“Kalo Drei belum siap, biar Ibu sama Ayah aja yang masuk,” suara Rosa terdengar lembut, penuh kehati-hatian, seolah takut anaknya akan goyah. Jemarinya yang dingin mengelus kepala Drei, mencoba memberi ketenangan yang tidak benar-benar ada.
“Drei ikut aja, Bu,” suaranya pelan, tapi cukup tegas. Ada ketakutan di dadanya, tetapi lebih besar lagi keberaniannya untuk menghadapi kenyataan.
Rosa menatap anaknya sesaat. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak ada satu pun yang keluar dari bibirnya. Akhirnya, ia hanya mengangguk. “Ya udah.”
Mereka tiba di rumah Artur, sebuah bangunan megah di salah satu kompleks elit. Dari luar, rumah itu berdiri angkuh, penuh kemewahan, nyaris seperti istana. Di halaman depan, tujuh mobil mewah terparkir rapi, empat di antaranya milik Randy. Drei menelan ludah. Kemewahan ini begitu jauh dari kehidupannya.
Tangannya refleks menggenggam lengan ayahnya, mencari sedikit ketenangan di tengah kecemasannya. Ia takut, takut segalanya akan berakhir seperti pertemuan terakhir—kacau, penuh ketegangan, dan menyisakan luka lain yang lebih dalam.
Di sisi lain, Zidan melangkah tanpa jiwa. Kepalanya kosong, tetapi hatinya penuh. Ia tidak ingin ada di sini, tetapi ada satu alasan yang membuatnya bertahan—Audrey. Ada harapan kecil di hatinya, berharap Audrey akan datang. Ia harus bicara dengannya. Harus.
Zidan dan Rosa masih berselisih sejak kemarin. Mereka tidur di ranjang yang sama tetapi terasa sejauh dua dunia. Rosa memilih memunggunginya, dan Zidan tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan. Terlalu banyak hal berputar di kepalanya, terlalu sedikit tenaga yang tersisa untuk memperjuangkan apa yang seharusnya ia pertahankan.
Ketika mereka tiba, Artur berdiri di depan pintu. Sekilas, ia menatap mereka—lalu dengan cepat menghindari tatapan itu, bergegas masuk tanpa menyapa.
Di dalam, semua sudah berkumpul. Wajah-wajah yang tidak asing, semuanya berwajah kusut. Glenn ada di sana, duduk di samping Abil dan Artur—setia menemani mereka meskipun ia bukan bagian dari masalah ini. Zidan mengedarkan pandangan, mencari Audrey di antara mereka. Tetapi, ia tak menemukannya.
Di sudut lain, ada satu wajah asing—seorang wanita yang duduk di sebelah Randy. Zidan tidak mengenalnya, tetapi kehadiran wanita itu menambah kecanggungan dalam ruangan.
Suasana semakin tegang saat mereka duduk. Tak ada suara, hanya tarikan napas tertahan dan tatapan dingin yang saling bersinggungan.
“Kita mulai aja, ya,” Randy membuka pertemuan, suaranya rendah tetapi tegas. Semua orang mengangguk pelan. “Saya dan orang tua Abil setuju untuk melakukan tes DNA,” lanjutnya, tanpa basa-basi.
Drei menoleh ke ibunya. Ia tidak menginginkan ini. Tidak ingin menikahi siapa pun di antara mereka.
“Saya mau, siapa pun ayah dari anak ini, harus menikahi Drei,” suara Rosa terdengar penuh keyakinan.
“Saya tidak setuju,” Randy menimpali cepat, tatapannya tajam. “Jika bayi itu terbukti anak Artur, saya tetap tidak akan menikahkan mereka.”
Sarah—ibu Artur—menoleh ke Randy, wajahnya lelah. “Ran, udah lah.”
Metta, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. “Gini deh, Drei maunya gimana?”
Semua mata kini tertuju pada Drei. Ia terdiam, hatinya berdegup kencang. Tetapi, ia tahu betul apa yang ia inginkan.
Drei menoleh ke Artur. Laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya. Drei tahu seperti apa Artur. Ia mungkin baik hati dan setia kawan, tetapi ia juga seorang lelaki yang suka mempermainkan perempuan. Artur-lah yang pertama kali mengajaknya melakukan semua itu. Artur-lah yang membuatnya terjebak dalam kekacauan ini. Drei tidak ingin menikahi laki-laki seperti Artur. Kekayaannya tidak berarti apa-apa baginya. Jika harus memilih, ia lebih rela hidup miskin daripada harus hidup di bawah bayang-bayang lelaki seperti itu.
