Aku tak pernah menyangka
akan membenci jam.
Ia terus berputar—
padahal duniaku sudah berhenti.
* * *
Pakaian kotor menumpuk di sudut.
Piring bekas makan—
nasi mengeras dipenuhi jamur oranye,
lauk yang kini berganti aroma:
busuk,
tak layak konsumsi.
Debu melapisi segalanya.
Di pojok meja,
kertas-kertas penuh nama kerajaan,
peta yang belum selesai.
Di sana, di dalam Negeri Tanpa Kehilangan,
aku bisa menentukan siapa yang pulang.
Siapa yang selamat.
Siapa yang tidak pernah pergi.
Di negeri itu,
Aku sutradaranya.
Menulis ulang takdir.
Namun di sini,
takdir menulisku—
tanpa tanya aku mau ending seperti apa
Jendela kamarku diketuk lagi.
Kemarin—Sup Ayam.
Kemarin lusa—nasi goreng.
Hari sebelumnya—bubur ayam.
Khaila tidak pernah menyerah.
"Jagad..."
Suara Khaila terdengar samar
di balik kaca yang berdebu.
Aku tidak ingin bergerak.
"Ini aku, Kian.
Hari ini aku masak soto Banjar kesukaanmu.