Kala Karma Bertamu

Vania Faustin
Chapter #13

INI BUKAN MASA DEPAN YANG AKU PILIH

Angin Bandung sore ini terasa begitu dingin. Tapi dinginnya tak sebanding dengan apa yang kini bersemayam di dada Audrey.

Ia melangkah masuk ke restoran dengan langkah yang terlalu tenang—terlalu sempurna untuk menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam dirinya. Di sudut ruangan, seorang pria yang dulu begitu ia kenal kini menunggunya dengan wajah yang entah kenapa terlihat penuh harapan. 

Setiap gerakan yang Audrey buat terasa terukur. Duduk di hadapan pria itu tanpa ekspresi, tanpa embusan napas yang tersengal. Tapi jika Zidan mendengarkan lebih dalam, ia pasti tahu, jantung Audrey berdetak tidak normal. Namun, hanya satu dari mereka yang memilih untuk terlihat lemah.

“Jadi?” suara Audrey memecah hening yang terlalu menyiksa. “Apa yang mau kamu bicarakan?”

Zidan menelan ludah. Tangannya mencengkeram gelas kosong di depannya, seperti berusaha mencari pegangan.

“Maaf.” Hanya satu kata. Satu kata yang terlalu terlambat untuk diucapkan.

Tak ada jawaban dari Audrey. Hanya mata yang menatap lurus, dingin, tajam—tapi tetap saja terlalu indah.

Zidan menarik napas panjang, berusaha menelan kegugupannya. “Maaf karena aku gak percaya sama kamu. Maaf karena—” suaranya sedikit bergetar, “gara-gara aku… kamu kehilangan Olivia.”

Olivia.

Audrey merasakan sesuatu menghantam dadanya begitu keras saat nama itu disebut. Ada luka yang mendadak terbuka, darahnya mengalir deras, tapi ia menolak menunjukkan rasa sakitnya. Tidak di hadapan pria ini.

“Udah, lah.” Suaranya terdengar ringan, nyaris tak bernyawa. “Maaf juga. Saya lepas kendali di pertemuan kemarin.”

Zidan tersenyum kecil, pahit. “Kamu berhak marah, Drey. Aku tahu aku keterlaluan.”

Audrey hanya tertawa. Tipis. Kosong. “Menyesal?”

“Ya,” Zidan mengangguk penuh kepastian. “Aku menyesal.”

Audrey bersandar di kursinya, mengamati pria itu seperti menatap sesuatu yang tak lagi memiliki makna.

“Untuk apa?”

“Untuk Olivia dan… semuanya.”

Hening menyelimuti mereka. Sesaat, Audrey merasa seluruh restoran itu menghilang, dan hanya ada mereka berdua di tempat ini—terperangkap dalam sebuah babak yang tak pernah selesai.

Zidan tiba-tiba menyentuh tangannya, berharap Audrey akan merasakan sesuatu dari sentuhan itu. Namun, ia hanya tersenyum, lalu menepis tangan Zidan perlahan. “Sebaiknya kita sudahi saja,” katanya sambil beranjak dari kursinya.

Tapi Zidan tak membiarkannya pergi. “Drey.”

Audrey berhenti, ia kembali duduk.

“Aku baru tahu semuanya dari Randy. Kenapa kamu gak pernah bilang kalau anak kita lahir, Drey?”

Senyum Audrey mengembang dengan kejam. “Saya pikir itu yang kamu harapkan.”

Zidan menghela napas panjang. “Kamu harus ngerti posisi aku waktu itu, Drey. Aku udah nikah sama Rosa. Aku gak bisa ninggalin dia begitu aja.”

Audrey menatapnya lama. Lalu tertawa pelan. “Zidan, dari dulu, saya gak pernah minta kamu buat nikahin saya.”

Zidan terdiam.

“Saya cuma ingin kamu menemui saya. Bicara baik-baik, seperti ini.” Audrey menatapnya lekat-lekat. “Tapi saya lupa. Saya bahkan gak tahu kamu punya pacar lain—selain saya.”

Zidan merasakan udara di ruangan itu semakin menipis.

“But, it’s okay,” Audrey menarik napas dalam-dalam. “Saya ngerti kenapa kamu gak mau menikahi perempuan murahan seperti saya..” Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi bibirnya tetap tersenyum.

Zidan ingin mengulangi permintaan maafnya, tapi Audrey tak memberinya kesempatan. “Ayahnya Olivia adalah laki-laki yang menyayangi dia.” Suaranya nyaris berbisik. “Dan itu sudah pasti bukan kamu.”

Zidan menunduk, merasa seolah dunianya runtuh.

“Sejak hari di mana kamu minta anak itu mati,” suara Audrey bergetar, “sejak saat itu juga… kamu sudah mati buat saya.”

Audrey tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum berbalik pergi. “Saya mohon, tolong jangan cari saya lagi. Saya punya keluarga. Kamu juga punya keluarga. Tolong hargai itu.”

Zidan tidak bisa menahan air matanya. Ia hanya bisa duduk di sana, menangis dalam diam, menyadari satu hal yang selama ini tak pernah benar-benar ia sadari—Audrey telah pergi jauh, lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan. Dan tak ada lagi jalan untuk kembali.

