Pada akhirnya, manusia hanya bisa tunduk pada dunia. Kita bisa berlari, bisa mengelak, bisa menyalahkan dunia atas segala luka, tapi tak pernah benar-benar bisa lari dari takdir. Sebab hidup ini bukan soal adil atau tidak, tapi soal bagaimana kita bertahan meski segalanya terasa terlalu berat.
Orang-orang bilang, waktu bisa menyembuhkan. Tapi mereka lupa bahwa ada luka yang meski sembuh—tetap menimbulkan cacat yang permanen. Ada bekas luka yang tetap menganga, menjadi tanda bahwa dulu kita pernah dihancurkan.
Jangan terlalu berharap keajaiban akan datang menyelamatkan. Sebab di dunia ini, tidak semua orang mendapatkan penebusan. Tidak semua korban mendapatkan keadilan. Tidak semua pelaku mendapatkan balasan. Tapi jangan pernah lupa: dunia selalu mencatat. Langit tidak pernah lupa.
Karma mungkin berjalan lambat. Tapi ia tidak pernah meleset.
Dan kalau kau bertanya, bagaimana nasib orang-orang dalam kisah ini?