Sejarah tidak pernah datang sambil mengetuk pintu. Ia menyelinap melalui kabar-kabar kecil yang mula-mula terdengar seperti angin lalu. Terhembus begitu saja, senyap dan memasuki ruang ruang kecil dalam hati orang-orang yang masih menyimpan bara.
Seorang sopir truk membawanya dari kota. Seorang pedagang membisikannya di pasar. Seorang buruh kebun mengulanginya di pondok tempat mereka beristirahat.
Lalu kabar itu berjalan sendiri, melintasi sungai, menembus hutan, berpindah dari satu kampung ke kampung lain tanpa pernah kehilangan bentuknya.
Konon, di wilayah lain telah terjadi bentrokan. Mulanya hanya perkelahian dua orang. Lalu keluarga ikut campur, tetangga ikut campur, kampung ikut campur. Tak lama kemudian, rumah-rumah mulai dibakar.
Orang-orang mulai kembali tidur sambil memeluk parang. Tak seorang pun benar-benar tahu bagaimana kisah itu bermula. Namun setiap orang merasa tahu siapa yang harus disalahkan. Begitulah kebencian bekerja, ia tidak membutuhkan kepastian, ia hanya membutuhkan cerita yang cukup untuk dipercaya.
Kampung kami sebenarnya masih tenang. Sawah-sawah tetap ditanami dan ladang-ladang tetap dibuka. Pasar masih dipenuhi suara tawar-menawar, pun anak-anak masih bermain di tepian sungai.
Namun jika diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang berubah. Orang-orang mulai pulang sebelum matahari tenggelam.
Parang yang dulu ditinggalkan di pondok kebun kini dibawa ke mana-mana. Percakapan menjadi lebih pendek dan tawa menjadi lebih pelan. Mata mulai lebih sering mengamati daripada menyapa.
Tidak ada yang mengaku takut. Tetapi semua orang mulai bersiap terhadap sesuatu yang bahkan belum mereka mengerti.
Bu Ratna kembali mengumpulkan warga transmigran. Suara perempuan itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu, penuh bara.
"Kita jangan lengah."
"Kita harus saling menjaga."
"Kalau kita diam, suatu hari kita yang akan menjadi korban."
Tatapan beberapa warga mengarah kepada kakak. Dulu, lelaki itulah yang selalu berdiri paling depan. Kini ia hanya duduk diam.
"Hasan, kamu mau ikut ke kota untuk membahas ini dengan pemerintah?”
Kakak hanya menjawab dengan tatapan singkat lalu membuang pandangannya. Sebuah kalimat pendek, namun membuat ruangan menjadi sunyi.
Bu Ratna menatapnya agak lama, mengharapkan balasan dari tatapannya. Tapi kakak tetap tak bergeming. Ia justru berjalan keluar dari balai. Entah mengapa, ia mendadak teringat akan diriku, Hindun dan Kumala yang sedang hamil tua.
Ibu Ratna kembali berbicara. Ia tidak tahu harus berlaku bagaimana ke kakak. Sisi amarahnya ingin kakak kembali menjadi jendral perangnya, tapi sisi keibuannya ingin kakak terus melanjutkan kebahagiannya, memimpin keluarga yang ia bentuk dengan darah dan keringatnya sejak masih kanak-kanak, dan sudah berbuah manis saat ini.
Saat ini, bagi kakak Kalimantan telah menjadi rumah, dan rumah tidak dibangun dengan amarah. Rumah dibangun dengan orang-orang yang memilih tetap tinggal meski memiliki alasan untuk pergi.