Di dalam mobil, Audrey bergetar hebat. Tangannya gemetar saat ia mengambil pil-pil dari dalam tasnya.

Satu butir. Dua butir.

Lidahnya terasa kebas, tapi pikirannya masih berputar seperti badai. Ia menelan pil itu lagi. Kali ini lebih banyak. Audrey ingin degup jantungnya melambat. Ia ingin napasnya kembali normal.

Namun, kesadarannya menolak menyerah. Ingatan tentang Olivia kembali menyerang. Wajah kecilnya. Tawa renyahnya. Tangannya yang mungil. Dan kenyataan bahwa gadis kecil itu tidak lagi ada di dunia ini.

Tubuh Audrey mulai lemas. Ia menekan nomor di ponselnya dengan sisa tenaga.

“Halo, Drey?” Suara di seberang sana begitu familiar.

“Linda…” suara Audrey nyaris tak terdengar. “Tolongin gue.”

Telepon terputus. Audrey menatap langit-langit mobilnya. Ia tahu Linda akan datang menjemputnya. Ia tahu ia akan baik-baik saja. Tapi yang ia tidak tahu adalah…sampai kapan ia harus hidup dalam rasa sakit ini?

 

***

Zidan menatap punggung Audrey yang semakin menjauh. Bayangannya perlahan larut dalam keramaian, tapi di matanya, sosok itu tetap utuh—tetap nyata. Ternyata, ia masih mencintainya. Atau mungkin, ini bukan cinta, melainkan rasa bersalah yang terpatri begitu dalam, menghantui setiap hela napasnya.

Puluhan tahun telah berlalu, tapi entah mengapa, Zidan masih berdiri di tempat yang sama. Terjebak di antara masa lalu yang gagal ia genggam dan masa kini yang terasa hampa. Hidupnya berantakan. Ia bahkan tak tahu apakah rumah tangganya dengan Rosa masih bisa diselamatkan atau sudah karam sepenuhnya.

Rosa sudah pergi. Sejak hari pertama ia kembali ke kampung halamannya, wanita itu berhenti menghubunginya. Seolah Zidan tak lebih dari bayangan di masa lalunya—sesuatu  yang tak layak diingat, tak pantas diperjuangkan.

Lalu, Drei… Putrinya itu juga ikut menghilang. Enggan memberitahu keberadaannya, seakan menjadikannya hantu dalam hidupnya sendiri.

Zidan mencari, bertanya, mengemis pada siapa pun yang mungkin tahu. Tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya, di tengah kekacauan yang tak berujung, ia melakukan satu hal yang lebih buruk dari semua yang pernah ia lakukan—menelepon Audrey.

Satu kali panggilan yang seharusnya tak pernah ia lakukan. Satu langkah yang menyeretnya kembali ke dalam pusara yang ia gali sendiri. Dan entah itu keberuntungan atau justru hukuman, Audrey mengabulkan permintaannya.

Audrey datang. Dan Zidan, yang merasa telah menyiapkan segalanya, nyatanya tak bisa berkata apa pun saat wanita itu duduk di hadapannya. Hanya ada gemetar di tangannya, degup yang terlalu kencang di dadanya, dan keheningan yang terlalu menyakitkan.

Ia lemah. Ia rapuh. Ia tersadar bahwa ia masih manusia yang memiliki hati—dan hatinya hancur berkeping-keping di hadapan seorang Audrey yang bahkan tak lagi mau melihatnya sebagai manusia.

Audrey… wanita yang selalu jadi puncak dari segala impian dan penyesalannya. Wanita yang namanya ia sebut dalam doa-doa yang terlambat.

Dulu, ia selalu membanggakan Audrey di hadapan semua orang. Ia adalah pria yang paling beruntung di dunia, pernah memiliki seorang Audrey yang dicintai semua mata, yang dikagumi semua orang.

Dulu, ia pikir ia cukup baik untuk berdiri di samping wanita itu. Tapi ternyata, semua orang benar. Ia tak pernah pantas untuk Audrey. Tak akan pernah.

Zidan menghela napas panjang, menatap kosong meja di hadapannya. “Setidaknya… kamu sudah menerima lukisan itu, Drey.” Gumamnya lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.

 

Di dalam studio kecil yang dipenuhi aroma cat minyak dan terpaan cahaya senja, Zidan duduk tegak di depan kanvasnya. Jemarinya menggenggam kuas dengan erat, sesekali menyapukan warna ke permukaan putih yang mulai dipenuhi gradasi emas dan biru senja.

Di sudut ruangan, Audrey duduk di ambang jendela, kakinya disilangkan, membiarkan angin sore mengibarkan helaian rambutnya. Mata indahnya menelusuri garis-garis langit yang mulai temaram, tapi perhatiannya tak benar-benar ada di sana. Ia lebih tertarik mengamati pria yang tengah sibuk di belakangnya. 

Zidan tampak begitu serius, begitu tenggelam dalam dunianya sendiri. Ada binar di matanya, ada ketekunan dalam setiap goresannya, seolah kanvas itu adalah satu-satunya hal yang penting di dunia ini. Atau mungkin… Audrey-lah satu-satunya hal yang penting.

Lihat selengkapnya