Waktu berjalan diam-diam di Kalimantan. Tidak terasa, tapi mengubah segalanya. Hutan-hutan mulai berlubang, jalan tanah merah mulai dilewati truk perusahaan. Sungai yang dulu hanya dilewati rakit kini sesekali dipotong ponton kayu dan kapal kecil pengangkut sawit, dan anak-anak kecil di kampung transmigrasi tumbuh menjadi orang dewasa sebelum waktunya, termasuk kakak.
Kakak kini, tubuhnya tinggi dan keras seperti batang pohon muda yang tumbuh di tanah miskin. Tangannya penuh urat kasar, kulitnya gelap terbakar matahari, tatapannya tidak lagi seperti anak lelaki yang kehilangan arah. Tatapannya kini seperti orang yang terlalu lama memendam sesuatu, dan sesuatu itu adalah marah.
Ia kini 19 tahun bekerja di kebun sawit milik perusahaan yang baru membuka lahan di pinggir hutan.
Setiap pagi sebelum matahari muncul, truk tua datang mengangkut para pekerja, warga lokal, orang Jawa, Bugis, Banjar, Madura, semua bercampur dalam bak terbuka seperti manusia-manusia yang sama-sama terlalu lelah untuk memilih hidup lain.
Namun meski duduk berdesakan di truk yang sama, mereka tetap saling menjaga jarak. Seperti minyak dan air, tidak pernah benar-benar menyatu.
Di kebun, kubu-kubu terbentuk tanpa perlu diumumkan. Orang lokal berkumpul dengan orang lokal, pendatang dengan pendatang. Kadang hanya soal bahasa, kadang soal kebiasaan, kadang soal tatapan yang terlalu lama. Namun di tanah yang keras, hal kecil selalu mudah tumbuh menjadi pertikaian.
“Tanah ini dulu hutan adat.”
Suara seorang pekerja lokal terdengar suatu siang saat mereka beristirahat.
“Tapi sekarang semua dikasih ke perusahaan.”
“Bukan kami yang ambil,” jawab seorang transmigran tua pelan.
“Tapi kalian yang dibawa pemerintah.”
Kalimat itu jatuh seperti bara kecil ke rumput kering, dan kakak mendengarnya.
Sekarang dia sudah seperti tokoh utama di pertemuan malam yang diadakan bu Ratna. Semakin lama, kumpul warga yang terkadang hanya berupa obrolan kecil. Kini berkembang menjadi tempat orang-orang meluapkan keresahan, tentang perusahaan, tentang pemerintah, tentang tanah, tentang hidup yang terasa semakin sempit meski hutan begitu luas.
Lampu minyak selalu redup di pertemuan-pertemuan itu, namun suara manusia di dalamnya terasa panas.
“Orang-orang itu, makin jadi saja mereka membenci kita,” kata Bu Ratna suatu malam. “Macam kita saja yang mengambil lahan mereka.”
Ia menatap satu per satu wajah di ruangan kecil itu.
“Padahal yang mengambil tanah mereka ya, orang-orang yang bahkan tidak tinggal di sini.”
Kakak mendengarkan seperti orang haus. Karena untuk pertama kalinya, kemarahannya terasa punya bentuk.
“Kalau kita diam terus,” lanjut Bu Ratna, “anak-anak kita nanti cuma jadi buruh di tanah yang bahkan tidak pernah benar-benar menerima kita.”
Kalimat itu menancap dalam kepala kakak seperti paku.
Anak-anak kita.
Tanah yang tidak menerima.