Duka terasa penuh mengisi kampung ini di pagi yang seharusnya terasa cerah dan damai, selayaknya hari setelah hujan. Dua keluarga berduka, dua orang tak kembali di malam itu. Untunglah Pak Rumbun bukan salah satunya.
Sekelompok warga desa kembali memasuki hutan setelah hari terang sempurna, mencari dua orang yang hilang. Mereka menyusuri sungai, menuruni lembah, memasuki hutan lebih dalam. Namun tak ada tanda-tanda sama sekali, seolah-olah kedua orang itu lenyap ditelan hutan dan tak disisakan sama sekali, seujung kuku pun tidak.
Ibu Ratna belum beranjak dari rumah sejak tadi subuh. Wajahnya menyimpan amarah meskipun Hindun sedang tertidur dalam gendongannya.
Pak Rumbun masih di depan rumah bersama beberapa warga yang masih tegang dengan situasi. Ia sibuk mengasah parang, menyiapkan untuk kembali masuk hutan mencari dua orang yang hilang. Penyeselan masih melekat di rautnya sejak pertama ia tiba dari hutan, sisa-sisa rasa takut karena menyadari kakak, anak kecil yang ia bawa masuk hutan masih tersesat di dalam.
Aku hanya berdiam diri di belakang rumah, melakukan apa pun yang bisa kulakukan. Sedangkan kakak sudah tertidup pulas setelah mandi. Luka di tubuhnya ditempeli banyak daun sirih dan diolesi minyak bintang oleh bu Ratna. Aku ikut menangis saat melihat kakak meringis ditempeli daun itu. Sakit sekali rasanya. Sungguh malang Nasib kakak-ku ini.
“Kamu sengaja membawa Hasan masuk hutan, kan?”
Bukan pertanyaan, lebih tuduhan, bu Ratna langsung menyambar setelah menaruh Hindun di tempatnya.
Pak Rumbun mengangkat wajah pelan.
“Aku bawa semua orang.”
“Tapi Hasan sengaja dijauhkan!” Suara Bu Ratna meninggi sedikit.
Beberapa orang mulai melirik dari kejauhan.
“Karena saya mau bawa dia ke pertemuan di kampung sebelah, kan?”
Pak Rumbun diam cukup lama. Lalu kembali menggesek batu asah ke bilah parang.
Srek.
Srek.
Suaranya tipis seperti napas yang tertahan.
“Anak itu terlalu banyak marah,” katanya akhirnya. “Dan kamu terlalu sering membuat dia merasa marah itu benar.”
Kalimat itu membuat wajah Bu Ratna mengeras.
“Mereka dibuang ke sini,” katanya pelan, namun setiap katanya seperti batu dilempar ke air tenang.
“Dijanjikan tanah subur, lalu dikirim ke hutan yang bahkan tidak mau ditanami. Orang tuanya mati. Kampung ini diabaikan.”
Ia menatap lurus ke arah pak Rumbun
“Kalau dia marah, itu wajar!”
Pak Rumbun menghela napas panjang.
“Aku tidak bilang dia salah. Tapi amarah itu seperti api di musim kemarau. Sedikit saja salah arah, habis semuanya.”
“Rumbun, Hasan berhak untuk membela dirinya, dari ketidakadilan ini.”
“Tidak dengan cara orang dewasa, dia masih anak-anak!”
Bu Ratna terdiam satu dua detik. Ia menatap ke arah kakak. Tatapannya menjadi sendu, seolah melihat seluruh kerasnya negeri ini yang bersekongkol memasuki hidup seorang anak.
“Asal Bapak tahu,” katanya lirih, “anak itu sudah terlalu lama hidup seperti orang dewasa.”
Pak Rumbun tidak menjawab lagi. Karena beberapa kebenaran memang terlalu berat untuk dibantah.
Waktu terus berjalan di kampung transmigrasi itu.