Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #21

Sunyi itu Kembali

Sejarah hampir tidak pernah lahir dari satu peristiwa. Ia tumbuh perlahan, seperti akar yang merambat jauh di bawah tanah hingga tak lagi terlihat dari permukaan.

Orang-orang kemudian mengingat hari ketika semuanya meledak, tetapi melupakan puluhan tahun ketika luka itu dibiarkan terbuka.

Begitulah yang terjadi di Kalimantan.

Bertahun-tahun sebelumnya, ribuan keluarga datang melalui program transmigrasi. Mereka datang membawa harapan, sementara masyarakat yang lebih dahulu hidup di tanah itu membawa sejarahnya sendiri.

Ketika hutan berubah menjadi perkebunan, tanah berpindah tangan, pekerjaan semakin sulit didapat, dan krisis ekonomi mengguncang seluruh negeri setelah Reformasi 1998, kehidupan menjadi semakin berat bagi semua orang.

Di tengah kesulitan itu, rasa curiga tumbuh lebih cepat daripada kehidupan itu sendiri. Rumor mengalahkan kebenaran. Ketakutan mengalahkan percakapan.

Dan ketika percikan pertama muncul, yang meledak bukan hanya kemarahan hari itu, melainkan akumulasi luka yang bertahun-tahun tak pernah benar-benar disembuhkan.

Tidak semua orang membenci, tidak semua orang ikut bertikai. Banyak pula yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan tetangga, sahabat, bahkan orang yang baru dikenalnya.

Namun sejarah sering kali lebih keras daripada niat baik manusia. Ia menyeret orang-orang yang tidak memilih untuk menjadi bagian darinya.

Keluarga kami pun termasuk di antaranya. Kami bahkan bukan bagian dari kelompok yang menjadi pusat pertikaian, begitu pula juga dengan hampir seluruh warga desa ini.

Namun sejarah tidak pernah bertanya siapa yang bersalah sebelum mengetuk pintu seseorang. Ia hanya datang, dan setiap orang dipaksa menanggung akibatnya.

Ketika Hindun akhirnya kembali ke rumah, Kakak merasa seolah sedang mengantar pulang bayangan. Meskipun Hindun masih memiliki wajah yang sama, msasih memiliki rambut yang sama, namun tidak ada lagi cahaya di matanya.

Rumah yang beberapa tahun terakhir dipenuhi tawa kembali tenggelam dalam kesunyian. Kesunyian yang pernah mereka kenal bertahun-tahun lalu, kesunyian ketika ayah tak pernah kembali, kesunyian ketika ibu berhenti berbicara kepada dunia.

Kakak melihat masa lalu berdiri di depan matanya. Hindun duduk di sudut rumah, memeluk lututnya, persis seperti ibu dahulu.

Ia tidak menjawab ketika dipanggil, pun tidak mengangkat kepala ketika diajak makan. Sering kali makanan yang disiapkan Kumala mengeras begitu saja di atas meja.

Malam menjadi waktu yang paling menakutkan. Sedikit suara langkah di halaman membuat Hindun menjerit. Kadang ia bersembunyi tanpa mampu menjelaskan apa yang sedang ditakutinya. Kadang ia terbangun sambil menutup telinga, memejamkan mata sekuat tenaga, dan terror yang melintas di wajahnya. 

Kakak hanya berdiri di depan pintu. Tidak mampu menolong, tak pula mampu mengembalikan adiknya yang dulu.

Saat ibunya meninggal, Kakak masih bisa menangis. Saat ayahnya menghilang, ia masih bisa berharap. Namun kali ini, kehilangan itu memiliki wajah. Ia duduk di ruang tengah setiap hari.

Bernapas.

Memandangnya.

Mengingatkannya bahwa ada luka yang tidak membunuh tubuh, tetapi perlahan menghilangkan seseorang dari dalam dirinya.

Kami mulai percaya bahwa keadaan seperti ini lebih menyakitkan daripada kematian. Karena kematian mengajarkan manusia cara berduka. Sedangkan kehilangan seperti ini memaksa aku dan kakak berduka setiap hari, terhadap seseorang yang masih duduk beberapa langkah dari kami.

Oh, adikku Hindun. Engkau lahir dengan segala penderitaan yang dimiliki dunia ini, dan kini lagi-lagi engkau dipaksa hidup dengannya. Sungguh keji dunia ini, Hindun.

Lihat selengkapnya