Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #16

Ada Cinta di Balik Hutan

Ada musim yang hadir bukan untuk mengajarkan arti kehilangan, melainkan untuk mengingatkan bahwa Tuhan pernah menitipkan kebahagiaan, walau hanya sekejap, agar manusia memiliki kenangan yang dapat dipeluk ketika semua itu kembali diambil.

Setelah sekian kehilangan, musim itu akhirnya menghampiri kami.

Pernikahan kakak berlangsung sederhana. Jangan berharap ada pelaminan megah dan rangkaian bunga yang bersusun tiga. Yang terlihat hanya sebuah rumah kayu yang dihias daun kelapa muda, anyaman bambu dan bunga-bunga hutan yang dipetik anak-anak kampung sejak pagi.

Tidak ada pakaian yang dijahit berbulan-bulan, namun kesederhanaan sering kali berkata lebih jujur. Karena yang hadir bukan untuk melihat pesta. Melainkan untuk menyaksikan dua kehidupan yang selama bertahun-tahun ditempa tragedi akhirnya memilih berjalan dalam satu langkah.

Seluruh kampung datang. Warga transmigran memenuhi halaman rumah. Tak lama kemudian warga dari kampung Dayak berdatangan membawa hasil kebun, rotan, madu hutan, buah-buahan, bahkan hasil buruan yang kemudian dimasak bersama.

Tak ada lagi meja yang memisahkan siapa pendatang dan siapa warga asli. Tak ada lagi tikar yang dibentangkan berdasarkan asal-usul. Semua duduk bercampur. Semua tertawa dalam bahasa yang berbeda-beda, dan anehnya, hari itu tidak ada satu pun bahasa yang terdengar asing.

Pak Rumbun duduk di sudut halaman sambil memandang Kakak dari kejauhan. Matanya berkaca-kaca.

Bu Ratna yang duduk di sampingnya tersenyum kecil. "Anak itu akhirnya bisa tertawa."

Pak Rumbun mengangguk pelan. "Sungguh aku tak ingat kapan melihat anak ini sebahagia itu.”

Ketika ijab kabul selesai diucapkan, Kakak menundukkan kepala begitu lama, bukan karena ia menangis, melainkan karena ia sedang mengingat satu wajah yang tidak hadir.

Ayah.

Ia membayangkan seandainya lelaki itu masih hidup. Barangkali akan menjadi orang pertama yang menepuk bahunya. Barangkali akan tertawa yang paling keras, dan akan berkata bahwa anak yang pernah dititipkan menjaga rumah kini telah berhasil membangun rumahnya sendiri dan tetap menjaga rumah lama.

Kakak tersenyum dalam diam. Namun aku melihat raut dan matanya berbisik, 

"Ayah... rumah ini masih berdiri."

Hari-hari setelah pernikahan berlalu dengan tenang. Rumah kecil yang dahulu hanya dipenuhi suara tangisan kini perlahan dipenuhi tawa. Kumala menghidupkan halaman dengan tanaman bunga. Jendela yang dulu selalu tertutup kini hampir setiap pagi terbuka lebar. Aroma kopi, kayu bakar, dan masakan hangat menyambut kakak setiap kali pulang dari kebun. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sejak ibunya masih hidup.

Kadang-kadang ia berhenti beberapa langkah sebelum masuk ke rumah. Hanya untuk memandangi cahaya lampu yang keluar dari sela-sela papan dinding. Baginya, cahaya itu bukan berasal dari lampu minyak. Melainkan dari kehidupan yang akhirnya kembali pulang.

Lihat selengkapnya