat hingga bisa membuat air sebanyak ini dan takut karena kami akan berada di atasnya hingga empat hari. Apa pun bisa terjadi.

Ratusan orang naik ke kapal bersamaan, membawa kehidupan mereka dalam bentuk yang paling sederhana. Di dalam, ruang dipenuhi oleh tubuh, barang, dan suara yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Kakek Rahman berdiri sedikit menjauh, tidak ikut berdesakan, hanya memandang anak dan cucunya dengan tenang yang dipaksakan. Tangannya yang renta menggenggam pundak kakak sejenak, tidak kuat tapi penuh makna.

“Kamu yang akan menjaga adik-adikmu,” katanya pelan, lalu menatap lebih dalam.

“Tapi jangan lupa, bukan kamu yang menanggung semuanya.”

Kakak mengangguk, meski tidak benar-benar memahami. Tentu saja ia masih sembilan tahun saat kami berangkat.

Saat ibu mencium tangan ayahnya, Kakek Rahman menahan lebih lama dari biasanya, seolah tahu ada jarak yang tidak bisa diukur oleh laut, seolah anaknya sudah tak akan lagi bisa ia lihat selamanya, seolah itu yang terakhir.

Ketika kapal mulai bergerak, kakek tidak melambaikan tangan, hanya berdiri diam, bibirnya bergetar membaca doa, sementara matanya mengikuti sampai bayangan mereka hilang, membawa sebagian dari hatinya yang tidak akan pernah kembali.

……….

Di dalam kapal, semua orang makin terlihat sibuk, lalu-lalang tanpa henti, mencari tempat untuk menaruh barang pindahan mereka. Saking banyaknya manusia, kapal besar itu terasa sempit.

Kami akhirnya menemukan tempat untuk duduk dan menaruh barang. Ibu menyiapkan kainnya dan buntalan pakaian untuk aku dan kakak bersandar. Sedangkan ayah lebih sering berdiri daripada duduk. Matanya terus mengamati, seolah ia harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Tak lama, suara keras dari luar terdengar, seperti terompet berukuran raksasa, berbunyi dua kali. Kata ayah, bongkar muat sudah selesai, kapal akan berlayar. Aku dan kakak beradu pandang, merasakan tubuhku seperti melayang begitu badan kapal ini bergerak.

Hari pertama di laut masih terasa seperti harapan.

Sejak meninggalkan pelabuhan, orang-orang berbicara tentang tanah subur. Tentang rumah yang akan mereka bangun. Tentang kehidupan yang akan lebih baik.

Ayah mendengarkan, tapi tidak banyak ikut bicara. Ia hanya sesekali menatap ke arah laut yang luas. Seolah mencari sesuatu yang tidak terlihat.

"Rumah kita seperti apa di sana?" tanya kakak ke ayah

"Tidak tahu. Yang pasti jauh lebih baik dari rumah kita di desa?" jawab ayah.

"Apa banyak anak-anak? aku boleh bermain?"

"Kamu boleh bermain sesukamu, tapi kamu juga harus sekolah."

"Sekolah?"

Kakak dan aku belum pernah sekolah. SD Inspres yang ada di desa kami sudah terlalu banyak murid, sampai-sampai tidak bisa menerima murid baru lagi. Selain itu, jaraknya sangat jauh, kami harus melintasi sungai dengan jembatan bambu yang sudah roboh berulang kali untuk sampai ke sekolah.

Selama ini kakek Rahman yang mendidik kami. Mengajarkan kami tentang kehidupan, agama dan pelajaran dasar, seperti hitung-hitungan dan mengenal huruf. Kakek masih bisa baca tulis meskipun ia lebih pintar membaca huruf hijaiyah. Tak heran aku dan kakak lebih pintar mengaji daripada membaca tulisan pada umumnya.

"Kalau ternyata rumah kita tidak nyaman, apa kita boleh pulang lagi?" kakak kembali bertanya.

Pertanyaan ini sudah diantisipasi ayah, namun jawabannya belum.

Ayah hanya bisa menjawab dengan helaan napas panjang dan mengusap kepala anak sulungnya ini. "Ayah tidak tahu. Tapi asal kita bersama, rumah kita akan selalu nyaman."

Kakak termangu diam. Ia sudah paham arah ucapan ayah, bahwa kita selamanya akan di tanah baru. Tapi tak mengapa, aku dan kakak tidak pernah ambil pusing tentang itu. Karena selama ini, sepulang kerja, sehabis makan malam, ayah selalu bilang, "keluarga adalah satu-satunya rumah yang tak akan pernah hilang, ingatlah untuk selalu pulang."

Lihat selengkapnya