Kala Karma Bertamu

Vania Faustin
Chapter #9

RAHASIA ZIDAN

Sejak saat itu, Drei jarang keluar rumah. Ia bahkan tak berani mengurus berkas-berkas pendaftarannya untuk ke Universitas, pikirannya kacau, terombang-ambing dalam lautan kebingungannya.

Begitu keluar dari kamar, ia bertemu dengan ayahnya di ruang tamu. Zidan tampak terkejut melihat kedatangannya, lalu berpura-pura sibuk dengan handphonenya, berusaha bersikap biasa. Tapi Drei tahu. Ayahnya telah berubah. Ia tahu perubahan itu sejak pertemuan mereka di rumah Abil beberapa waktu lalu. Ayahnya... benar-benar berbeda.

 “Ayah,” Drei memanggilnya pelan, mendekat dan duduk di sebelahnya.

“Mau ke mana, Drei?” tanya Zidan, berusaha terdengar biasa, meski hatinya bergejolak.

“Mau nonton TV, Yah.”

Zidan beranjak, “Ya udah, Ayah ke kamar dulu ya.”

Drei menahan Zidan, suaranya hampir tak terdengar. “Ayah, kenapa ngehindarin Drei?” Pertanyaan itu membuat Zidan terkejut. Ia tak menyangka bahwa anaknya akan menyadari perubahan sikapnya yang begitu jelas.

“Gak kok,” jawab Zidan, mencoba memaksakan senyum. “Ayah cuma lagi capek aja.”

Zidan melangkah pergi, meninggalkan Drei dengan perasaan yang tak bisa ia pahami. Ia masuk ke dalam kamarnya, di mana Rosa, istrinya, duduk termenung di atas ranjang, Ruangan itu terasa sunyi, penuh dengan tanya yang tak terucapkan.

Tiba-tiba, suara Rosa memecah keheningan, serupa bisikan yang menggugah, “Kamu kenapa, sih?”

Zidan menatapnya kosong, seolah tak mengerti. “Maksudnya?”

“Kamu ngehindarin aku. Terus sekarang, kamu ngehindarin Drei,” Rosa bangkit dari tempat duduknya, langkahnya penuh rasa yang belum terungkapkan. “Kamu nyembunyiin apa dari aku, Mas?”

Zidan terdiam sejenak, otaknya berputar-putar mencari kata-kata untuk menepis bayang-bayang yang mulai menghantuinya. “Kamu ngomong apa sih? Kok jadi ngelantur gini?” Zidan melepas kemejanya dan menggantinya dengan kaos oblong, berusaha mengalihkan perhatian.

“Audrey itu perempuan yang pernah ngejar-ngejar kamu, kan?” Rosa bertanya dengan keteguhan yang ia sembunyikan. Ia tak tahu sepenuhnya tentang masa lalu Zidan, hanya tahu apa yang Zidan tunjukkan padanya.

Zidan mengangguk pelan, seakan merasakan berat dengan pertanyaan itu. “Iya,” jawabnya singkat, lalu menatap Rosa dengan tatapan tajam. “Kenapa kamu bahas ini lagi? Aku pikir semuanya udah jelas.”

Rosa tersenyum, tapi senyum itu hanya terasa pahit, seperti getir yang mengendap di tenggorokan. “Kamu pernah ngelakuin apa sampai-sampai dia berani ngomong gitu di depan semua orang?” Rosa menatap Zidan, matanya penuh tuduhan. “Nyudutin kamu sama Drei, seolah-olah kamu punya dosa besar yang sampai sekarang gak bisa dia maafin.” Senyum pahit itu menghilang, digantikan amarah yang menumpuk dalam dirinya.

Zidan terbata, mencoba merangkai kata-kata yang bisa menjelaskan. “Ya masalah apa lagi kalau bukan karena aku nolak cintanya dia,” jawabnya, namun suaranya tak cukup meyakinkan.

“Tapi itu udah hampir dua puluh tahun yang lalu, Zidan. Audrey udah punya keluarga, anaknya juga gak ada hubungannya dengan semua ini. Justru, anaknya yang nolongin Drei,” Rosa menatap suaminya dengan mata yang mulai kehilangan harapan. “Aku rasa ada yang aku gak tahu.”

Zidan menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya. “Masalah aku sama Audrey cuma sekedar cinta monyet biasa. Dia suka aku, aku tolak dia, karena aku udah punya kamu. Udah, itu aja, gak ada apa-apa lagi.” Namun, ada ragu di matanya, ada yang tak terungkapkan.

“Terus kenapa kamu diem aja waktu dia ngomong gitu? Dia bilang, apa yang Drei alamin itu karma dari kelakuan kamu. Maksudnya apa?” Rosa hampir kehilangan kendali, amarahnya memuncak, air mata mulai mengalir di pipinya.

Zidan tersentak, suaranya mengeras, “Mana aku tahu!!” Ia hampir berteriak, “Bisa gak sih kita gak bahas-bahas ini?!”

