Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #13

Rumah Ini Tumbuh

Ada masa-masa dalam hidup ketika penderitaan berhenti mengetuk pintu. Bukan karena ia pergi, bukan karena ia kalah, melainkan karena untuk sesaat ia memilih beristirahat, dan bagi kami masa tersebut datang perlahan seperti embun pagi yang turun tanpa suara.

Setelah berbulan-bulan perdebatan, setelah malam-malam panjang yang dipenuhi kebimbangan dan ketakutan, aku akhirnya memilih berangkat ke kota. Bukan karena aku berubah pikiran, bukan pula karena kakak menang dalam perdebatan kami. Melainkan karena suatu hari aku melihat kakaku tertidur di belakang rumah setelah bekerja. Masih mengenakan pakaian yang telah ia pakai sejak kemarin-kemarin. Masih penuh lumpur kebun. Tangannya masih menggenggam surat penerimaan sekolah yang sudah mulai kusut.

Untuk pertama kalinya aku melihat dengan jelas sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin aku lihat. Kakak lelah, sangat lelah, namun tetap berdiri, tetap berjalan, tetap bermimpi untukku.

Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menolak.

Keberangkatanku terjadi pada pagi yang cerah. Langit Kalimantan berwarna biru pucat dan kabut masih menggantung di atas sungai.

Kakak dan Hindun mengantarku sampai dermaga kecil yang selama bertahun-tahun menjadi penghubung kampung mereka dengan dunia luar.

Kami tidak banyak bicara. Sebagian besar orang yang saling menyayangi memang tidak pandai mengucapkan perpisahan. Kami hanya berdiri berdampingan sambil memandangi perahu yang akan membawaku menuju kecamatan. Menuju kehidupan yang belum pernah aku kenal.

"Belajar yang benar," hanya itu yang mampu diucapkan kakak,

"Jaga rumah," balasku.

Kakak membalas dengan tersenyum kecil, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama

Perahu perlahan bergerak. Air sungai beriak pelan, dan mereka berdiri sampai bayanganku hilang di tikungan sungai. Seperti ayah dulu yang pernah hilang di balik cakrawala laut.

Namun kali ini berbeda. Kali ini yang pergi membawa harapan, bukan kehilangan.

Pak Rumbun telah mengatur semuanya. Aku akan tinggal di rumah kemenakan jauh yang berada tidak jauh dari sekolah. Rumah sederhana di pinggir kecamatan.

Tidak mewah, tidak besar, namun cukup aman, cukup hangat. Cukup untuk seorang anak kampung yang sedang mengejar masa depan.

Lihat selengkapnya