Kaki-Kaki Senja

Wirda Elsyam
Chapter #1

Denyut Rumah yang Tertatih

Perban-perban itu digulung mengikuti arah luka. Detik waktu terus berlalu, tidak ada celah untuk mengeluh. Wajah putriku berkeringat dan gerakan tangannya cekatan membalut luka bekas amputasi jari-jari kakiku yang sebelah kanan. Ia melipat lengan seragamnya yang sudah rapi demi mengobati lukaku. Di atas kepalanya yang menunduk, aku seperti bisa membaca sebaris kalimat kecemasan yang menggantung jelas, “Aku harus cepat atau aku akan terlambat ke sekolah.”

Dadaku terasa sangat sesak. Ada rasa bersalah yang menusuk lebih ngilu daripada luka diabetesku ini. Aku ingin merebut kain kasa itu, membalut lukaku sendiri, membiarkan dia pergi bekerja dengan tenang dan lancar. Namun, tubuh ringkih ini menghambat pergerakanku. Aku hanya bisa menatapnya sambil rebah di atas kasur, menyaksikan seluruh ketidakberdayaan ini.

Sinar matahari masuk dari celah jendela kamar, menghangatkan tubuhku yang tetap dingin meskipun sudah berselimut tebal.

“Sudah selesai, Pak,” suara putriku memecah lamunanku. Ia meletakkan cairan antiseptik, salep, dan perban itu ke kotak obat.

“Alhamdulillah.” Aku hanya meresponnya dengan singkat.

“Cepatlah berangkat, Nduk. Jangan sampai terlambat.”

“Nggih, Pak,” jawabnya sambil merapikan lengan seragam lagi.

Sekolah tempat putriku mengajar tidak jauh dari rumah, hanya perlu menempuh perjalanan lima menit saja. Namun, kecemasan bahwa diriku akan menghambat pekerjaannya tak bisa lepas. Setelah merapikan peralatan medis, ia menyuntikkan insulin ke area perutku.

Jarum pendek jam dinding menyentuh angka 7 dan jarum panjangnya tepat menyentuh angka 12. Dia pun beranjak dari kamarku. Aku ingin bertanya tentang sarapanku apakah sudah siap, tapi kuurungkan karena melihat langkahnya yang tergesa. Biarlah. Nanti kutanyakan saja pada ibunya.

Selang beberapa menit, dia masuk lagi ke kamarku. “Bapak, sarapannya Zada taruh di meja, nanti ibu yang nyuapin,” senyumnya menyungging menggodaku. Rupanya dia masih sempat mengambilkan sarapan untukku. Setelah itu, dia bersalaman dan benar-benar pergi.

Akustik langkah kaki seseorang terdengar mendekat, “Bapak sudah sarapan?”

Si bungsu ternyata belum berangkat kuliah. Dia masuk ke kamarku sambil mengancingkan kemeja batiknya.

“Belum, nanti saja.”

“Ihsan suapin nggih, Pak?” Dia hampir meraih piring sarapanku.

“Nanti saja, San, nunggu ibumu. Kamu cepatlah berangkat, sudah jam 7 lebih, kampusmu kan jauh.”

“Baik, Pak, Bapak harus sarapan nggih,” dia menyalami tanganku, “Ihsan berangkat sekarang, Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam, hati-hati di jalan.”

Lihat selengkapnya