KALA SENJA

Noer Eka
Chapter #3

Kala Senja - Bagian 2

Hari masih hujan.

Terkadang aku berpikir bagaimana kalau aku menjadi seekor kucing. Sepengamatanku pada Nori, kucing rumahan milik tetanggaku selama kurang lebih dua bulan terakhir, aku merasakan kalau makhluk berbulu dan berkaki empat tersebut memiliki hidup yang luar biasa. Melalui korden jendela kuawasi segala tingkah laku Nori yang seburuk-buruknya itu dan pada akhirnya Mbak Lola, pemiliknya, tetap memperlakukan dirinya seperti raja. Kadang aku sempat berpapasan dengan perempuan kantoran single tersebut di jalan. Kurang lebih seperti ini.

“Hai, mbak.” Sapaku dengan senyum ramah.

Mbak Lola, si perempuan berambut pendek nan manis itu hanya membalas dengan senyuman biasa dan tidak menjawab apa pun. Pada awalnya aku yang ingin menanyakan soal kucingnya jadi mengurungkan niat. Itu kali terakhir aku mencoba bicara dengannya. Seingatku hanya tiga kali aku mengajaknya mengobrol tetapi semuanya berakhir dengan senyum tadi.

Aku selalu penasaran.

“Yu, aku mau tanya.” Kataku di telepon, aku tetap duduk di samping gorden yang agak tersingkap sambil menonton si Nori.

“Aku lagi mandi.”

Baik, kumatikan teleponnya sejenak karena biasanya dia akan menelepon lagi. Tapi kutunggu hingga dua jam namanya tidak muncul juga di layar. Apa yang dia lakukan selama dua jam itu? Ada dua kemungkinan, satu terpeleset di lantai dan pingsan, dua terpeleset di lantai dan pingsan lalu mati. Kugelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran yang kurang baik itu, paling dia sedang semedi. Atau sedang sembelit dan butuh pertolonganku? Kalau begitu akan kurekomendasikan sayuran terbaik untuk kesehatan bokongnya.

Jariku kembali memencet nomornya dan kembali memanggil, “Halo, Yu, aku mau tanya.”

Kudengar suara ham hem ham hem dari Bayu di seberang sana, “Apa?”

“Ini soal perempuan.”

“Iya iya, sori aku baru bangun.”

“Jadi kamu akhirnya nggak sembelit?”

“Hah?”

Ya, kadang miskomunikasi diantara kami sering terjadi. Pada akhirnya Bayu memutuskan untuk segera pergi ke rumahku saja. Kalau begitu aku akan mengambil camilan di lemari. Sekitar sepuluh menit kemudian aku mendengar suara motor di depan rumah, aku pun membuka pintu dan kulihat Bayu bersama Indah. Dua sejoli itu, menurutku, lebih baik menikah saja. Meski aku tuan rumah rasanya aku cuma jadi obat nyamuk. Aku tahu meskipun belum ada yang mengungkapkan perasaan satu sama lain, semua tanda-tanda itu begitu jelas seperti perintah Tuhan lewat perantara nabi, namun sebagaimana perintah Tuhan pada umumnya, tidak ada yang mau mengakuinya.

“Yo, kita ngobrol di dalam.” Kata Bayu sambil menyerahkan helmnya padaku dan berjalan masuk.

Senangnya tatkala Indah membelikan sekotak susu soya hanya untukku. Aku tahu kalian berpikir bahwa aku akan jadi tukang tikung, bukan? Tidak, lebih baik aku jadi salmon yang dimangsa beruang ketimbang menjadi pacarnya Indah. Di ruang tamu kusajikan kopi susu untuk mereka berdua, hanya mereka.

“Jadi bagaimana perkembangan hatimu anak muda?” Tanya Bayu dengan nada orang tua.

“Hati?” Aku kebingungan.

“Kamu lagi deket kan sama seseorang.” Indah mulai tersenyum penuh arti.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku sungguh tidak tahu maksudnya.

“Kalian sini deh.” Aku menggiring mereka ke gorden yang menunjukkan rumah Mbak Lola.

“Gila, Senja seleranya wanita dewasa, bohai.” Komentar Bayu saat melihat sosoknya yang keluar sekilas, “I am proud of you.

Lihat selengkapnya