Kala Bulan Menemui Malam

Devi Wulandari
Chapter #12

Penyesalan

Hanan menghela nafas pelan. Ia makan dengan lambat di meja makan. Mobil baru sudah gagal karena guru ngaji tidak ia bawakan dan Raka sudah menemukan guru ngaji yang lain.

Awalnya Mira ragu membiarkan Raka besok malam pergi ke rumah guru ngaji, karena sifat putra ketiganya itu sangat sensitif. Mudah marah walau hanya hal sepele, ia akan mengamuk begitu saja bisa salah sedikit saja.

Mira takut Raka akan mengamuk pada gurunya jika salah pertanyaan saja.

Di meja makan, melihat Hanan yang lesu seperti tidak bersemangat membuat Abhi, anak kedua dikeluarga itu heran.

"Kak Hanan kenapa?" tanyanya. Hanan langsung menoleh tapi tidak menjawab membuat mereka semua saling tatap.

"Paling karena mobil baru nggak jadi," ucap Mira.

"Enggak Ma. Mama ni fitnah," bantah Hanan.

"Ooh enggak, yaudah deh," jawab Mira pelan.

"Mungkin masalah percintaan, biasalah anak muda," kata Rano. Hanan enggan menjawab.

"Raka nggak sabar lagi mau ngaji bareng Didi," celoteh Raka.

"Kamu jangan nakal ya Raka, jangan marah-marah sama guru atau temennya," tutur Mira.

"Iya Ma, enggak."

"Yakin Ma biarin dia?" tanya Hanan sembari menatap matanya.

"Coba aja dulu."

"Huuuu!!" ejek Raka pada Hanan.

"Apaan sih," ucap Hanan melihat adiknya.

"Kamu kenapa nggak nemu gurunya?" tanya Rano.

"Ahk udahlah lupain aja," jawab Hanan lesu.

Rano tersenyum. "Kayaknya guru ngaji yang Hanan bilang itu cewek kan Ma, atau orang yang dia suka, makanya gini," tebak Rano.

"Ditolak mungkin," sambung Mira.

Lagian mana mungkin Hanan minta tolong pada Hanin, tidak ada keberanian untuk bertemu bahkan berbicara kepada Hanin, apalagi untuk meminta tolong mengajari adiknya mengaji.

~~~~~~~~~~~~~~~~

"Kak Hanin, itu di bibir Kakak apa?" tanya Selly yang berada di baris kedua urutan mengaji. Hanin yang kaget refleks menyentuh bibirnya.

Setelah itu Selly tertawa. "Bercanda Kakak cantik," ujarnya. Hanin menghela nafas pelan.

"Kakak kok kaget banget?" tanya Cinta.

"Nggak papa," jawab Hanin pelan. Pikirannya kembali pada saat itu. Ya Allah.

Saat ini pun ia tidak bisa fokus, pikirannya selalu diisi dengan penyesan akan kebodohannya itu. Ia tidak bisa menyalahkan Hanan seutuhnya, karena memang Hanin yang tidak menolak sedikit pun, bahkan bodohnya lagi ia ikut terlena dan menerima saja.

Ia tidak tahu bagaimana bila ia bertemu Hanan. Bahkan ia berharap tidak bertemu lagi.

Pikirannya pun juga dipenuhi ketakutan akan Hanan yang mungkin akan bangga menceritakan kepada orang-orang tentang perbuatan mereka tadi. 

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hanin termenung saat jam pelajaran matematika. Membuat Bu Hesty heran, apalagi saat ini kondisi kelas sedang ribut. 

"Kamu kenapa Hanin? Ibu liat kamu banyak melamunnya," tanya Bu Hesti. Hanin masih melamun dan tak sadar atas pertanyaan itu.

"Hanin .... "

Ranty langsung menyikut siku Hanin. Setelah itu barulah ia tersadar dari lamunannnya.

"Kamu kenapa melamun mulu Hanin?" tanya Bu Hesty.

Lihat selengkapnya