Negara perlahan mulai kembali mengambil alih keadaan. Pasukan keamanan berdatangan dan Jalan-jalan yang beberapa minggu sebelumnya hanya dipenuhi kepanikan kini mulai dijaga siang dan malam.
Pos-pos pemeriksaan berdiri di setiap jalan utama. Truk-truk yang dahulu mengangkut pengungsi kini membawa bantuan makanan dan obat-obatan. Radio-radio kembali menyiarkan kabar bahwa keadaan mulai terkendali. Para pemuka masyarakat dipertemukan. Kesepakatan damai mulai diucapkan. Kota perlahan belajar bernapas kembali.
Namun damai yang diumumkan negara tidak serta-merta sampai ke hati manusia. Di kampung-kampung, bisikan masih hidup. Orang-orang masih tidur dengan pakaian lengkap. Parang tetap digantung dekat pintu. Anjing yang menggonggong di tengah malam masih membuat seluruh rumah terbangun.
Sesekali terdengar kabar tentang keributan kecil di desa yang jauh. Tidak sebesar sebelumnya, tidak lagi memenuhi berita. Tetapi cukup untuk mengingatkan semua orang bahwa bara yang pernah menyala belum sepenuhnya dingin.
Kakak tidak pernah benar-benar kembali. Tubuhnya ada, namun pikirannya tetap berjaga di malam ketika Hindun ditemukan di tempat penampungan.
Ia kembali bekerja di kebun, tetapi bukan lagi untuk menghidupi keluarga.
Ia bekerja seperti seseorang yang sedang menghukum dirinya sendiri.
Matahari belum terbit ketika ia berangkat. Sering kali matahari telah terbit kembali ketika orang-orang menemukannya masih duduk di gardu jaga di batas kampung.
Tangannya dipenuhi kapalan baru. Matanya jauh lebih cekung dan yubuhnya semakin kurus. Kakak, Ia hampir tidak mengenal lelah.
Atau mungkin...ia memang tidak lagi peduli
Kakek Rahman hampir setiap malam duduk di beranda menunggunya.
Begitu Kakak pulang, lelaki tua itu akan mengajaknya duduk. Tidak pernah memarahi, tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya bercerita. Tentang Rembang, tentang sawah yang dahulu digarap Hasan, tentang ibu Kakak ketika masih kecil, tentang waktu, tentang Tuhan.
"Manusia boleh menjaga rumah," katanya suatu malam.
"Tetapi jangan sampai rumah itu berubah menjadi penjara."
Kakak diam.
Kakek Rahman melanjutkan,
"Amarah tidak pernah membangun apa pun.Ia hanya pandai meyakinkan kita bahwa kita masih hidup."
"Tapi sebenarnya..."
"...ia sedang memakan hidup kita sedikit demi sedikit."
Kakak tetap tidak menjawab.
Semakin kakek Rahman berbicara, semakin panjang diam cucunya, dan kakek Rahman mulai mengerti. Ada saat ketika nasihat tidak lagi mampu menembus hati seseorang, bukan karena hatinya keras, melainkan karena hatinya telah terlalu penuh oleh luka.
Suatu malam kakek bertanya pelan,
"Kenapa kau masih terus melakukan ini?"
Kakak menatap gelapnya hutan. Lama sekali.
"Aku juga tidak tahu."
Jawaban itu membuat kakek terdiam.