Malam itu kakak tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda rumah hingga matahari kembali naik. Bertahun-tahun terasa damai kini kembali tampak asing. Ia teringat semua yang pernah dikatakan bu Ratna, tentang ketidakadilan, tentang bara yang tidak pernah benar-benar padam, tentang sejarah yang selalu mencari jalan untuk mengulang dirinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kakak berpikir untuk kembali menghadiri pertemuan-pertemuan malam, mengumpulkan warga transmigran, berdiri di depan mereka seperti dahulu.
Barangkali sudah waktunya mereka bersiap. Barangkali kedamaian yang selama ini mereka bangun hanya sementara.
Namun ketika matahari terbit, ia melihat kembali istrinya di halaman, menjemur pakaian, terdiam dan masih dengan raut takut akibat kejadian di pasar kemarin.
Di meja masih ada surat dari Hindun yang kini telah tumbuh menjadi gadis yang tekun belajar di pesantren di kota. Tulisan tangannya semakin indah. Surat itu bercerita tentang kitab-kitab yang dipelajarinya, tentang sahabat-sahabat baru.
Di sudut meja ada surat lain, dari aku.
Mungkin...
Pikirnya, inilah kemenangan yang selama ini ia cari. Ia tidak ingin kembali hidup bersama amarah. Ia tidak ingin anaknya tumbuh dengan kebencian yang sama seperti yang pernah memenuhi dadanya.
Kalau dunia sedang menjadi gila, biarlah rumah ini tetap waras. Dan, kalau ada satu tempat yang masih bisa ia selamatkan, biarlah tempat itu adalah keluarganya.
Hari-hari kembali berjalan. Kakak tetap berangkat ke kebun setiap pagi, tetap membersihkan ladang, tetap memanen sawit, dan tetap membaca surat-surat adiknya. Ia tetap menjauh dari segala pembicaraan dan kumpul warga yang berbisik tentang kericuhan dan pertikaian di tanah ini. Ia hanya ingin hidup bersama keluarganya, di rumah yang telah ia jaga.
Namun Indonesia sedang memasuki zaman yang berbeda. Di berbagai daerah, berita tentang benturan-benturan kecil semakin sering terdengar. Ada yang bermula dari salah paham, ada yang dipicu persoalan ekonomi, ada pula yang kemudian dibungkus oleh identitas dan prasangka.
Sebagian cepat mereda, sebagian lain menyisakan dendam. Tidak ada yang benar-benar tahu ke mana arah semua itu akan membawa negeri ini. Yang pasti, udara terasa semakin berat, seolah-olah seluruh negeri sedang menahan napas.
Tidak ada negeri yang benar-benar runtuh dalam satu hari. Ia retak terlebih dahulu. Retakan itu mula-mula begitu kecil hingga hanya terdengar seperti bunyi halus di dalam dinding. Orang-orang tetap tidur, tetap pergi bekerja, tetap menanak nasi dan menyiram tanaman. Lalu suatu pagi, mereka terbangun dan mendapati rumah yang selama ini mereka huni ternyata telah berubah menjadi puing.
Begitulah Indonesia memasuki tahun 1998.
Berita tentang Jakarta datang seperti hujan yang dibawa angin. Tidak ada seorang pun di kampung kami yang pernah melihat ibu kota. Namun nama Jakarta tiba-tiba menjadi begitu dekat. Terlalu dekat.
Orang-orang bercerita tentang mahasiswa yang memenuhi jalan, tentang gedung-gedung yang dibakar, tentang toko-toko yang dijarah, tentang orang-orang yang berlari tanpa tahu ke mana harus mencari selamat.
Radio-radio tua di warung kopi hampir tidak pernah dimatikan. Suara penyiar menjadi suara yang paling ditunggu setiap malam. Lalu datang kabar yang selama puluhan tahun terasa mustahil. Presiden yang memimpin negeri selama lebih dari tiga dekade akhirnya melepaskan jabatannya.
Sebagian orang bersorak, sebagian lagi justru diam. Karena mereka tahu, perubahan pemerintahan tidak otomatis mengenyangkan perut yang lapar.
Perubahan itu akhirnya tiba juga di Kalimantan. Bukan dalam bentuk demonstrasi, bukan pula dalam bentuk gedung-gedung yang terbakar. Melainkan melalui sesuatu yang jauh lebih sunyi.
Harga.
Harga beras melonjak, minyak tanah menghilang dari warung, gula dijual sedikit demi sedikit. Segala pangan menjadi barang langka. Perusahaan kayu mulai mengurangi pekerja, sebagian kebun menghentikan pembukaan lahan, sebagian lagi menunda pembayaran upah.