Memasuki musim penghujan tahun ini aku merasa terjebak di tengah-tengah danau. Bisa di bilang bahwa keadaan rumahku saat ini nyaris seperti Pulau Samosir. Ayahku sendiri pergi keluar kota selama sebulan karena tugas kantor sedangkan ibuku, ah, semoga kuburannya tidak kebanjiran. Sialnya beberapa sisi atap rumahku mulai bocor kecil dan baru saja aku bilang begitu pada kalian, telingaku mendengar sesuatu yang sepertinya terlempar dari atas. Tunggu sebentar! Apakah itu jemuran tetanggaku baru saja lepas landas dari lantai dua? Wah, untung tidak ada isinya. Yah, begitulah sedikit kisah tentang angin kencang yang jadi temannya hujan.
Ngomong-ngomong namaku Kala Senja, panggil saja Senja dan aku tidak suka ngopi. Aku Senja, tapi bukan anak senja.
Selama seminggu terakhir yang kulakukan sebagian besar cuma duduk di tepi jendela dan melihat hiruk pikuk masusia menerjang hujan di sana. Tapi untungnya mesin cuciku tak bermasalah sedikitpun sehingga aku tetap bisa memakai kolor yang kering kapan pun aku mau. Kalian tahu, aku cukup kasihan dengan beberapa orang yang sering memakai dua sisi kolornya karena tidak ada satu pun dari kawan-kawannya yang dapat turun dari jemuran. Jika itu aku maka lebih baik aku kolor free saja, biar si Budi lebih bisa berekspresi tanpa terhalang apa pun. Selain itu lebih higienis.
Laki-laki tidak boleh takut kotor? Kata siapa aku takut? Aku cuma tidak mau sakit. Bayangkan saja jika ada yang pergi ke dokter kelamin gara-gara kolor yang kotor, buang-buang uang saja, lebih baik lepas saja kolormu! Betul, aku adalah pendukung aliran kolor free yang anggotanya hanya aku seorang. Sehat itu mahal, Bro! Haha.
Namun, kali ini aku merasa ada yang salah.
Duak! Aku menendang benda itu yang tak mau menyala.
“Sialan.” Aku membuang cucianku ke dalam tabungnya dengan jengkel dan pergi ke dapur. Saat kuperiksa isi kulkas itu masihlah cukup sampai besok dan aku harus mengambil kiriman uang ke atmku segera. Tanganku hanya mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas dan aku meneguknya sampai habis. Sambil duduk di kursi, aku mengecek aktivitas teman-temanku di sosmed. Membuatku iri saja. Foto-foto keren dan status menyenangkan bertebaran di sana, dan ada fanspage penuh meme yang selalu menghiburku. No life?
“Aku bete.” Singkat padat jelas. Status timelineku yang menyedihkan. Tak ada like atau komentar. Wah! Mereka pada kemana sih?
Ting! Satu like dan komentar.
Bayu: Napa gak liburan?
Senja (aku): Gak ada duit.
Bayu: Kerja.
Senja: Iya aku lagi nyari kerjaan.
Bayu: Kerjaan yang prospeknya di rumah? Gila kamu Nja.
Senja: Di rumah gak ada orang bro, kamu gak ada rencana mau main kesini gitu?
Bayu: Kalo gak ujan sih haha.. emang ayahmu kemana?
Senja: Keluar kota. Oh iya kamu lagi ngapain?
Bayu: Ngomentarin status kamu. Kalo kamu?
Senja: Aku mau nyuci tapi mesinnya rusak. Kamu kesini lah, kan teknisi.
Bayu: Teknisi mobil cuk!
Indah: Kalian ini komen-komenan kok kayak chatingan?
Senja: @Indah Lestari Kan sahabat. Heuheuheu..
Bayu: @Indah Lestari Ngapa? Mau ikutan?
Indah: @Bayu Biru Ogah. Kayak gak ada kerjaan aja. @Dikala Senja Woy Nja mesin cucimu apa kabar?
Senja: @Indah Lestari Gak sehat. Si anu gak mau jadi teknisi dadakan nih! Bujuk dong.
Bayu: @Dikala Senja Aku teknisi mobilll....
Indah: @Bayu Biru Ngebengkel?
Bayu: @Indah Lestari Iyalah! Kan punya kerjaan gak kayak si anu.
Senja : @Bayu Biru Tapi aku gak jomblo kayak situ!
Bayu: @Dikala Senja Yaelah tetep aja aku punya kerjaan yang jelas. Gak kayak kamu.
Senja: @Bayu Biru Duitku dah banyak. Bentar interupsi dulu, aku kebelet boker.
Indah: Boker sana!
Bayu: Sok cari alasan.
Aku langsung meletakkan hapeku di atas meja makan dan beranjak menuju mesin cuciku yang kutinggalkan tadi. Pikiranku menjadi jernih dalam sekejap, aku senang karena aku bisa mengingat bahwa mesin cuci itu tak rusak sama sekali, hanya saja aku lupa menancapkannya ke stop kontak.
Ah.