Metta menelusuri lembaran-lembaran album foto lama yang tersimpan di sudut lemarinya. Jemarinya menyentuh setiap gambar dengan hati-hati, seolah ingin menggali kembali kenangan yang telah lama tertimbun.
Di foto pertama, ia melihat dirinya tertawa lebar, berdiri di antara teman-teman geng-nya—sebuah masa yang dulu terasa begitu abadi. Kamera itu milik Zidan, dan ia masih ingat betul bagaimana mereka berempat begitu dekat. Tapi kini, persahabatan mereka telah berubah menjadi puing-puing yang berserakan, dihancurkan oleh satu tragedi yang tak terelakkan: Zidan dan Audrey.
Lembar berikutnya menampilkan dirinya dan Audrey. Ia memeluk gadis itu dengan erat di depan sebuah pusat perbelanjaan yang baru dibuka. Ada sesuatu yang tersisa di dalam dirinya, sesuatu yang bahkan tak ingin ia akui: kecemburuan yang selama ini ia pendam dalam diam.
Audrey selalu bersinar, seolah dunia berkonspirasi untuk mencintainya. Para pria tampan di kampus berusaha mendekatinya, seakan-akan ia adalah pusat gravitasi yang menarik semua perhatian. Otaknya yang cemerlang membuatnya tak perlu bersusah payah menghadapi ujian, sementara Metta harus berjuang mati-matian hanya demi nilai yang pas-pasan. Dan yang paling menyakitkan, bahkan di dalam geng mereka sendiri, Audrey selalu menjadi pusat perhatian bagi yang lain.
Metta tak pernah memiliki perasaan lebih untuk Zidan, tapi mengapa rasanya sesak saat ia menyadari dirinya selalu menjadi pilihan kedua?
Ia sudah lama tahu bahwa Randy menyukai Audrey. Ada sesuatu di tatapan lelaki itu yang terlalu jelas untuk disembunyikan. Mereka berasal dari sekolah yang sama, tumbuh bersama, tapi akhirnya Audrey memilih Zidan—anak desa yang berhasil merebut hatinya.
Saat itu, Metta semakin dekat dengan Randy. Mungkin karena mereka sama-sama ditinggalkan, atau mungkin hanya karena mereka tak punya pilihan lain. Mereka menghabiskan waktu bersama, berbagi keluh kesah yang tak pernah terucap, menyelami kehampaan yang hanya mereka berdua mengerti.
Namun, apa yang mereka miliki? Persahabatan? Atau sesuatu yang lebih dari itu? Tak ada yang tahu, bahkan Metta pun tak yakin. Yang ia tahu, kenangan-kenangan ini masih terasa begitu hidup, meski semuanya telah berubah menjadi luka yang tak bisa benar-benar sembuh.
Malam itu, udara di pegunungan terasa menggigit, menusuk hingga ke tulang. Kabut tipis melayang di udara, menciptakan nuansa yang sendu dan misterius. Metta menggosok-gosokkan kedua tangannya, mencoba menghangatkan diri di tengah dinginnya malam.
Sementara itu, di sudut pandangnya, Zidan dan Audrey sedang asyik dengan dunia mereka sendiri. Jaket tebal milik Zidan kini telah membungkus tubuh mungil Audrey, seolah-olah gadis itu adalah satu-satunya yang berhak atas perlindungan dan kehangatan.
“Gila kali ya tuh anak! Dunia berasa milik berdua, yang lain ngontrak!” gerutu Randy dengan nada kesal.
Metta tertawa kecil, suaranya berbaur dengan angin yang berembus lembut. “Lo gak akan ngasih jaket lo ke gue?” godanya.
Randy menatapnya sekilas, lalu mengangkat bahu. “Gue bukan Romeo,” sahutnya ketus.
Tawa Metta pecah begitu saja. Randy pun ikut tersenyum, seolah merayakan kehangatan kecil di antara mereka berdua, di tengah udara yang semakin dingin.
“Lo kedinginan, Ta?” tanya Randy tiba-tiba.
Metta meliriknya sinis, “Gak, gue kepanasan,” jawaban sarkasnya hanya membuat Randy terkekeh.
“Yuk, jalan-jalan,” ajaknya, menunjuk ke arah jalan setapak yang menembus kegelapan. “Biar gak terlalu dingin.”
Metta mengangguk tanpa berpikir panjang. Lebih baik menggerakkan kaki daripada terus-terusan menonton adegan romansa di depan mata.
Mereka melangkah menyusuri jalan yang diterangi cahaya lampu-lampu kecil yang remang. Sekelompok remaja berlalu-lalang, sebagian besar adalah pasangan yang tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Randy mendengus.
“Malah makin gerah gue liat yang pacaran,” keluhnya.
“Aneh, gue malah kedinginan,” sahut Metta asal.
Mereka terus berjalan, menelusuri jalanan berbatu, sementara percakapan mereka mengalir begitu saja. Dari tugas kuliah, gosip di kampus, hingga kisah cinta mereka masing-masing. Metta mengoceh tentang mantan pacarnya yang payah, tetapi Randy kehilangan fokus.
Bukan karena cerita itu membosankan, tetapi karena matanya, entah sejak kapan, mulai memperhatikan Metta dengan cara yang berbeda.
Kenapa baru sekarang ia menyadari betapa cantiknya gadis ini?Rambutnya yang panjang dan bergelombang jatuh sempurna di bahunya, berkilau di bawah cahaya temaram. Hidungnya mancung, bibirnya semerah buah delima—seolah mengundang untuk disentuh, dikecup.
Tanpa berpikir panjang, Randy melepas jaketnya dan menyerahkannya pada Metta.
Metta terbelalak, “Apa?” tanyanya, bingung.
“Biar gak kedinginan.” Randy tersenyum kecil.
Metta menyipitkan matanya curiga. “Lo mabok, ya?”
Randy menggeleng, masih tersenyum. Ia tak peduli jika dirinya harus kedinginan malam ini. Ia hanya ingin jaket itu membalut tubuh Metta, ingin merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan.
“Ta,” suaranya terdengar lebih dalam, lebih serius, “lo pernah kepikiran gak buat pacaran sama gue?”
Metta terkejut, menatapnya lama sebelum tertawa kecil. “Gue kan punya pacar.”
“Gue juga,” jawab Randy santai, lalu menatap gadis itu lebih dalam. “Tapi maksud gue, di antara kita… apa gak bisa ada apa-apa?”
Metta terdiam. Ada sesuatu dalam suara Randy yang membuat dadanya berdebar.
“Gue pengen di antara kita lebih daripada ini,” lanjut Randy.
Jantung Metta berdegup lebih cepat, tetapi ia mencoba menertawakannya. “Gue gak suka sama lo, sih…” ia menggantung kata-katanya begitu saja.
Metta diam-diam mengakui bahwa Randy memang memiliki fisik yang—hampir sempurna. Tubuh tinggi tegap, kulit putih, rambut ala Damon Albarn, juga cleft chin yang membuat senyumnya semakin menawan.
“Tapi…” ia menyentuh dada Randy yang bidang dengan kedua tangannya, merasa betapa kokohnya tubuh pria itu di bawah ujung jemarinya, “lo ganteng.”