Lalu Abil…Mungkin ia sedikit lebih baik dari Artur, tetapi tetap saja, ia tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan bahwa Abil adalah orang yang juga ikut memperkosanya.
Drei menarik napas. Kali ini, suaranya lebih tegas. Lebih pasti. “Drei gak mau nikah sama siapa-siapa, Tante.”
Ruangan itu membeku. Semua orang menatapnya dengan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan—terutama Rosa. Ia bergegas membisikkan sesuatu di telinga Drei, suaranya penuh tekanan. “Kamu ngomong apa, sih?”
Tetapi, Drei tidak goyah. Ia menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca, tetapi tidak goyah. “Drei gak mau nikah sama siapa-siapa,” ucapnya lagi—lebih keras.
Randy menarik napas lega. Ini yang ia harapkan—bahwa Drei tetap berpegang teguh pada pilihannya. Baginya, lebih baik seperti ini daripada harus menikahkan Artur dengan wanita yang bukan pilihannya. Ia tidak ingin menutup-nutupi kebejatan anaknya dengan pernikahan yang dipaksakan.
Namun, layaknya seorang ibu yang tak ingin anaknya menderita—Rosa tidak bisa menerima ini. “Maaf,” katanya, suaranya gemetar. “Anak saya lagi nggak sehat. Dia nggak bisa berpikir panjang. Sebaiknya kita tunda pertemuan ini.”
Drei menoleh dengan mata penuh luka. “Bu, Drei gak sakit!”
Rosa tetap bersikeras. “Drei, kita harus bicarakan ini lagi.”
“Drei udah mikirin ini matang-matang, Bu,” suara Drei bergetar, tetapi tetap teguh. “Drei mau besarin anak ini sendiri!”
“Kamu gak malu kalau nanti anak ini gak punya bapak? Mau bilang apa nanti sama keluarga yang lain?!” Rosa kehilangan kesabaran.
Drei tersenyum pahit. “Drei yang malu, atau Ibu yang malu?”
Ruangan itu kembali diam. Lebih sunyi dari sebelumnya. Di pertemuan pertama, Drei hanya bisa menangis. Tetapi kali ini, ia berdiri di atas pilihannya.
Rosa berdiri, dadanya naik-turun menahan emosi.
“Sa, tenang dulu,” Zidan mencoba menenangkannya, menarik tangannya dengan lembut. Namun, Rosa justru menatapnya dengan kemarahan yang semakin dalam. Ia berharap, di saat seperti ini, Zidan akan berpihak padanya. Akan membelanya di depan semua orang. Tetapi seperti biasa, Zidan hanya bisa diam.
Rosa meraih tasnya dengan gerakan kasar, lalu berbalik dan melangkah cepat ke luar.
“Rosa!” Zidan buru-buru mengejarnya, napasnya tercekat, seolah ketakutan jika ia membiarkan Rosa pergi, segalanya akan menjadi lebih buruk.
Langkah Rosa terhenti. Ia berbalik dengan mata yang menyala penuh emosi. “Apa?”
Zidan mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. “Kamu bisa tenang dulu gak, sih? Biarin Drei ngomong. Biarin dia milih jalannya sendiri,” suaranya penuh permohonan.
Rosa tertawa pahit. “Semuanya salah kamu.”
“Sa, udah lah… kita balik lagi ke dalam,” Zidan melunak, mencoba menjadi seseorang yang lebih dewasa. “Kita cari titik terang sama-sama.”
Namun, Rosa tak bergeming. Matanya berkaca-kaca—menyimpan luka yang terlalu dalam. “Kamu yang bikin salah, dan anak kita yang harus nanggung karmanya,” ucapnya, suaranya bergetar.
Dada Zidan terasa sesak. Ia tahu, ini bukan hanya soal Drei. Ini tentang semua kesalahan yang pernah ia buat.
Rosa menatap Zidan dengan air mata yang menggantung di sudut matanya. Seakan mengingat sesuatu yang begitu menyakitkan, yang telah lama ia kubur tetapi tiba-tiba bangkit kembali.
Zidan mencoba mendekat, ingin merangkulnya, ingin menenangkannya. Tapi Rosa mundur selangkah, menepis tangannya dengan kasar. “Jangan sentuh aku!”
Zidan menghela napas, lalu berkata pelan, “Udah ya… kita masuk lagi. Kasihan, Drei udah nunggu.”
Namun, Rosa hanya tersenyum sinis, senyum yang lebih mirip kepedihan yang meledak dalam diam. Ia menatap Zidan dengan mata yang berkilat. “Kalau kamu dulu tanggung jawab sama Audrey, hidup aku gak bakal kayak gini.”
