Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Quhafah. Ia lebih dikenal sebagai Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat terdekat Nabi Muhammad ﷺ dan khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah. Ia lahir sekitar dua tahun lebih muda dari Nabi, berasal dari kabilah Quraisy, Bani Taim. Sejak muda ia dikenal sebagai pedagang yang jujur, berakhlak lembut, dan memiliki reputasi baik di tengah masyarakat Makkah. Tidak tercatat ia pernah menyembah berhala atau terlibat dalam kebiasaan jahiliah yang buruk. Integritasnya telah terbentuk bahkan sebelum cahaya Islam menyapanya.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu pertama dan menyampaikan risalah tauhid secara terbatas, Abu Bakar termasuk orang yang pertama kali diajak. Responsnya tidak ditandai perdebatan panjang atau tuntutan pembuktian rasional. Ia menerima dengan keyakinan penuh. Dalam riwayat-riwayat klasik seperti yang dicatat oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisham, disebutkan bahwa ia tidak pernah meragukan satu pun perkataan Rasulullah. Dari keteguhan itulah ia diberi gelar “Ash-Shiddiq” — orang yang membenarkan sepenuhnya.
Keimanannya segera menjelma menjadi tindakan nyata. Ia tidak hanya memeluk Islam secara pribadi, tetapi juga mengajak orang-orang terdekatnya. Melalui dakwahnya, beberapa tokoh besar masuk Islam, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Kontribusinya pada fase awal Islam sangat strategis. Ia bukan sekadar pengikut; ia adalah penguat fondasi.