Drei mengelus perutnya yang mulai membesar, jemarinya menyusuri setiap lekuk kehidupan yang sedang tumbuh di dalamnya. Ada kehangatan yang menyelimuti, tetapi juga kesedihan yang mengendap di dasar hatinya.
Tatapan-tatapan penuh tanya dari orang-orang di sekitarnya bukan lagi sesuatu yang bisa dihindari. Setiap bisik-bisik di warung, setiap lirikan penuh arti dari tetangga, semuanya seperti luka kecil yang perlahan mengiris.
Rosa selalu pasang badan. Dengan suara tenang dan wajah yang tegar, ia menciptakan kisah yang bisa menenangkan kehausan orang-orang akan gosip. Ia berkata, suami Drei bekerja di Bandung.
“Ibu,” Drei memecah keheningan. Ia menatap Rosa yang tengah sibuk menjahit, membetulkan robekan di salah satu bajunya. “Apa gak sebaiknya kita pulang aja ke Bandung?”
Rosa tidak langsung menjawab. Jemarinya masih lincah memainkan benang dan jarum, matanya tetap fokus pada pekerjaannya. Lalu, tanpa menoleh, ia bertanya balik, “Emangnya kenapa? Drei mau pindah lagi ke Bandung?”
Drei menggigit bibirnya, menimbang-nimbang. Ia rindu Bandung, tetapi di sana juga ada terlalu banyak kenangan yang ingin ia hindari. Di kampung, hidup lebih tenang, meski penuh tanya.
Ia mengangguk pelan tanpa menjawab. Rosa akhirnya berhenti menjahit, meletakkan jarum dan benangnya ke dalam kotak jahit, lalu melipat rapi baju yang baru saja diperbaikinya.
“Nanti kalau cucu Ibu udah lahir, kita cari kontrakan di sana, ya,” katanya dengan senyum samar.
Drei menatap ibunya penuh tanya. “Loh, emangnya kontrakan kita sebelumnya kenapa, Bu? Bukannya Ayah tinggal di sana?”
Rosa menghela napas panjang. “Ibu mau cari kontrakan yang lebih luas,” jawabnya, suaranya terdengar ringan, tetapi ada sesuatu di balik kalimat itu—sesuatu yang Drei tahu, ia tidak boleh menggali lebih dalam.
Sejurus kemudian, Rosa bangkit dan pergi meninggalkan Drei. Saat melintasi ruang tamu, ia berpapasan dengan Rini yang sudah menunggunya.
“Mbak ngambil tas dulu, ya, Rin,” katanya singkat sebelum masuk ke kamar.
Tak lama kemudian, mereka berdua sudah duduk di dalam mobil, melaju ke tempat tujuan. Keheningan menemani perjalanan mereka hingga akhirnya Rini tak bisa menahan lagi kegelisahannya.
“Mbak, aku masih gak percaya,” katanya lirih, suaranya nyaris tenggelam di antara deru mesin.
Rosa tersenyum pahit, tatapannya menerobos keluar jendela, menatap sesuatu yang jauh, sesuatu yang tak bisa dilihat oleh mata manusia biasa—kenangan yang menyayat, janji-janji yang hancur, dan harapan yang tak pernah berujung.
“Aku juga sama, Rin.”
Rini menghela napas. “Aku tahunya Mas Zidan itu baik. Selalu sayang keluarga, baik sama Bapak dan Ibu....” Ia menggantungkan kalimatnya, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk dilanjutkan. “Aku gak nyangka.”
Rosa menunduk, jemarinya mengusap pergelangan tangannya sendiri, mengingat jejak-jejak yang pernah tertinggal di sana. Luka yang tak selalu terlihat, tetapi nyata.
“Zidan pernah beberapa kali kepergok selingkuh setelah menikah, Rin. Kalau lagi berantem, dia juga kasar sama Mbak.”
Rini membelalakkan mata, terkejut. Tetapi, ia tetap diam, membiarkan Rosa melanjutkan kisah yang selama ini ia pendam sendirian.
“Aku gak pernah cerita, karena itu aib keluargaku. Aku gak mau Zidan jadi jelek di mata kalian. Aku hanya mau menikah satu kali seumur hidup dan itu... sama Zidan,” suaranya bergetar, tetapi tetap tegar.
