Kala Karma Bertamu

Vania Faustin
Chapter #11

RAHASIA ROSA

Rosa masih menangis sepanjang perjalanan. Bahunya berguncang pelan, sementara matanya terus menerus menatap jendela, seolah mencari sesuatu yang bisa menahan air matanya agar tidak jatuh lebih deras.

Drei hanya bisa diam, mencoba memahami, meski segalanya terasa begitu membingungkan baginya. Ia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pergi ke rumah adiknya, takut kalau-kalau Zidan mendadak menghampiri mereka.

 “Bu, kenapa kita gak pulang ke Bandung aja?” tanya Drei akhirnya.

Namun, Rosa menggelengkan kepala dengan yakin. “Kita ke rumah Buk Lik Dewi.”

Drei ingin bertanya lebih jauh, tapi melihat wajah ibunya yang masih diliputi kesedihan, ia memilih diam.

Dan tiba-tiba, seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar berjalan mendekat. “Rosa?” Sebuah suara yang berat dan dalam menggema di udara.

Rosa tersentak. Ia mendongak perlahan, matanya bertemu dengan sosok pria itu. Seketika, ada sesuatu di dalam dirinya yang beku. Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya Rosa mengenali pria itu.

“Mas Beni, ya?” Suaranya terdengar serak, seperti menyebut nama itu saja sudah cukup untuk mengiris perasaannya.

Pria itu tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya. “Mau kemana?” tanyanya.

Drei mengerutkan kening, menatap keduanya bergantian, menunggu ibunya mengenalkan pria asing ini kepadanya. Namun, Rosa hanya menjawab singkat. “Mau cari penginapan.” Jawaban asal-asalan—jelas terdengar seperti kebohongan.

Ia tidak ingin bicara lebih banyak. Tidak dengan pria ini. Tidak dengan seseorang yang membawa terlalu banyak kenangan buruk yang telah berusaha ia kubur selama bertahun-tahun.

Beni tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi akhirnya ia hanya mengangguk pelan. “Ya udah,” katanya datar. “Aku ke sana lagi, ya.”

Dan dengan itu, ia berlalu. Namun bayangannya masih tertinggal. Dan di dalam kepala Rosa, masa lalu yang telah berdebu itu kembali terbuka, satu per satu.

Drei masih menatap ibunya, penuh tanya. “Itu siapa, Bu?”

Rosa terdiam. Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik, “Temen SMA Ibu.”

Kebohongan.

Sebab, bagaimana mungkin ia bisa menyebut pria itu sebagai teman, jika laki-laki itu adalah orang yang dulu pernah ia hancurkan hatinya hingga berkeping-keping.

 

“Kan kamu tahu, kalau aku udah lama menikah sama Jani,” suara Beni terdengar datar, nyaris tak beremosi.

Lagi. Lagi dan lagi, kata-kata itu yang terucap dari bibirnya—seolah itu adalah satu-satunya jawaban yang bisa ia berikan.

Namun, Rosa menolak untuk menyerah. Ia menggenggam lengan Beni lebih erat, matanya yang basah berkilat penuh harap.

“Tapi, kamu sayangnya sama aku, kan, Mas?” bisiknya, nyaris seperti doa.

Beni menelan ludah. Ia tahu betul bahwa jawabannya adalah iya—iya, Rosa, aku mencintaimu. Aku lebih mencintaimu daripada siapa pun di dunia ini.

Namun, kata-kata itu tak pernah benar-benar bisa keluar.

“Aku gak pernah bentak kamu kayak Jani,” Rosa melanjutkan, suaranya bergetar, namun penuh keyakinan. “Aku gak pernah ngebantah kamu kayak dia, aku juga—”

Ucapannya terputus.

Beni menariknya tiba-tiba, lalu bibir mereka bertemu dalam ciuman yang dalam—tergesa, seolah mereka berdua berlomba-lomba menegaskan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Rosa sempat terbelalak, tapi akhirnya ia menyerah dalam manisnya sentuhan itu. Sejenak, ia merasa menang. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar sebelum Beni berbisik, “Kalau aku belum nikah, aku pasti bakal nikahin kamu sekarang.”

Rosa terkesiap. Dadanya terasa sesak.

“Apa sih yang bikin kamu bertahan sama dia?” tuntutnya dengan mata nanar. “Bapaknya Jani—yang nyuruh kalian nikah—juga udah meninggal. Kenapa kamu masih mau mempertahankan dia?”

Beni terdiam. Ucapan Rosa meresap dalam pikirannya seperti racun.

Benar. Tak ada cinta dalam pernikahannya dengan Jani. Hanya janji kosong yang ia buat demi menenangkan hati seorang lelaki tua yang sekarat. Dan kini, lelaki tua itu sudah tiada. Lalu, untuk apa semua ini?

Namun, setiap kali ia mencoba membayangkan hidup tanpa Jani, ada sesuatu yang menusuk hatinya.

“Aku...” Beni menarik napas panjang, berusaha mencari alasan. “Aku mikirin, kalau gak ada aku, Jani nanti gimana?”

Lihat selengkapnya