Semua terjadi begitu cepat.
Aku bahkan tak sadar
siapa yang menggenggam tanganku
sampai mobil berhenti di depan gedung putih itu.
Pak Darma—
ayah Khaila, teman sekelasku—
berdiri di samping,
matanya lelah tapi tenang.
"Yang kuat, ya, Nak."
Aneh,
suaranya...
seolah Pak Darma sedang mengajakku berbicara sambil berenang—
lambat.
Entah apa yang kuangguki, atau kugelengkan.
Aku tak tahu lagi
apa yang wajahku tunjukkan.
Di dalam ruangan yang dingin,
aku tidak ingat bagaimana jenazah dimandikan.
Setelah itu—
Kosong.
Seperti film yang dipotong tiba-tiba.
Yang tersisa hanya:
Kulit yang dulu hangat memelukku—
kini dingin,