Tidak ada yang benar-benar tahu kapan sebuah kota berhenti menjadi rumah. Barangkali bukan ketika api pertama menyala, bukan pula ketika kaca pertama pecah. Melainkan ketika manusia berhenti melihat manusia lain sebagai sesama.
Segalanya selalu dimulai dari sesuatu yang kecil. Sebuah pertengkaran, sebuah kabar yang berubah setiap kali berpindah mulut, sebuah cerita yang tak lagi dapat dibedakan antara kenyataan dan kemarahan. Lalu orang-orang mulai memilih percaya pada ketakutannya sendiri.
Rasa takut, bila dipelihara terlalu lama, selalu menemukan jalannya menuju bencana.
Pagi itu, matahari terbit seperti biasanya. Burung-burung juga masih bernyanyi di tepian sungai. Anak-anak masih mengenakan seragam sekolah, berjalan syahdu di pagi yang agak mendung. Pedagang masih membuka lapak.
Tidak ada langit yang memberi tanda. Tidak ada angin yang berbisik bahwa hari itu akan menjadi hari yang diingat selama puluhan tahun.
Namun menjelang siang, kabar mulai datang.
Mula-mula hanya berupa bisikan, lalu berubah menjadi teriakan, kemudian menjadi pertikaian, dan ditutup dengan ketakutan. Di kota, orang-orang berlarian meninggalkan pasar, toko-toko menutup pintu, rumah-rumah dikunci rapat, kendaraan terbakar dan jasad mulai terlihat.
Kepulan asap hampir di tiap sudut kota terlihat dari kejauhan, menggelembung serupa gumpalan hitam yang saling beradu tinggi. Tak lama kemudian, jalan-jalan yang biasanya dipenuhi suara tawar-menawar berubah menjadi arus manusia yang hanya ingin menyelamatkan diri. Tidak ada lagi yang bertanya siapa benar dan siapa salah. Semua hanya ingin pulang.
Bel sekolah siang itu berbunyi lebih cepat dari biasanya. Namun tidak ada anak yang bersorak, tidak pula ada yang berlari menuju kantin. Guru matematika yang baru saja menulis pecahan di papan tulis mendadak berhenti berbicara ketika seseorang mengetuk pintu kelas dengan tergesa.
Beberapa menit kemudian, seluruh guru berkumpul di lorong. Wajah mereka berubah. Tidak ada yang menjelaskan apa pun kepada murid-murid. Hanya ada satu kalimat.
"Tidak ada yang pulang sendiri."
Hindun memandang keluar jendela, menatap bingung ke asap tipis yang mulai naik dari kejauhan. Ia belum mengerti. Baginya, kota itu masih sama seperti pagi tadi. Masih ada pohon-pohon yang bergoyang ditiup angin, masih ada pedagang yang lewat di depan sekolah, masih ada burung-burung yang bertengger di kabel listrik. Namun satu per satu orang tua mulai berdatangan menjemput anak-anak mereka dan tangis mulai terdengar dari beberapa kelas.
Menjelang sore, halaman sekolah yang biasanya dipenuhi suara permainan berubah menjadi tempat orang-orang saling mencari. Nama dipanggil berkali-kali. Ada yang pulang, ada yang masih menunggu.
Hindun tetap duduk di bangkunya karena tidak ada yang datang menjemput. Keluarga angkatnya tinggal cukup jauh dari sekolah.
Guru-guru akhirnya memutuskan seluruh murid yang masih tertinggal harus dievakuasi bersama.
Menjelang senja, mereka keluar dari gerbang sekolah. Saat itulah Hindun melihat kota yang selama ini dikenalnya telah berubah menjadi sesuatu yang asing.
Jalan-jalan yang biasa dipenuhi sepeda dan becak kosong kini serupa terkena putting beliung. Beberapa bangunan masih mengepulkan asap, dan pintu-pintu toko tertutup rapat.
Orang-orang berlari sambil memanggil nama anggota keluarganya. Suara kendaraan bersahut-sahutan. Tidak ada lagi wajah yang tenang.
Di beberapa sudut jalan, orang-orang berkerumun, ,engelilingi tubuh-tubuh yang terbaring diam di jalan dan menunggu untuk dievakuasi.
Hindun dan sahabatnya cukup lama memperhatikan, bertanya-tanya mengapa banyak manusia tergelatak bersimbah darah di jalan-jalan kota. Air matanya sudah deras sejak pertama memasuki sudut jalan itu.