Kakek Kaki Kakakku Kaku

krkawuryan
Chapter #23

Kakek, Kaki Kakakku, Kaku

Aku tidak tahu bagaimana caranya menceritakan penutup kisah ini. Karena penyesalan memenuhi kakak di saat-saat terakhirnya. Aku tak ingin ia menyesal.

Aku ingat, malam itu tidak datang seperti malam-malam sebelumnya. Ia datang dengan suara. Mula-mula jauh, begitu jauh hingga orang-orang di kampung mengira itu hanya suara kendaraan yang melewati jalan besar.

Kemudian suara itu mendekat. Anjing-anjing mulai menggonggong dari ujung kampung dan pintu-pintu rumah terbuka. Orang-orang keluar dengan wajah yang belum sepenuhnya terjaga dari tidur.

Kakak sudah berdiri sebelum siapa pun memanggil namanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tidak seorang pun tahu. Tetapi setelah semua yang mereka lalui, ketidaktahuan justru menjadi bentuk ketakutan yang paling sempurna.

Beberapa lelaki kampung berlari membawa senter. Yang lain membangunkan keluarga mereka yang tidak ikut mengungsi. Ada yang berusaha menenangkan anak-anak, ada yang membawa barang seadanya ke tempat yang dianggap lebih aman.

Suara orang-orang semakin dekat. Lalu terdengar teriakan.

Satu.

Kemudian menyusul teriakan lainnya.

Panik pecah seperti kaca. Tidak ada lagi yang berjalan teratur, orang-orang berlari ke segala arah.

Kakak melihat seorang ibu menarik anaknya keluar dari rumah. Seorang lelaki tua hampir terjatuh ketika berusaha mengikuti rombongan pengungsi. Beberapa warga mencoba mengarahkan orang-orang menuju jalan keluar kampung.

Untuk sesaat kakak hanya berdiri. Ia melihat serombongan orang melawan, ia melihat Ibu Ratna melawan.

Ia menatap rumahnya yang bertahun-tahun menjadi satu-satunya bukti bahwa mereka pernah berhasil bertahan. Rumah yang dahulu dibangun dengan tangan seorang anak laki-laki yang terlalu muda untuk memahami arti sebuah janji.

Rumah tempat ibunya pernah menangis, tempat Hindun tumbuh, tempat Kumala menunggunya pulang, tempat anaknya lahir. Rumah yang selama ini ia katakan harus dijaga sampai ayahnya kembali.

Lalu kakak mendengar suara dari kejauhan. Orang-orang mulai meninggalkan kampung.

Ia tetap berdiri.

Lalu...... ia berlari menerjang mereka.

Malam itu menjadi panjang. Tidak ada satu peristiwa yang dapat disebut sebagai awal atau akhir, hanya kekacauan yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Orang-orang berusaha menyelamatkan diri. Sebagian rumah ditinggalkan, sebagian lainnya hancur, dan asap mulai terlihat di beberapa bagian kampung. Tidak ada yang mengetahui mengapa pertikaian ini masih berlanjut. Sebagian hanya ingin melampiaskan amarah, sebagian lainnya hanya ingin bertahan.

Malam ini tidak seperti malam di hutan. Karena di malam itu, kakak diberi kesempatan kedua, ia hidup dan bertahan. Malam ini berbeda, kakak tidak diberikan kesempatan kedua.

Kakak berlari kembali menuju rumahnya yang berperai-perai dibuat orang-orang yang entah datang darimana. Ia menerjang penuh amarah, menerobos masuk dan melawan mereka semua.

Sendirian.

Lalu setelah itu, segalanya menjadi gelap.

Lihat selengkapnya