Keheningan menggantung di udara. Angin yang berhembus melalui celah jendela terasa lebih dingin dari biasanya. “Ini bukan gara-gara Audrey,” Rosa melanjutkan, nadanya lebih dalam. “Ya, mungkin kejadian itu puncaknya. Aku udah capek, Rin. Apalagi, saat aku sama Drei pulang ke Magelang, Zidan bukannya nyari kita. Dia malah nemuin perempuan itu.”
Ada kepedihan yang tak bisa lagi disembunyikan. Seperti benang yang terlalu lama ditarik, hingga akhirnya putus.
Rini hanya bisa menatap kakaknya, matanya ikut berkaca-kaca. Di luar sana, jalanan terus berlari mundur. Seakan membawa pergi semua yang tak ingin dikenang.
“Iya, Drey? Ada apa?”
Suara Rosa terdengar sedikit gemetar. Ia tersentak kaget saat melihat nama Audrey muncul di layar ponselnya. Mereka sudah lama tidak berkomunikasi, bukan? Bahkan, Audrey sendiri yang lebih dulu berkata bahwa lebih baik mereka tak lagi saling menghubungi.
“Saya minta maaf.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Audrey, begitu sederhana namun terasa begitu asing.
“Kenapa?” Rosa hampir berbisik, masih berusaha memahami maksud dari ucapan Audrey.
“Belakangan ini, Zidan terus meneror saya. Ia meminta bertemu, berkali-kali,” Audrey menghela napas panjang. “Saya gak mau ini akhirnya mengganggu rumah tangga saya dan kamu.”
Rosa terdiam. Dunia seperti berhenti berputar sesaat.
Jadi, selama ini Zidan masih menghubungi Audrey? Masih mencarinya, masih mengemis pertemuan darinya? Sedangkan kepada dirinya, Zidan hanya sesekali mengirim pesan seadanya. Bahkan untuk Drei... untuk anaknya sendiri... ia tidak ingat.
Rosa menelan sesak. Ada yang terasa hancur di dalam dadanya, tapi entah bagian yang mana—atau mungkin semuanya.
“Saya putuskan untuk mengabulkan permintaan Zidan,” lanjut Audrey. “Saya akan bertemu dengannya besok. Saya ingin mendengar apa yang sebenarnya ia mau.”
Seperti ada sesuatu yang mencengkeram jantung Rosa begitu keras. Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar, dan dalam sekejap, air mata yang selama ini ia tahan mulai jatuh, satu per satu, membasahi pipinya.
Zidan.
Disaat keluarganya sedang dihantam musibah, di saat dirinya dan Drei sedang mengais-ngais sisa keberanian untuk tetap berdiri, laki-laki itu justru... berlutut di hadapan masa lalunya. Masih adakah ruang tersisa di dalam hatinya yang belum hancur?
“Tapi kalau kamu gak izinkan, saya gak akan berangkat,” kata Audrey, suaranya tetap tenang, tetap datar.
Rosa menarik napas panjang. Dalam keadaan seperti ini, ia harus tetap berdiri tegak. Ia harus belajar melepaskan, meskipun itu terasa seperti merelakan separuh jiwanya sendiri.
“Gak apa-apa, Drey.” Suaranya nyaris tak terdengar.
Di seberang sana, Audrey diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Oke kalau gitu. Cuma itu saja yang mau saya sampaikan. Saya gak mau kamu salah paham lagi nantinya.”
Rosa menutup matanya sesaat. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, begitu banyak perasaan yang ingin ia tumpahkan, tetapi semuanya hanya berujung pada satu kalimat sederhana.
“Makasih ya, Drey.”
Sejenak, Audrey terdiam. “Untuk apa?” tanyanya akhirnya.
“Kamu tahu gak, Rin, apa yang selalu jadi kegundahan aku selama ini?” Rosa menatap lurus ke depan, tapi suaranya terdengar berat, seolah ada sesuatu yang sudah terlalu lama ia pendam.
Rini melirik sekilas, ragu-ragu. “Apa, Mbak?”
Rosa menarik napas, jemarinya saling bertaut di pangkuannya. “Aku dari dulu bertanya-tanya, kenapa Zidan selingkuh dari aku? Aku coba introspeksi diri, aku coba tanya dia juga, tapi jawabannya selalu nggak pernah jelas. Selalu muter-muter, selalu abu-abu.”