Rosa menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Mungkin, hanya pikirannya saja yang terlalu jauh berlari. Ia sedang ditimpa banyak masalah, dan itu membuatnya lebih mudah curiga. Tapi hatinya tidak bisa dibohongi—ada sesuatu yang Zidan sembunyikan, dan ia tahu itu.

Pikirannya berkecamuk, mengingat kembali semua yang terjadi. Glenn—lelaki yang disukai anaknya—ternyata adalah anak dari Audrey, wanita yang sejak dulu ia benci. Rosa seharusnya tidak perlu membenci Audrey sampai sejauh ini. Audrey tidak pernah melakukan apa pun secara terang-terangan padanya. Ia hanya beberapa kali menelepon Zidan, mengirim pesan yang isinya selalu sama—meminta bertemu. Tapi tetap saja, bagi Rosa, itu cukup untuk membuatnya marah. Bagaimana bisa seorang perempuan tetap mengejar suaminya meskipun tahu bahwa ia sudah beristri?

Rosa memang selalu cemburu, terutama pada Audrey. Sejak dua puluh tahun yang lalu, kebenciannya tak pernah pudar. Padahal, Zidan jelas-jelas mengaku tak pernah menyukai Audrey, bahkan menolak perempuan itu mentah-mentah di depan Rosa. Seharusnya, itu cukup. Tapi bagi Rosa, semuanya terasa berbeda.

Dari banyaknya perempuan yang pernah dekat dengan Zidan, Audrey selalu terasa sebagai ancaman terbesar. Entah karena Audrey lebih cantik dari dirinya, atau karena firasatnya mengatakan bahwa Zidan menyembunyikan sesuatu.

Saat menjalani hubungan jarak jauh, Rosa selalu dihantui kecurigaan. Bukan hanya karena Zidan pernah selingkuh, tapi juga karena Rosa sendiri pernah melakukannya. Ia takut kehilangan Zidan. Tak ingin hubungan mereka yang sudah bertahun-tahun kandas begitu saja.

Kecurigaan itu bermula ketika Zidan enggan pulang ke Magelang. Selama dua tahun, ia hanya pulang tiga atau empat kali. Alasannya selalu sama—kuliah, biaya, kesibukan. Padahal, Rosa tahu orang tua Zidan selalu memberinya uang transportasi. Zidan juga mulai jarang menelepon, jarang mengirim surat. Hari-hari Rosa penuh dengan kecemasan.

Karena itu, Rosa mengambil keputusan gila—meminta orang tua mereka agar mereka segera menikah.

Orang tua Zidan setuju, mereka menyayangi Rosa seperti anak sendiri. Segala persiapan pernikahan dikerjakan oleh Rosa dan keluarga. Sementara Zidan, masih di Bandung, katanya mengurus berkas cuti kuliah. Reaksi Zidan aneh—seperti setengah hati menerima pernikahan ini. Tapi Rosa tak peduli. Yang penting, Zidan akan tetap bersamanya.

“Nama Drei sama kayak nama panggilannya Mami Glenn.”

Tiba-tiba, ingatan itu kembali. Kata-kata Drei setahun yang lalu, ketika ia bercerita tentang laki-laki yang ia sukai di sekolah. Kenapa semuanya terasa begitu berkaitan? Kenapa Zidan memberi nama panggilan yang sama dengan wanita itu pada anak mereka?

Drei. Drey. Audrey.

Yang terbayang di benak Rosa adalah Audrey, bukan anaknya—Sandreina.

“Audrey dipanggil Drey, kan?” Rosa menatap Zidan tajam. “Dan kamu minta anak kita—Sandreina—dipanggil Drei juga.” Suaranya bergetar. “Apa itu kebetulan?”

Zidan memijat keningnya. “Aku gak mau bahas hal-hal gak penting!” Zidan bersikeras. “Kamu gak mikirin perasaan Drei kalau dengar kita berantem soal ini?”

Rosa tersenyum pahit. Seperti dugaan. Zidan selalu begini kalau sedang berbohong—menghindar, lari dari masalah.

“Sejak awal, aku udah curiga dengan cerita kamu soal Audrey. Mana ada perempuan yang masih mengejar laki-laki beristri yang udah nolak dia?” Rosa menarik napas dalam. “Selama ini aku berusaha percaya. Tapi kamu selalu bohong dan bohong.” Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

“Aku gak bohong!” Zidan berteriak.

“Terus kenapa Audrey ngomong kayak gitu di rumah Metta kemarin?!” suara Rosa meninggi. “Aku sebagai istri dan seorang ibu, sakit hati dengar dia ngomong gitu ke kalian!”

“Kalau kamu gak terima, silakan marah ke Audrey! Jangan bawa-bawa aku!” Zidan balas membentak. Matanya memancarkan kemarahan, kesedihan, kekecewaan.

“Aku cuma mau penjelasan dari kamu!”

“Apa lagi yang harus aku jelasin?! Semua sudah jelas! Aku udah bilang semuanya ke kamu, tapi kamu terus curiga!”

Lihat selengkapnya