Tanah basah,
dingin,
lengket pada telapak kaki
yang mencoba tegak.
Padahal tubuhku sudah patah.
Aku ingin percaya ini bukan Bundaku,
bukan Ayahku
yang dibaringkan
dengan kain putih rapat.
* * *
Langit mendung,
gerimis—
Alam menangis menggantikanku.
Tapi alam tidak memberiku kekuatan.
Aku tetap lemas.
Tangan gemetar—
Apakah ini
benar-benar
tubuh yang sama?
Tubuh yang memelukku—
saat mimpi buruk,
saat aku takut,
saat dunia
terlalu gelap.
Tubuh yang mengusap—
kepalaku saat demam,
punggungku saat sakit,
air mataku saat sedih.
Tapi sekarang—
tubuh ini diam.
Tubuh ini dingin.
Tubuh ini kaku.
Tubuh ini
bukan mereka
lagi.
Bukan
lagi.
Jenazah diturunkan perlahan
ke dalam liang.
* * *
Gerimis semakin deras.
Air hujan
membuat kain putih makin menempel—
pada dahi,
pada dada,
pada tangan yang terlipat.