Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #6

Pelengkap Tragedi

Waktu, jika ada sesuatu yang paling keji di dunia ini, kusebut ia waktu. Tak mau ia mundur barang sedetik pun, tak pula ia bersedia berhenti barang sedetik pun.

Aku ingin kembali ke kampungku di Rembang, aku ingin bermain dengan teman-temanku di sungai tak jauh dari kampungku, aku ingin makan di pinggir sawah sambil melihat ayah dan kakak mencangkul, aku ingin pulang ke rumah yang ada ibu sedang menyiapkan makanan seadanya, aku ingin duduk bersama kakek di penghujung hari dan diceritakan kisah para nabi.

Namun, kakek tidak ada, ayah tidak ada, ibu bahkan lebih menyedihkan. Ia lebih banyak diam, kosong, memegangi perutnya yang ternyata sedang diisi oleh calon adikku. Ia tak membuat makanan, tak pula berbicara kepadaku. Kakak mengambil alih semua peran, ayah dan ibu sekaligus.

Pagi tidak pernah benar-benar datang, hanya pekat gelap yang menipis perlahan. Kakak, sama seperti yang ia lakukan selama dua bulan ini, bangun sebelum gelap itu sempat pergi. Sejujurnya, aku pun takjub kami bisa bertahan sejauh ini. Kalau bukan karena kakak, kami pasti sudah mati sejak minggu pertama.

Tangannya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya. Ia keluar, mencuci muka, minum air sedikit, memakan singkong sisa semalam, mengangkat kayu, menarik ranting, menyalakan api, memanaskan air, lalu pergi masuk ke hutan membawa arit yang sudah menjadi bagian penting dalam dirinya. Tak lama, selang satu dua jam ia akan kebali membawa kayu dan apa pun yang ia temukan dan menurutnya bisa dimakan. Entah sejak kapan ia memahami tehnik bertahan hidup ini.

Aku hanya bisa menjaga api itu untuk tidak padam, lalu menuangkan air panas ke gelas untuk ibu yang kini lebih sering terbaring.

Tak sampai dua jam kakak kembali, membawa singkong liar dan beberapa daun pakis hutan. Ia selalu menambahkan menu baru setiap kali pulang dari hutan. Namun sampai hari ini, kami belum makan daging. Tak apalah, sejak masih di rembang kami juga hanya makan daging saat hari raya lebaran, dan saat ada penyuluhan di balai desa.

Tak menunggu lama, setelah memintaku untuk merebus semua temuannya, ia kembali melakukan hal yang sudah dua bulan ini ia lakukan, membersihkan lahan. Sudah ada sepetak lahan kosong samping rumah tercipta. Kakak dengan aritnyanya menebas seluruh rumput liar dan pepohonan kecil.

Aku membantunya membersihkan lalu kami menggemburkan tanah dengan bambu yang kakak buat seperti linggis. Entah darimana ia bisa mendapatkan air setiap sore, terisi penuh dalam gentong milik ibu. Aku ingin ikut dengannya mengambil air, tapi ia selalu mengatakan “jaga ibu.”

Kakak tidak pernah berhenti, tidak pernah benar-benar berhenti. Karena diam baginya adalah membatalkan janji dengan ayah.

Aku pernah ikut dengan kakak masuk hutan satu kali, saat ibu terlihat lebih baik dari hari kemarin. Aku melihatnya mengayunkan arit ke batang kecil.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Gerakannya terlalu cepat, terlalu keras, seperti sedang melawan sesuatu yang tak terlihat. Tak heran ia pernah kembali dari hutan dengan darah bercucur di tangannya. Katanya, arit kecil di tangannya terpeleset lalu menyayat kulit jarinya.

Kakak tidak menangis. Ia hanya menatap luka itu lalu mentapku yang sudah menangis karena melihat darah segar mengalir dari tangan kakakku.

Ia hanya berucap:

“Ibu sudah kamu kasih air minum?”

Kata itu jatuh seperti batu, berat dan dingin, tanpa ruang untuk rasa sakit. Sejak hari itu aku tidak pernah menunjukkan tangisan lagi meskipun sesakit apa pun perasaanku melihatnya berdarah-darah.

Malam itu ibu terduduk diam di luar rumah, memandangi malam yang menurutnya sama dengan yang ia lihat di Rembang, tapi entah mengapa rumah ini berbeda.

Lihat selengkapnya