Tangannya meraih ponsel, jemarinya bergerak mencari sesuatu. Lalu, dengan gerakan yang hampir tanpa emosi, ia menyodorkan layar itu ke arah Rini. Di sana, terpampang wajah seorang perempuan.
“Ini yang namanya Audrey.”
Rini melirik sekilas ke arah foto itu. Hanya satu detik, tapi cukup baginya untuk mengerti. Wajah itu… cantik. Ada sesuatu dalam tatapannya yang tajam, sesuatu yang sulit diabaikan. Bahkan dalam hatinya pun, Rini harus mengakui—Audrey memiliki pesona yang berbeda.
Rosa tersenyum kecil, tapi senyum itu getir. Penuh luka yang tak terlihat. “Mantan pacar Zidan sebelum aku,” gumamnya. “Nggak ada satu pun yang mirip Audrey.”
Rini mengerutkan kening. “Maksudnya gimana, Mbak?”
Rosa menatap layar ponselnya lama, sebelum akhirnya ia meletakkannya di atas meja. Matanya kosong, suaranya terdengar lebih lirih saat ia melanjutkan,
“Tapi, selingkuhan Zidan... semuanya mirip Audrey.”
Rini membeku.
“Entah itu dari bentuk wajahnya, gaya bicaranya, atau postur tubuhnya.” Rosa mengalihkan tatapannya, memandang jauh ke sudut ruangan, seolah melihat sesuatu yang tak bisa dijangkau oleh orang lain.
“Dia selingkuh karena dia selalu mencari sosok Audrey yang nggak ada di aku.” Kata-kata itu jatuh seperti pisau yang perlahan-lahan merobek kenyataan.
Rini tercekat. Ada sesuatu yang perih dalam caranya memahami kebenaran ini. Kini ia mengerti, mengapa Rosa memilih pergi, mengapa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari pernikahan ini. Mengapa, sedari awal, Rosa seperti berperang sendirian melawan sesuatu yang tak bisa ia lihat—hantu dari masa lalu yang tak pernah benar-benar mati.
Rosa tersenyum kecil, tapi kali ini matanya kosong. “Dia jahat banget, kan, Rin?”
Tapi Rini tidak menjawab. Karena bagaimana mungkin ia bisa menjawab, ketika kata “jahat” pun terasa terlalu sederhana untuk menggambarkan semua ini?
***
“Hasil tes DNA-nya udah keluar.” Suara Nino terdengar berat, seperti beban yang menekan dadanya ikut tertumpah dalam kalimat itu.
Randy terkejut, tapi ia menahan ekspresinya, berusaha tetap tenang. “Lo udah buka, No?” tanyanya, meski dalam hatinya, ia tak yakin ingin tahu jawabannya.
Nino menggeleng. Dengan wajah datar yang menyembunyikan gejolak di dalam dirinya, ia menyodorkan sepucuk amplop putih ke arah Randy.
“Gue sekalian mau ngomong,” ucap Nino tiba-tiba.
Randy meraih amplop itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengepal tanpa sadar. “Apa?”
“Lo tahu kalau Zidan—ayahnya Drei itu... Zidan, ayah kandung Olivia?”
Untuk sesaat, napasnya tercekat, pikirannya berputar tanpa arah. Ia berusaha menyusun kalimat, tapi lidahnya terasa kelu. “Ng... iya, gue tahu.” Jawabannya lirih, ragu-ragu, hampir seperti bisikan yang enggan keluar dari bibirnya.
Tatapan Nino berubah. Ada kemarahan yang mulai merayap di dalamnya. “Kenapa lo gak bilang ke gue?”
Randy terdiam. Ia tahu ini akan datang. Ia tahu cepat atau lambat, kebohongan yang mereka jaga rapat-rapat ini akan retak juga.
Ia menarik napas dalam, menatap Nino lekat-lekat. “Sandreina pertama kali periksa kandungan sama lo. Gue nggak ngomong karena nggak mau sikap lo ke dia jadi beda hanya gara-gara Zidan.” Sebuah kebohongan keluar begitu saja dari bibirnya. “Gue juga yang minta ke semuanya—termasuk Audrey—buat rahasiain ini dari lo.”
Nino mendengus pelan, suaranya dingin. “Ran, gue ini udah puluhan tahun jadi dokter. Nggak mungkin gue bersikap nggak profesional sama pasien.”
Randy tersenyum tipis, nyaris seperti ejekan. “Beda cerita kalau lo dihadapkan langsung sama Zidan.”