Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #7

Ibu

Memasuki musim tanpa hujan, tanah itu bukan sekadar keras, ia seperti hati yang sudah terlalu sering dikhianati. Dicangkul, ia retak, disiram ia menelan air tanpa memberi kembali. Seperti kata orang tua dulu, “menanam di batu, menuai kecewa”.

Apa pun yang kakak dan aku lakukan hasilnya selalu sama, kosong. Di tanah itu, harapan seperti benih yang ditanam di musim yang salah, tidak pernah benar-benar tumbuh, hanya membusuk pelan-pelan.

Di situlah adik kami si bayi perempuan bertumbuh. Malam hari Februari, 1987.

Bukan di tempat yang layak disebut rumah, melainkan di gubuk kayu yang berdiri dengan ragu-ragu, seperti tidak yakin ingin tetap tegak atau menyerah pada angin pertama yang datang. Tangis bayi itu lirih, seolah ia pun ragu untuk benar-benar hadir di dunia yang bahkan belum sempat menyambutnya.

Pak Rumbun tak pernah lalai membantu kami menjaga adik, yang belakangan diberi nama Hindun. Nama itu diberikan kakak, teringat oleh kisah istri Rasullulah yang cerdas yang pernah dikisahkan oleh kakek Rahman semasa di Rembang dulu.

Meskipun bukan bagian dari kami, Pak Rumbun seperti jembatan yang rapuh antara harapan dan kenyataan. Ia membaiat dirinya sendiri untuk membantu warga terlantar ini, menjadi kepanjangan lidah kami agar suara kami sampai ke pemerintah setempat. Namun sesungguhnya ia sendiri tahu bahwa apa yang ia lakukan tidak akan pernah cukup.

Tangannya cekatan, tapi matanya menyimpan lelah yang tidak bisa disembunyikan.

“Air harus bersih. Badannya jangan sampai kedinginan,” katanya pelan setelah Hindun lahir.

Kakak hanya mengangguk. Dalam hatinya, ia tahu, di tempat seperti ini, nasihat sering kali lebih mudah diucapkan daripada dijalankan. Seperti menggantungkan langit di pucuk bambu, terlihat dekat, tapi tak pernah bisa diraih.

Hari-hari setelah kelahiran itu tidak membawa terang. Justru lebih seperti, sudah jatuh tertimpa tangga penderitaan datang berlapis-lapis, tidak memberi jeda untuk bernapas.

Ibu tidak mengeluarkan ASI, karena makanan yang sama sekali tidak bergizi selama hampir delapan bulan ini. Tubuhnya semakin lemah, matanya semakin jauh. Hindun lebih sering meminum ASI warga yang juga sedang menyusui dan susu formula yang beberapa kali diberikan oleh Pak Rumbun atau hasil barter singkong yang kakak tanam ke warga lokal di luar sana. Itu pun harus dihemat. Adikku sudah harus puasa sejak bayi.

Memasuki tahun pertama, Hindun lebih sering meminum air tajin hasil racikan Pak Rumbun. Sedangkan ibu, ia makin sering duduk di dekat pintu, menatap ke arah jalan tanah yang bahkan belum sempat menjadi jalan. Seolah ia percaya, suatu saat, seseorang akan muncul dari sana.

“Ayahmu pasti pulang,” katanya suatu malam.

Suaranya tidak tinggi, tapi keyakinannya seperti batu diam, berat, dan tidak tergoyahkan.

Aku melihat kakak hanya menunduk. tidak membantah. Karena ia tahu ada hal-hal yang tidak bisa dilawan dengan kebenaran. Harapan adalah salah satunya. Mematahkan harapan sama seperti mematahkan tulang sendiri, sakitnya menujam tulang, dan tidak selalu bisa pulih seperti semula.

Kampung itu bukan kampung. Ia lebih seperti kumpulan nasib yang tersesat di satu titik yang sama. Orang-orang di sana bukan datang karena memilih, tapi karena diarahkan. Bahkan lebih tepatnya, dipindahkan tanpa benar-benar diberi tahu, serupa kerbau dicocok hidungnya, dibawa ke mana saja, tanpa tahu tujuan.

Adalah Ibu Ratna, salah satu dari kami. Ia sudah bertahun-tahun menempati tanah ini, berjuang untuk masyarakat transmigran yang langsung dilupakan begitu menginjakkan kaki di tanah ini.

Ia dan Pak Rumbun seperti dua kepingan yang sesungguhnya saling melengkapi. Namun entah mengapa Pak Rumbun seperti selalu menolak untuk menjadi pelengkap. Ia tak sejalan dengan dengan Ibu Ratna karena Ibu Ratna terlalu sering muncul di antara warga sini, mengumpulkan warga di balai desa yang baru saja dibuat, atau lebih tepatnya tanah lapang yang tak digunakan.

Suaranya seperti kayu kering yang dilempar ke api, membakar semangat yang hampir padam di penghujung hari.

“Kita ini bukan orang buangan,” katanya suatu sore, ketika beberapa orang mulai kehilangan harapan karena musim panas ini benar-benar membuat apa pun yang ditanam mati sebelum berbuah.

“Kalau tanah ini tidak mau menerima kita, ya kita paksa dia menerima.”

Beberapa orang tertawa pahit.

“Tunggu bantuan? Bantuan itu seperti hujan di musim kemarau, ditunggu-tunggu, tapi tidak pernah datang.”

Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Kalau kita tidak saling pegang, kita habis satu-satu.”

Kata-katanya sederhana, tapi di tempat di mana semua hal terasa runtuh, kesederhanaan justru menjadi pegangan.

Lihat selengkapnya