Di kalender,
tanggal itu dilingkari merah oleh Bunda.
Hari berlibur, katanya.
Hari itu
akan jadi jeda dari dunia yang sibuk.
Ayah menambahkan bintang kecil di sampingnya,
seperti anak sekolah
yang tidak sabar menanti akhir pekan.
Tapi aku hanya menatap dari jauh,
diam.
Memberikan senyum tipis,
yang tak sampai mata.
“Tempatnya enggak ramai, Nak.”
Bunda menepuk pundakku,
“Bunda sengaja pilih tempat itu.”
“Karena tahu kamu nggak suka ramai.”
“ Ikut, ya?”
Matanya penuh keyakinan
seolah….
bisa menyingkirkan semua cemas yang kurasakan.
Aku mengangguk—
bukan janji, hanya sopan.
Ramai bukan tempatku,
bahkan jika yang ramai hanya ikan-ikan di laut,
atau tatapan singkat orang asing.
***
Aku ikut melipat baju,
menyusun botol air,
menyelipkan camilan yang kusuka—
padahal aku tak ikut.
Aku menata barang
seolah tanganku turut dalam perjalanan,
padahal kakiku tetap memilih tinggal.
Sebuah sandiwara,
dan aku yang tahu akhir ceritanya.
Mereka siap berangkat.
Bunda meraih tas itu dari tanganku.
“Selamat honeymoon ke-2, Bun.”
Bunda tersenyum.
“Oleh-oleh bolehlah?”
Aku menggoda sambil menahan tawa.
“Adik baru sekalian.”
Senyum Bunda menipis—
tapi tak ada protes.
"Jaga rumah ya, Jagat."
Ayah mengedipkan mata.
"Jangan sampai dibawa semut."
Ia menutup pintu dengan nada bercanda.
Aku tertawa—
tak tahu itu tawa terakhir
yang kusimpan darinya.
***
Hari berjalan: