Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #9

Keinginan Hutan

Konflik itu akhirnya reda, seperti hujan deras yang berhenti mendadak. Menyisakan lumpur, darah, dan bau tanah basah yang tidak mudah hilang. Orang-orang masih membicarakannya dengan suara pelan, seperti takut kata-kata mereka bisa membangunkan kembali amarah yang baru saja tidur.

Beberapa lelaki kampung sempat ingin pergi beramai-ramai ke tempat konflik. Namun sebelum mereka keluar dari batas kampung, truk-truk ABRI sudah lebih dulu berjajar di jalan tanah merah bersama laras-laras panjang terpampang bersama mereka, diam dan dingin, sementara wajah-wajah tentara tampak lebih letih daripada garang.

“Tidak ada yang lewat.”

Hanya itu yang mereka katakan, dan di tanah seperti ini, kalimat sederhana bisa terasa lebih berat daripada ancaman.

Akhirnya orang-orang kembali. Membawa marah yang tidak sempat dilampiaskan. Membawa takut yang tidak tahu harus diletakkan di mana.

Namun bahkan saat itu, tak seorang pun benar-benar paham, bahwa keributan kecil itu hanyalah awal dari bara yang jauh lebih besar. Bara yang suatu hari nanti akan menyala menjadi tragedi berdarah yang membuat orang-orang saling memburu hanya karena nama, asal, dan bahasa yang berbeda.

Tapi masa depan masih terlalu jauh untuk dipikirkan. Sebab di kampung ini, bertahan hidup esok pagi saja sudah cukup sulit.

Rumah kami mulai dipelajari kembali. Bukan dibangun, karena rumah itu tidak pernah benar-benar selesai dibangun sejak pertama kali kami datang. Kayu-kayunya masih miring, lantainya masih renggang, dan ketika hujan turun terlalu deras, air tetap masuk dari sela atap seperti tamu yang sungguh tak diharapkan.

Namun setelah ibu bunuh diri, rumah itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia bukan lagi tempat pulang, ia menjadi tugas, dan kakak mengerjakan tugas itu seperti orang yang takut gagal untuk kedua kalinya. Ia benci rumah itu, ia benci pulang ke rumah itu.

Pagi-pagi sekali kakak sudah bangun. Kadang sebelum ayam hutan berkokok, sebelum kabut tipis terangkat dari permukaan tanah. Ia menyalakan api, memasak singkong, menimba air, lalu bekerja sampai matahari seperti membakar punggungnya tanpa ampun.

Tidak ada lagi yang menyuruhnya. Tidak ada lagi yang memanggil namanya dengan lembut. Semua hal kini bergerak karena ia memaksanya bergerak. Seperti roda tua yang tetap berputar meski sudah lama kehilangan minyaknya.

Aku pun mulai sering ikut kakak membuka lahan. Meski lebih sering diam. Aku tidak lagi menangis ketika malam tiba, tak pula bertanya kapan ayah pulang atau kenapa ibu memilih bunuh diri. Perlahan aku menyadari, rupanya kesedihan bisa membuat anak kecil tumbuh terlalu cepat, rupanya mimpi tak selalu bisa digenggam, kadang hilang di tengah malam.

Kadang aku memergoki kakak menatap jalan tanah di depan rumah dengan pandangan kosong. Seperti seseorang yang sedang menunggu, atau sedang belajar berhenti berharap.

Hindun lebih banyak berada di pelukan bu Ratna. Perempuan itu datang hampir setiap hari. Kadang membawa beras, kadang daun obat, kadang hanya dirinya sendiri, dan entah mengapa kehadirannya membuat rumah itu tidak terasa terlalu kosong.

Ia menggendong bayi itu dengan gerakan yang tenang, seperti seseorang yang sudah terlalu sering kehilangan sehingga tahu betapa berharganya kehidupan sekecil apa pun.

“Dia demam lagi,” katanya suatu sore sambil menyentuh dahi bayi itu.

Kakak hanya mengangguk. Belakangan, ia lebih sering menjawab dunia dengan anggukan daripada kata-kata.

“Kalau malam jangan dibawa dekat dinding,” lanjut Bu Ratna.

“Udara lembab masuk dari sela kayu.”

Kakak kembali mengangguk.

Sebenarnya ia mendengar semua yang dikatakan perempuan itu. Hanya saja, pikirannya seperti selalu berada di tempat lain.

Di kapal.

Di lorong sempit itu.

Di hari terakhir ayahnya terlihat.

Ada kalanya kakak membenci dirinya sendiri karena masih berharap. Karena ia sadar harapannya itu serupa memeluk angin, tak ada kehangatan di sana, hanya dingin yang merayap perlahan, bersembunyi di sudut-sudut kecil kepala manusia. Itu pasal mengapa kakak bekerja keras. Karena bekerja membuatnya tidak berpikir, dan tidak berpikir adalah satu-satunya cara agar harapan itu tak terus merayapi jiwa dan raganya.

“Kamu besok malam jangan lupa ikut kumpul ya, kita ke kampung sebelah,” ajak Ibu Ratna ke kakak.

“Kita harus kordinasi dengan seluruh kampung, agar kalau ada kejadian seperti kemarin, kita bisa melawan balik dengan cepat.”

Kakak kembali mengangguk.

Esok hari Pak Rumbun mengajak orang-orang membuka lahan bersama lebih jauh ke arah hutan. Tanah dekat kampung terlalu buruk. Airnya tidak menetap, akarnya terlalu banyak, dan ketika musim hujan datang, lumpur bisa menelan kaki sampai lutut.

Lihat selengkapnya