Ada masa-masa ketika hidup terasa begitu tenang hingga manusia mulai percaya bahwa penderitaan telah selesai, bahwa luka telah sembuh, masa buruk telah tertinggal jauh di belakang. Padahal sering kali, ketenangan hanyalah cara nasib mengambil napas sebelum kembali menjalankan tugasnya. Seperti Kalimantan di pertengahan 90-an
Bagi aku dan kakak, hidup belum pernah sebaik ini. Tidak mewah, tidak juga menajdi mudah, tetapi baik. Dan bagi seseorang yang sejak kecil hanya mengenal kehilangan, kata "baik" sudah terasa seperti hadiah dari langit.
Surat-surat terus datang. Kadang dua lembar, kadang lima lembar, kadang hanya secarik kertas berisi kabar tentangku. Namun bagi kakak dan Hindun, surat-surat itu sangat berharga. Ia menyimpannya di dalam peti kayu tua peninggalan kakek, di samping beberapa benda yang tersisa dari masa lalu.
Setiap kali menerima surat dariku, kakak selalu meminta Hindun membacakannya perlahan, membaca tulisanku yang semakin rapi, semakin dewasa. Setiap kali ia membaca surat itu, dadanya selalu dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.
Bangga.
Sedih.
Bahagia.
Rindu.
Semuanya bercampur seperti warna air sungai setelah hujan
Hindun, adik perempuanku yang lahir di tengah kesedihan pun tumbuh dengan cepat. Terlalu cepat. Anak kecil yang dulu hanya bisa digendong kini berlari ke mana-mana seperti rusa kecil.
Ia sudah sekolah dan sudah pandai membantu kakak memasak. Ia mulai memiliki mimpi-mimpi yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh kakak dan aku ketika seusianya.
Kadang ia akan duduk di teras rumah sambil membaca keras-keras, salah mengeja setengah kata, lalu tertawa sendiri. Dan setiap kali melihatnya, kakak selalu teringat sesuatu. Anak itu adalah satu-satunya anggota keluarga yang tidak pernah benar-benar mengenal penderitaan masa lalu. Tidak mengenal kapal, tidak mengenal laut, tidak mengenal ayah dan tidak mengenal ibu. Ia tumbuh dari cerita, bukan dari kenangan.
Mungkin itu adalah keberuntungan terbesar yang pernah dimiliki keluarga ini.
Kampung kami juga mulai berubah. Sawah mulai menghasilkan, kebun semakin luas, rumah-rumah kayu yang dulu tampak seperti tempat singgah kini terlihat seperti rumah sungguhan. Orang-orang yang dulu datang dengan pakaian lusuh dan wajah putus asa kini mulai tersenyum ketika bertemu tetangga. Bahkan pertikaian lama antara pendatang dan warga lokal perlahan menghilang.
Anak-anak bermain bersama. Pernikahan mulai terjadi antara keluarga lokal dan warga transmigran, dan gotong royong menjadi pemandangan biasa. Orang-orang mulai percaya bahwa mereka telah menemukan cara hidup bersama.
Dan memang, secara kasat mata semuanya terlihat baik. Namun jauh di bawah permukaan, sesuatu sedang tumbuh. Diam-diam, seperti akar pohon yang merambat di bawah tanah.
Perusahaan-perusahaan kayu terus masuk, hutan-hutan terus dibuka dan jalan-jalan baru bermunculan. Entah sejak kapan, truk-truk semakin sering melintas.
Kata orang di radio, perekonomian mulai meningkat karena uang mulai beredar. Namun seingatku, tidak semua orang mendapat bagian yang sama.
Ada kampung yang berkembang, dan tetap ada kampung yang tertinggal. Ada yang memiliki pekerjaan, tak sedikit juga yang kehilangan tanah.
Di warung-warung kopi, orang mulai mengeluh. Tidak dengan suara keras, melainkan dengan bisikan. Tentang lahan, tentang harga, tentang perusahaan, tentang pemerintah.
Sesekali terdengar kalimat-kalimat yang membuat udara terasa sedikit lebih dingin.
"Mereka lebih diprioritaskan."
"Tanah itu dulu milik siapa,"