Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #15

Kumala

Tahun demi tahun berlalu, musim silih berganti, manusia pun datang dan pergi, negara berkehendak sesuka hati. Tak ada yang peduli.

Aku akan menyelesaikan sekolah dua belas tahunku dalam satu tahun lagi. Dua kali aku mengalami akselerasi, sebuah penghargaan yang cukup bagiku, karena aku sudah tak sabar untuk membantu kakak menjaga rumah dan adik. Aku tak sabar ingin berperan di rumah kami.

Hidup kakak berubah sejak aku sekolah, lebih membaik sejak Hindun sekolah, dan kini, menjadi lebih baik lagi setelah ia mengenal gadis itu.

Ada orang-orang yang datang ke dalam hidup bukan untuk mengubah dunia, mereka hanya mengubah satu hati. Namun kadang satu hati yang berubah mampu mengubah seluruh cara seseorang memandang dunia. Begitulah perempuan itu datang ke dalam hidup kakak. Tanpa suara, tanpa peristiwa besar, tanpa kisah yang pantas dikenang banyak orang.

Ia hanya hadir seperti hujan pertama setelah musim kemarau yang panjang. Pelan, sejuk, dan tanpa disadari membuat tanah yang lama retak mulai kembali hidup.

Kakak pertama kali melihatnya di pasar, hari itu ia baru selesai menjual hasil kebun. Karung-karung lada dan rotan telah berpindah tangan. Upah yang diterimanya tidak seberapa, tetapi cukup untuk hidup kami bertiga.

Pasar sedang ramai, orang-orang saling berseru dalam berbagai bahasa. Suara tawar-menawar bercampur dengan aroma ikan asin, rempah-rempah, dan tanah basah setelah hujan semalam.

Di tengah keramaian itulah kakak melihat seorang perempuan sedang membantu seorang nenek Dayak mengangkat karung beras yang hampir dua kali ukuran tubuhnya. Tak ada yang memintanya membantu, ia melakukannya begitu saja.

Selesai mengangkat karung, ia tersenyum, membungkuk sedikit lalu kembali berjalan sambil membawa keranjang rotan di punggungnya. Sesederhana itu. Namun entah mengapa, pandangan kakak terkunci hingga langkahnya hilang di ujung pasar.

Hari-hari berikutnya ia kembali melihat perempuan itu. Kadang di pasar, kadang di dermaga, kadang membantu anak-anak belajar membaca di balai desa, kadang ikut bergotong royong memperbaiki jembatan bambu yang rusak diterjang banjir.

Ia tidak pernah menjadi pusat perhatian. Namun setiap kali hadir, suasana di sekitarnya selalu terasa lebih ringan.

Namanya Kumala.

Anak seorang penyadap karet dari kampung Dayak yang letaknya tidak jauh dari permukiman transmigran. Ayahnya pernah membantu membuka jalan ketika rombongan transmigrasi pertama datang. Ibunya sering menukar hasil kebun dengan beras milik warga Jawa.

Ia tumbuh di antara dua dunia. Menguasai bahasa Dayak dan sedikit-sedikit memahami bahasa Jawa. Baginya, perbedaan bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan. Ia telah hidup bersamanya sejak kecil.

Kakak tidak tahu kapan tepatnya ia mulai mencari-cari alasan untuk pergi ke pasar. Kadang hasil panen sebenarnya belum cukup banyak, kadang garam di rumah masih ada, kadang minyak tanah belum habis, namun ia tetap berangkat hanya untuk berjalan di antara keramaian, hanya untuk berharap dapat melihat wajah yang sama, dan setiap kali berhasil bertemu keberaniannya justru menghilang.

Puluhan kali ia menyusun kalimat di kepalanya.

"Apa kabar?"

"Sudah lama di sini?"

"Boleh aku membantu?"

Namun begitu perempuan itu berada beberapa langkah di depannya, seluruh kalimat itu lenyap seperti kabut diterpa mentari. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki tinggi dengan tangan penuh kapalan yang tiba-tiba tidak tahu harus berbuat apa.

Lihat selengkapnya