Di kampung transmigrasi itu, waktu tidak berjalan seperti di tempat lain. Ia tidak bergerak melalui kalender, ia bergerak melalui kehilangan. Orang-orang menghitung tahun dari siapa yang mati, siapa yang pindah, siapa yang tidak pernah kembali, dan rumah-rumah kayu yang berdiri di atas tanah merah itu menyimpan semuanya seperti liang ingatan yang tidak pernah penuh.
Kami tidak tumbuh dengan cara menghitung waktu yang lumrah dilakukan. Kami tidak ingat lagi kapan tepatnya suara kami berubah menjadi berat, kapan telapak tangan mulai dipenuhi kapalan, kapan Hindun sudah mulai berjalan, dan kapan bahu kakak mulai membungkuk karena terlalu lama memikul beban yang bukan miliknya.
Bagi kami waktu sudah tak berjalan sejak ayah hilang dan ibu mati. Aku menandakan waktu kalau saat itu rumah terlihat lebih luang tanpa ibu, lebih kosong dan sedikit lebih dingin, seolah dinding-dinding kayunya ikut kehilangan nyawa.
Aku juga menandakan waktu saat kakak melakukan satu-satunya hal yang ia pahami.
Ia bertahan.
Ia menjaga.
Ia memastikan tidak ada lagi yang hilang dan mati.
Karena baginya, rumah yang kehilangan terlalu banyak orang pada akhirnya akan berubah menjadi makam.
1992
Kabar tentang sekolah datang pada awal musim penghujan. Langit mendung selama berhari-hari, jalan-jalan tanah berubah menjadi lumpur, sungai meluap hingga hampir menyentuh akar pohon di tepinya.
Kepala sekolah datang dengan sepeda tuanya, baju lelaki itu basah, sandalnya penuh lumpur. Namun wajahnya menyimpan sesuatu yang jarang terlihat di kampung itu.
Harapan.
Di dalam rumah ia mengatakan bahwa aku memiliki nilai terbaik, bahwa ada kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke kota, bahwa aku memiliki masa depan.
Masa depan.
Bayangkan, berani betul kepala sekolah itu mengucapkannya di depan kami.
Aku dan kakak, tak bergeming sama sekali dengan kalimat utopis barusan. Sungguh itu terlalu di luar nalar bagi kami, terlalu bombastis. Karena selama bertahun-tahun kami hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya bertahan sampai esok pagi.
Masa depan, Cih
Bagiku, melihat kakak pulang malam hari tanpa luka saja sudah cukup. Tak ada itu masa depan, aku hanya berharap kakakku tidak mati hari itu. Ia berseteru setiap hari dengan warga lokal, ia membuka lahan setiap hari di dalam hutan, ia ikuti setiap pertemuan yang penuh kemarahan. Bagaimana bisa aku bermimpi pada masa depan. Apalagi masa depan yang diceritakan kepala sekolah ini.
Namun kakak menyambutnya berbeda. Ia langsung menyetujuinya. Tanpa diskusi, tanpa basa-basi denganku. Bahkan sebelum guru itu selesai bicara.
Aku kira tak bergeming kami satu pemikiran, ternyata bertolak belakang.
Kakak, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ada sesuatu yang berhasil ia selamatkan. Seolah seluruh kerja kerasnya selama bertahun-tahun akhirnya memiliki tujuan. Seolah semua luka di tangannya tidak sia-sia. Seolah kehilangan ayah dan kematian ibu tidak berakhir menjadi penderitaan yang percuma.
Namun itu menurutnya. Bukan ini yang kuinginkan.
"Aku tidak mau pergi."
Aku tahu kalimat itu terasa seperti batu yang dilemparkan ke kaca tipis baginya. Retak.
Kakak menoleh, mungkin berharap mendengar kalimat lain. Mungkin berharap adiknya ini hanya bercanda.
Namun aku bukan lagi anak-anak, bentukku pun sudah hilang dari wujud anak-anak. Aku tidak sedang bercanda, aku lebih serius dari laba-laba yang merajut sarangnya.
“Apa-apaan kamu!” kakak sampai berdiri dari tempatnya.
“Kamu berangkat ke kota, sekolah di sana!” tengkingnya.