Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #5

Sosok Baru di Tanah Sunyi

Rumah itu bahkan belum pantas disebut rumah. Papan-papan kayu berdiri miring, sebagian belum terpasang rapat. Celah-celah di dinding membiarkan angin masuk tanpa izin, membawa bau tanah basah dan daun busuk dari hutan di sekeliling kami. Atapnya rendah, disusun tergesa, seperti seseorang yang membangunnya sambil terus menoleh ke belakang, tak pernah benar-benar yakin aman.

Entah kenapa kami tidak diturunkan di tempat yang tak sama dengan yang lain. Kami terakhir, terujung, katanya mendapatkan lahan yang lebih luas, namun sejauh mataku sanggup memandang, hutan rimba belum terjamah menjadi halaman gubug ini. Sungguh ini jauh dari yang aku dan kakak sering dengar di penyuluhan balai desa. 

Aku dan kakak berdiri di depan pintu yang belum benar-benar jadi pintu. Hanya selembar papan yang bisa dilepas begitu saja. Terbersit harapan ayah mungkin sudah tiba lebih awal, menunggu kami di depan rumah, namun tak ada ayah di sini.

“Ini rumah kita, bu?” tanya kakak ke ibu.

Ibunya tidak langsung bergerak, tak pula menjawab. Ia hanya mematung beberapa langkah di belakang, memeluk perutnya tanpa sadar. Matanya menatap ke dalam rumah kosong itu, tapi seperti tidak benar-benar melihat apa pun. Sejak mereka turun dari truk, ia tak berbicara. Bibirnya kering, dan setiap kali membuka mulut, seolah-olah setiap kalimatnya tertahan di tenggorokan.

“Bu…” Kakak menoleh. “Kita masuk saja.”

Ibu mengangguk kecil.

Langkah kami pelan saat masuk. Setiap pijakan penuh keraguan, seakan rumah dan tanah ini bisa runtuh kapan saja. Di dalam, dinding dan atap hanya berlapis papan kasar, lantainya sama persis dengan rumah kami, tanah, namun yang ini lebih panas den lembap.

Ibu dan kakak menggelar beberapa barang yang mereka bawa, tikar lusuh, satu panci, dan buntalan kain berisi pakaian yang mulai beraroma lembap.

Aku duduk lebih dulu, bersandar di dinding. Napasku berat, tubuhku kotor, wajahku kusam, sama seperti ibu dan kakak. Tapi aku tidak mengeluh karena aku tahu ibu lebih takut dan cemas. Matanya tak berhenti mengamati, air matanya sudah mengering di matanya yang sembap luar biasa, merah tiada tara. Entah sudah berapa jam ia menangis.

Kakak masih berdiri. Ia melihat sekeliling, menghitung dalam diam, berapa papan yang kurang, berapa lubang yang harus ditutup, berapa hari mereka bisa bertahan dengan makanan yang ada.

Ibu duduk perlahan di sudut ruangan, menunduk, tangannya masih memegangi perutnya. Jelas sekali ia kebingungan, tidak tahu harus apa, harus bagaimana, apa yang harus dimulai. Mendadak seluruh dunia runtuh, tanpa permisi sama sekali, seketika jatuh menimpa hidupnya. Seluruh kepalanya terasa penuh, rumit, kusut, berantakan. Segalanya mendadak gelap, serupa tersesat di ruang penuh kabut,

Lihat selengkapnya