Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #20

Hindun

Kabar itu tiba di kampung Kakak menjelang sore. Seorang sopir truk datang dengan wajah pucat dan napasnya memburu.

"Kota kacau!"

Hanya dua kata, namun cukup membuat dunia kakak runtuh. Satu nama langsung memenuhi kepalanya. Hindun.

Tangannya seketika gemetar. Tanpa berpikir, ia berlari kembali ke rumah, mengambil tas lusuh yang biasa dipakainya ke ladang dan memenuhinya dengan peralatan apa pun yang bisa ia temukan, tak memedulikan Pak Rumbun yang berdiri di depan rumah, berusaha menghadang kakak.

"Aku harus menjemputnya!" ujar kakak.

"Kamu tidak bisa ke sana sekarang, tunggulah barang sehari. Seluruh jalan ditutup dan semua orang bisa menjadi sasaran."

"Aku harus jemput adikku!" Ketakutan sudah melintas di raut kakak.

Pak Rumbun memegang bahunya. "Kamu bahkan belum tahu keadaan di sana."

"Justru karena aku tidak tahu!"

Suara Kakak pecah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketakutan lama kembali memenuhi matanya. Ketakutan yang pernah ia rasakan di atas kapal. Ketakutan ketika ibunya mengembuskan napas terakhir. Ketakutan ketika tersesat di hutan. Semua kembali hidup dalam satu tarikan napas.

"Kalau kamu ke kota sekarang, kamu bisa ikut terjebak," ujar Pak Rumbun

Kakak menggeleng.

"Kalau aku diam di sini, aku akan kehilangan dia."

Keheningan menyelimuti rumah ini seketika. Mereka sama-sama tahu bahwa kata "kehilangan" sudah sering terdengar di rumah ini, namun tak pernah cukup untuk menjadi hal biasa. Ia selalu menciptakan keheningan.

"Pergilah."

Kumala, yang sejak tadi berdiri memeluk bayi mereka di dalam rumah, yang sedari tadi hanya berdiri menatap takut hingga air mata menitik menatap kakak, akhirnya berucap.

"Pergilah, Hasan. Bawa pulang adikmu."

Suaranya pelan, namun setiap katanya jatuh seperti batu di dasar sungai.

Lihat selengkapnya