Dadanya berdebar kencang, tetapi ia tetap berusaha mempertahankan kebohongannya. “Tanggung jawab apa? Aku gak ngelakuin apa-apa!”
Rosa terisak, suaranya nyaris tenggelam dalam tangisnya sendiri. Tapi ketika ia kembali menatap Zidan, matanya penuh dengan keyakinan.
“Olivia Zain Akbar.”
Nama itu…
Tubuh Zidan seketika membeku. Tiba-tiba, udara terasa begitu berat, menekan paru-parunya hingga ia hampir kehabisan oksigen. Bayangan wajah anak itu muncul di kepalanya—mata itu, senyum itu. Dosa yang selalu bersembunyi di balik kebohongan, kini menyeruak ke permukaan.
“Dia bukan…” kata-kata itu menggantung di bibirnya, tersangkut di antara kebohongan dan kenyataan. Bahkan ia sendiri tak sanggup menyelesaikannya.
Rosa mendekat, menatapnya tajam. “Bukan apa? Bukan anak kamu?”
Zidan terdiam. Ia ingin menyangkal, ingin berteriak bahwa semua ini tidak benar. Tetapi lidahnya kelu. Untuk berbohong pun…ia tidak sanggup.
Rosa menatapnya lebih lama, lalu tiba-tiba berteriak, “JAWAB!”
“Aku gak mau lihat muka kamu lagi!” serunya, sebelum berbalik dan berlari meninggalkannya.
Dengan pasrah, Zidan pun berjalan masuk ke ruangan. Langkahnya terasa berat, seakan ada ribuan batu yang menumpuk di pundaknya. Begitu melewati pintu, Drei langsung menghampirinya dengan mata penuh tanya.
“Ibu mana, Yah?”
Zidan menelan ludah, mencoba menyusun kebohongan yang terdengar masuk akal. “Ng... Ibu pulang. Tadi ada yang mau reparasi kamar mandi di rumah,” jawabnya cepat.
Drei diam sejenak, mencari kebenaran dalam sorot mata ayahnya. Ia percaya-tidak-percaya, tapi akhirnya memilih untuk tak memperpanjangnya.
Dan pertemuan itu pun kembali dilanjutkan. Suasana kembali tegang, terutama bagi Artur dan Abil. Namun, berbeda dari ayahnya yang terus mencoba menghindar, Artur justru tampak pasrah. Jika harus menikahi Drei, maka ia akan melakukannya.
Randy akhirnya membuka suara, memecah kebisuan yang menghantui mereka. “Jadi bagaimana, Pak Zidan?” ucap Randy dengan nada bijaksana yang terkesan dibuat-buat.
Zidan menoleh ke arah Drei, gadis itu menatapnya penuh harap. Ada keteguhan di sana—keteguhan yang tidak ia miliki saat seusia anaknya. Tiba-tiba, ia melihat Audrey dalam diri Drei, melihat keberanian yang seharusnya ia hargai sejak dulu.
Zidan menarik napas panjang. “Keputusan seratus persen ada di tangan anak saya,” ucapnya akhirnya.
Senyum kecil merekah di wajah Drei. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Lalu dengan suara yang tegas—walau sedikit gemetar—ia berkata, “Drei mau mempertahankan anak ini sendiri.”
Keheningan menelan mereka.
“Drei gak mau nikah sama Artur atau Abil. Drei mau merawat anak ini sendiri.”
Randy menghela napas lega. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan ini dimulai, bahunya yang tegang sedikit merosot. Ia melirik ke arah Metta, yang membalasnya dengan anggukan kecil.
“Tapi, tes DNA tetap dilakukan ya, Drei,” kata Metta lembut. Drei mengangguk. Ia akan mengabulkan permintaan Metta.
Lalu Randy pun berbicara, suaranya lebih hangat kali ini, “Saya akan menanggung semua biaya perawatan anak itu. Dari mulai biaya bersalin, kesehatan sampai pendidikannya.”
Drei menatapnya penuh rasa terima kasih, meski bibirnya tak sanggup mengucapkannya.
Keheningan berganti keharuan. Artur dan Abil saling berpelukan. Bahkan Abil tak bisa menahan air matanya.
Dan di tengah semua itu, Glenn berdiri dan melangkah ke arah Drei. Senyuman itu—senyuman yang sudah lama tak ia lihat—muncul kembali di wajah Glenn. Hangat, lembut, dan tulus. “Sehat-sehat ya, Drei.”