Kehilangan tidak selalu datang sebagai perpisahan. Terkadang ia datang sebagai ketidakhadiran yang terus tinggal, tanpa pernah bisa dijelaskan.
Pagi itu datang seperti biasa. Tapi tidak terasa seperti biasa meskipun tidak ada yang benar-benar berubah di kapal. Laut tetap bergerak, angin tetap berhembus, orang-orang tetap bangun dan bergerak. Namun ada sesuatu yang berganti, sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa di antara napas dan tatapan. Suasana menjadi lebih sunyi. Bukan karena tidak ada suara, justru karena terlalu banyak yang tak terucap.
Kakak bangun lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Bukan karena ingin, tapi karena gelisah sepanjang malam, tidurnya tidak pernah benar-benar….tidur. Bayang-bayang keributan itu masih terpotong-potong di kepalanya. Teriakan, dorongan, amarah dan….perasaan mendengar suara orang jatuh.
Mungkin hanya perasaan saja, pikirnya.
Aku melihatnya terduduk sembari mengusap wajahnya pelan.
“Ayah?” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, ke lorong sempit yang dipenuhi orang-orang yang masih setengah terbangun.
“Ayah?”
Tetap tidak ada.
Aku pun ikut mengedarkan pandangan, mencari sosok ayah yang baru kusadari tidak ada, entah sejak kapan.
Tak lama ibu ikut membuka mata perlahan. Wajahnya pucat, matanya berat. Bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, kecemasan yang belum punya bentuk. Ia menunggu ayah semalaman. Sempat pula ia mengeliling kapal di dekat subuh, berjalan pelan mencari suaminya yang mendadak hilang, menguap begitu saja.
“Ayah ke mana?” tanya ibu pelan. Pertanyaan sederhana, tapi bagi kakak, rasanya seperti sesuatu yang terlalu besar untuk dijawab.
“Masih di atas, Bu… mungkin bantu orang,” jawabnya cepat. Aku yakin kakak bahkan tidak tahu kenapa ia mengatakan itu. Mungkin karena ia tidak punya pilihan lain.
Sepanjang pagi, ibu mulai mencari. Ia berjalan dari satu sisi kapal ke sisi lain, menyusuri lorong sempit, naik ke dek, turun lagi, lalu naik lagi, berulang kali. Matanya mencari satu hal, satu wajah yang seharusnya ada. Tapi tidak ada.
Setiap kali ia mendekati seseorang yang dikiranya petugas, mereka menghindar. Setiap kali ia mencoba bertanya, jawabannya pendek.
“Coba cari lagi, bu.”
“Pasti ada.”
“Nanti juga kembali.”
Tidak ada yang benar-benar menatapnya saat berbicara, dan itu justru yang paling membuat ibu takut.
Di satu sudut, seorang pria tua menunduk saat kakak lewat. Seolah ia tahu sesuatu, tapi memilih diam. Di sudut lain, dua orang berbicara pelan, lalu langsung berhenti saat kakak mendekat. Dunia tiba-tiba terasa penuh dengan orang-orang yang tahu sesuatu tapi tidak mau mengatakannya.