Anomali cuaca! Suhu meningkat drastis hari ini. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari radar hidungku, sepertinya ada yang akan datang sebentar lagi. Oh, aku belum memberitahu kalian soal radarku ini, bukan? Ujung hidungku apabila berwarna kemerahan pasti hari itu akan ada berita besar, dan sepertinya aku lupa menulis hal itu pada chapter sebelumnya. Tentu si Nori, eh Priscilla mengalihkan duniaku. Lain halnya saat hidungku terasa basah tapi tidak pilek, pasti aku aku akan tertimpa kesialan dan rasa malu. Sama, aku juga tidak menuliskannya pada chapter pertama. Gatal, hidungku gatal sekali.
"Assalamualaikum."
"Huachih! Waalaikumsalam."
Betul, kan?
Aku membuka pintu dan kulihat si teknisi mobil datang dengan keringat bercucuran di dahi. "Nja, nggak ngotak panasnya!" seru Bayu sambil nyelonong masuk.
"Tidak sepanas neraka, brother." Kataku sambil menutup pintu.
"Kok tahu? Alumni ya?"
"Iya."
Tanpa menoleh pun aku tahu kalau si teknisi mobil tersebut sedang kesal, ya hiburan kecil untuk hari-hariku yang membosankan. Seperti biasa aku menawarkan minum kopi atau teh, dan Bayu meminta es cendol. Hm, baiklah.
"Kok air putih?" Tanyanya bingung.
"Adanya itu."
"Oh, makasih." Bayu langsung meminumnya sampai habis.
"Iya, sama-sama."
Jadi maksud kedatangan Bayu hari ini adalah untuk mengajakku liburan bersama ke danau Seribu Warna.
"Aku nggak menerima penolakan kayak kemarin-kemarin, Nja." Kata Bayu sambil menatapku dengan wajah serius, "Kamu sudah terlalu lama jadi penunggu rumah ini."
"Jadi kamu ngganggap aku setan? Begitu?"
"Iya."
Aku menghela napas, "Males, tidak ada tempat senyaman rumah."
"Kampret!"
Huh, aku benar kan? Lagipula apa untungnya pergi keluar pada masa-masa begini? Maksudku, cuaca yang tidak menentu dan kadang meleset dari ramalan. Belum lagi kotor. Banyak. Lebih baik di rumah saja.
"Adiknya Tris ikut."
Aku mengangkat sebelah alisku mendengarnya, kulihat Bayu tersenyum licik.
"Adiknya Tristan, si Bella." Tambahnya.
Sial. Aku terdiam sebentar memikirkannya. Baiklah kawan, kuberitahu siapa itu Bella. Dia seorang remaja cantik yang usianya tiga tahun dibawah kami, alias masih SMA kelas satu. Terakhir kali aku melihatnya adalah saat bekerja kelompok di rumah Tristan setahun lalu. Si kampret satu ini tahu bahwa aku agak tertarik padanya. Bayu masih tersenyum licik menunggu jawabanku.
"Nggak." Jawabku ketus.
Ha! Bayu mulai kecewa, memang semudah itu kah mengajakku keluar? Jangan harap!
Tetapi dia masih belum menyerah, "Aku traktir susu soya sebulan."