Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #8

Api yang Tidak Padam

Ada kesedihan yang datang seperti hujan deras, mengguyur keras, lalu reda dan….selesai. Namun ada juga kesedihan yang seperti tumbuh dari dalam tanah, merayap perlahan, mengakar lalu menjelma menjadi sesuatu yang lebih sunyi dari air mata. Lebih gelap dari pusat malam.

Kesedihannya kakak adalah jenis yang kedua. Ia tidak menangis lama, tiada pula berteriak. Ia bahkan tidak pula bertanya, “kenapa.”

Kenapa ibu bunuh diri?

Kenapa ibu menyayat tangannya?

Kenapa ibu meninggalkan kami?

Tidak, ia tak bertanya barang sepatah pun.

Ia diam saat melihat ibu tergolek serupa bunga layu di belakang rumah. Ia justru dengan gegas membawaku dan Hindun ke rumah ibu Ratna.

Mungkin benar kata pepatah jaman dulu, “air mata ada batasnya, tapi luka tidak”, dan luka Kakak telah melampaui batas itu.

Hari-hari setelah kepergian ibu berjalan seperti bayangan, ada bentuknya, tapi tidak ada isinya. Rumah itu tetap berdiri, maksudku tempat yang sempat jadi rumah selama satu mingggu itu tetap berdiri. Tapi ia sudah kembali ke wujud asalnya, gubug kayu untuk orang buangan. Tanpa ibu sama sekali, raga dan jiwanya. Benar-benar menjadi ruang kosong yang dipenuhi kenangan yang tidak sempat diselesaikan dan mungkin akan hilang dalam hitungan bulan. Hidup harus berjalan kata kakak dingin.

Aku sudah lelah menangis, siang malam aku menangis, meminta ibu kembali, begitu juga dengan Hindun, tangisnya parau, seperti tidak mengerti apa yang telah hilang, tapi merasakana kekosongan seperti udara yang tak pernah cukup. Sesial-sialnya hidup manusia si Hindun ini, belum genap satu tahun hadir di dunia, sudah hilang aroma ibunya. 

Namun kakak berbeda, ia mengurus kami dengan sabar. Ia tak pernah marah, tak pernah mengeluh. Ia tetap bekerja, menyiapkan makanan pagi dan malam untukku dan Hindun. Semua dilakukan dalam diam. Seperti manusia tanpa emosi.

Aku takut.

Selama bulan-bulan berikutnya, Ibu Ratna dan Pak Rumbun kembali bergantian datang ke rumah kami, sekedar mengecek apakah kami hidup atau tidak. Paling sering Ibu Ratna.

Ia tidak banyak bicara, tak pula menghibur dengan kata-kata yang kosong. Ia hanya datang, membawa air, membawa makanan, membawa tangan yang bekerja tanpa perlu diminta. Ia menggendong Hindun seperti miliknya sendiri. Menenangkan, memberi makan seadanya, mengganti kain, menjaga agar kehidupan kecil itu tidak ikut padam bersama yang lain.

Sedangkan kakak, sikapnya kembali ke setelan awal, saat ayah hilang dan ibu sakit. Kembali menjadi tulang punggung keluarga yang belum matang. Perubahan ini tak perlahan, tapi seperti besi yang langsung dimasukkan ke dalam api, mengeras dalam waktu singkat, kehilangan bentuk lamanya.

Ia tidak lagi berbicara tentang ayah, tidak lagi mengulang janji itu dengan suara. Tapi justru ia memegangnya lebih keras dari sebelumnya. Janji itu kini bukan harapan, ia menjadi kewajiban. Menjadi alasan untuk tetap berdiri.

Setiap pagi kakak bangun sebelum matahari. Ia bekerja lebih lama dari siapa pun. Menggali, menebas, mengangkat, membangun. Tangannya tidak lagi hanya penuh luka, ia mulai kehilangan rasa. Rasa sakit yang terlalu sering datang, akhirnya berhenti terasa.

Jauh di dalam dirinya, sesuatu yang lain tumbuh. Bukan kesedihan, tapi amarah.

Lihat selengkapnya